← Beranda
7 Pola Asuh Keras yang Harus Dihindari karena Membahayakan Anak Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?
Irfan FerdiansyahSelasa, 8 September 2026 | 20.38 WIB
seseorang yang memarahi anak dengan keras./ Magnific/pixelstudio

JawaPos.com - Mendidik anak memang membutuhkan aturan, batasan, dan konsekuensi. Namun, ada perbedaan besar antara disiplin yang sehat dan pola asuh keras yang membuat anak merasa takut, tertekan, atau tidak berharga.

Sebagian orang tua mungkin tumbuh dengan keyakinan bahwa anak harus "keras supaya kuat". Anak yang membantah dianggap kurang ajar, anak yang menangis dianggap cengeng, sementara hukuman berat dianggap sebagai cara paling efektif agar anak jera.

Padahal, dari sudut pandang psikologi perkembangan, cara orang tua merespons kesalahan anak dapat memengaruhi bagaimana anak memandang dirinya sendiri, mengelola emosi, membangun hubungan, dan menghadapi masalah ketika tumbuh dewasa.

Penting untuk dipahami bahwa orang tua tidak harus selalu lembut tanpa aturan. Anak justru membutuhkan struktur dan batasan yang jelas. Yang perlu dihindari adalah ketika aturan ditegakkan melalui rasa takut, penghinaan, ancaman, atau kekerasan.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (6/9), terdapat tujuh pola asuh keras yang sebaiknya dihindari.

1. Sering Membentak dan Berteriak kepada Anak

Sesekali orang tua kehilangan kesabaran adalah hal yang manusiawi. Namun, ketika membentak menjadi cara utama untuk mengendalikan perilaku anak, masalahnya menjadi berbeda.

Kalimat seperti:

"Diam!"
"Kamu memang susah dibilangin!"
"Berapa kali Mama harus bilang?"
"Kalau tidak menurut, kamu akan lihat akibatnya!"
"Jangan bikin Ayah marah!"

mungkin membuat anak berhenti melakukan sesuatu pada saat itu. Akan tetapi, berhentinya perilaku bukan berarti anak memahami alasan di balik aturan.

Anak bisa saja belajar bahwa orang yang lebih kuat berhak berteriak kepada orang yang lebih lemah.

Bentakan yang berulang juga dapat membuat rumah terasa seperti tempat yang tidak aman secara emosional. Anak mungkin menjadi sangat waspada terhadap ekspresi wajah, suara, atau suasana hati orang tua.

Akibatnya, anak bisa lebih fokus pada pertanyaan, "Bagaimana supaya aku tidak dimarahi?" daripada, "Mengapa perilakuku salah dan apa yang seharusnya kulakukan?"

Apa yang sebaiknya dilakukan?

Orang tua tetap boleh berbicara tegas. Bedanya, ketegasan tidak harus disertai penghinaan atau teriakan.

Misalnya, daripada:

"Jangan pernah berantakin mainan lagi! Kamu memang tidak pernah mau dengar!"

lebih baik:

"Mainan perlu dibereskan setelah selesai digunakan. Sekarang kita bereskan bersama."

Pesannya tetap tegas, tetapi anak mendapatkan informasi mengenai perilaku yang diharapkan, bukan serangan terhadap dirinya.

2. Menghina, Mempermalukan, atau Memberi Label Negatif

Salah satu pola asuh yang berbahaya adalah menyerang identitas anak ketika ia melakukan kesalahan.

Contohnya:

"Kamu bodoh."
"Kamu malas."
"Kamu memang nakal."
"Adikmu saja bisa, kenapa kamu tidak?"
"Memalukan sekali punya anak seperti kamu."
"Kamu tidak akan jadi apa-apa kalau terus begini."

Masalahnya bukan hanya pada kata-katanya. Anak kecil masih sedang membangun pemahaman mengenai siapa dirinya.

Ketika orang tua berulang kali mengatakan bahwa anak "malas", "bodoh", atau "nakal", anak berisiko menginternalisasi label tersebut.

Ada perbedaan besar antara mengatakan:

"Perbuatanmu salah."

dan:

"Kamu anak yang salah."

Yang pertama mengevaluasi perilaku. Yang kedua menyerang identitas.

Dalam pengasuhan sehat, kesalahan seharusnya menjadi kesempatan untuk belajar. Anak perlu memahami bahwa ia bisa melakukan kesalahan tanpa menjadi manusia yang buruk.

Bagaimana mengubahnya?

Fokuskan kritik pada perilakunya.

Daripada:

"Kamu memang malas belajar."

katakan:

"Hari ini tugasmu belum selesai. Mari kita cari tahu apa yang membuatmu kesulitan mengerjakannya."

Dengan demikian, anak belajar bahwa masalah adalah sesuatu yang dapat diperbaiki.

3. Mengancam Anak dengan Ketakutan agar Menurut

Ancaman sering terasa efektif karena anak langsung menurut. Namun, kepatuhan yang muncul karena ketakutan berbeda dengan kepatuhan yang lahir dari pemahaman.

