← Beranda
8 Kebiasaan Anak yang Dibesarkan Orang Tua Tanpa Kehidupan Sosial Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalSelasa, 15 September 2026 | 18.09 WIB
Kebiasaan anak yang dibesarkan orang tua tanpa kehidupan sosial menurut psikologi./Magnific/karlyukav

JawaPos.com - Psikologi menjelaskan bahwa kebanyakan orang baru menyadari pengaruh besar pola asuh orang tua setelah dewasa.

Anak-anak prasekolah cenderung mengikuti setiap tindakan orang tuanya meski tindakan tersebut sebenarnya kurang masuk akal.

Pengaruh perilaku orang tua ini tetap terbawa hingga anak tumbuh dewasa meski tidak lagi meniru secara langsung.

Dilansir dari laman YourTango pada  Minggu (13/9), berikut delapan kebiasaan yang biasa dibawa hingga dewasa oleh anak yang dibesarkan orang tua tanpa kehidupan sosial.

1. Kemandirian berlebihan yang mengarah pada isolasi diri

Anak yang terbiasa melihat orang tuanya menyelesaikan segala sesuatu sendiri cenderung meniru pola pikir tersebut.

Kemandirian sebenarnya menjadi sifat positif, namun berlebihan justru dapat menghambat terbentuknya ikatan sosial yang sehat.

Perasaan hanya bisa mengandalkan diri sendiri membuat mereka menahan diri dalam menjalin hubungan dengan orang lain.

Mereka cenderung enggan meminta bantuan meski sangat membutuhkannya demi kesejahteraan dirinya sendiri.

2. Canggung secara sosial hingga muncul rasa takut berlebihan

Kecemasan sosial ternyata dapat diturunkan baik melalui faktor genetik maupun perilaku yang dipelajari sejak kecil.

Anak yang jarang berada di sekitar kelompok orang cenderung mengembangkan ketakutan terhadap situasi sosial tertentu.

Rasa takut ini membuat mereka berusaha menghindari situasi sosial dengan berbagai cara yang mereka temukan.

Menunjukkan perilaku sosial yang autentik dari orang tua dapat membantu anak mengatasi rasa canggung tersebut.

3. Kecenderungan terlalu keras terhadap diri sendiri

Lingkungan yang terisolasi dapat membuat seseorang menjadi sangat kritis terhadap dirinya saat berada bersama orang lain.

Rasa takut dihakimi membuat mereka terus-menerus memikirkan ulang setiap kata yang diucapkan dalam interaksi sosial.

Kondisi ini membuat mereka lebih mudah terpicu ketika menerima kritik dari orang lain di sekitarnya.

Bias negatif membuat mereka merasa buruk tentang dirinya dibanding mempertimbangkan niat baik di balik kritik tersebut.

4. Sikap introver yang sangat ekstrem

Orang tua yang kurang bersosialisasi dapat memengaruhi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang sangat introver.

Mereka cenderung merasa lelah setelah berbicara atau menghabiskan waktu bersama orang lain di sekitarnya.

Kelelahan sosial ini membuat mereka mudah merasa terganggu serta frustrasi dalam interaksi sehari-hari.

Ketidakterbiasaan menghabiskan waktu bersama orang lain membuat mereka lebih memilih menarik diri untuk menghindarinya.

5. Lingkaran pertemanan yang sangat terbatas

Seseorang yang kesulitan berada di tengah kelompok besar cenderung menjaga lingkaran pertemanannya tetap kecil.

Ketika menemukan orang yang membuatnya nyaman, mereka sering menjadi sangat melekat pada orang tersebut.

Ketergantungan berlebihan pada beberapa orang saja menjadi pola yang umum ditemukan pada mereka.

Mereka mengandalkan orang tersebut bahkan untuk hal kecil yang sebenarnya terasa sepele bagi kebanyakan orang.

6. Preferensi kuat terhadap ruang yang kecil dan familiar

Sebagian orang lebih memilih berada di rumah dibanding tempat lain mana pun yang tersedia.

Anak yang dibesarkan oleh orang tua penyendiri cenderung tumbuh dengan kebiasaan serupa tersebut.

Rasa aman tidak selalu berasal dari rumah, melainkan dari tempat yang sudah familiar bagi mereka.

Mengunjungi tempat yang sama secara berulang membantu mereka menghindari situasi sosial yang tidak terduga.

7. Kesulitan memahami dinamika dalam sebuah kelompok

Dinamika kelompok tidak selalu mudah dipahami, bahkan bagi kebanyakan orang pada umumnya sekalipun.

Anak yang dibesarkan jauh dari kelompok sosial sering kesulitan menemukan posisinya dalam situasi tersebut.

Mereka cenderung memilih untuk sepenuhnya menghindari situasi kelompok dibanding berusaha ikut terlibat di dalamnya.

Padahal interaksi dalam kelompok dapat meningkatkan rasa percaya diri serta mempererat hubungan dengan orang lain.

8. Kecenderungan mengamati dibanding ikut berpartisipasi

Orang yang kesulitan menghadapi dinamika kelompok sering memilih menjadi pengamat dibanding terlibat langsung.

Sikap diam ini terkadang dianggap tidak sopan meski sebenarnya berasal dari kesulitan berinteraksi yang dialaminya.

Kondisi ini muncul karena mereka tidak dibesarkan dalam lingkungan yang terbiasa dengan interaksi sosial.

Mereka lebih memilih mundur dan membiarkan orang lain yang lebih nyaman mengambil kendali situasi tersebut.

EDITOR: Hanny Suwindari