Contohnya:

"Kalau kamu tidak berhenti menangis, Mama tinggal!"

"Kalau kamu tidak menurut, Ayah akan memberikan kamu kepada orang lain."

"Nanti ada polisi yang menangkap kamu."

"Kalau nilaimu jelek, kamu bukan anak Ayah lagi."

Bagi orang dewasa, sebagian kalimat tersebut mungkin dianggap sekadar gertakan. Bagi anak, terutama anak kecil, ancaman kehilangan kasih sayang atau ditinggalkan dapat terasa sangat nyata.

Anak bergantung kepada orang tua untuk rasa aman. Karena itu, ancaman terhadap hubungan tersebut dapat menjadi sangat menakutkan.

Anak seharusnya tidak perlu merasa bahwa cinta orang tua hanya tersedia ketika ia berperilaku sesuai keinginan orang tua.

Apa alternatifnya?

Gunakan konsekuensi yang masuk akal dan berhubungan dengan perilaku.

Misalnya:

"Kalau kamu melempar mainan, mainannya akan disimpan dulu. Kamu boleh menggunakannya lagi ketika sudah siap bermain dengan aman."

Anak mendapatkan batasan yang jelas tanpa harus dibuat takut kehilangan orang tuanya.

4. Menggunakan Hukuman Fisik sebagai Cara Utama Mendisiplinkan

Memukul, mencubit, menjewer, menampar, atau bentuk kekerasan fisik lainnya sering dibenarkan dengan alasan:

"Saya dipukul waktu kecil dan saya baik-baik saja."

Namun, pengalaman seseorang tidak otomatis membuktikan bahwa metode tersebut merupakan metode pengasuhan yang sehat.

Hukuman fisik dapat membuat anak takut terhadap orang tua dan mengajarkan pesan yang keliru: ketika seseorang lebih kuat, ia boleh menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah.

Anak juga dapat belajar menyembunyikan kesalahan agar tidak dihukum, bukan belajar bertanggung jawab atas kesalahannya.

Ada perbedaan antara konsekuensi dan kekerasan.

Konsekuensi bertujuan membantu anak memahami hubungan antara tindakan dan akibatnya. Kekerasan bertujuan membuat anak menderita atau takut agar tunduk.

Disiplin yang sehat tidak membutuhkan rasa sakit sebagai alat utama.

Jika orang tua sudah terlanjur memukul?

Hal terpenting adalah menghentikan siklus tersebut.

Orang tua dapat mengakui kesalahan:

"Tadi Ayah memukul kamu karena Ayah marah. Itu bukan cara yang benar untuk menyelesaikan masalah. Ayah minta maaf."

Meminta maaf tidak membuat orang tua kehilangan wibawa. Justru anak belajar bahwa orang dewasa pun bertanggung jawab atas kesalahannya.

5. Membandingkan Anak dengan Saudara atau Anak Lain

"Kenapa kamu tidak seperti kakakmu?"

"Lihat temanmu, nilainya bagus."

"Adikmu lebih penurut."

"Anak tetangga saja bisa."

Kalimat seperti ini mungkin dimaksudkan untuk memotivasi. Sayangnya, perbandingan berulang dapat membuat anak merasa bahwa dirinya selalu kalah.

Anak akhirnya tidak hanya memikirkan apakah dirinya berhasil atau gagal, tetapi juga apakah dirinya cukup berharga dibandingkan orang lain.

Dalam keluarga dengan beberapa anak, perbandingan juga dapat menumbuhkan persaingan yang tidak sehat.

Anak bisa mulai melihat saudara bukan sebagai teman, tetapi sebagai kompetitor yang harus dikalahkan untuk mendapatkan perhatian dan penghargaan orang tua.

Bagaimana cara memotivasi tanpa membandingkan?

Bandingkan anak dengan perkembangan dirinya sendiri.

Misalnya:

"Bulan lalu kamu masih kesulitan membaca paragraf panjang. Sekarang kamu sudah bisa menyelesaikannya sendiri."

Pesan tersebut membantu anak melihat bahwa keberhasilan tidak harus berarti mengalahkan orang lain.

6. Menuntut Anak Selalu Sempurna dan Tidak Boleh Gagal

Orang tua tentu ingin anaknya berhasil. Masalah muncul ketika harapan berubah menjadi tuntutan bahwa anak tidak boleh salah.

Anak mungkin mendapat nilai 95, tetapi yang ditanyakan justru:

"Kenapa tidak 100?"

Anak memenangkan perlombaan, tetapi orang tua berkata:

"Seharusnya kamu bisa lebih cepat."

Anak sudah berusaha, tetapi yang terlihat hanya kekurangannya.

Jika pola ini terus berlangsung, anak dapat belajar bahwa penghargaan dari orang tua bergantung pada pencapaian.

Akibatnya, kegagalan bukan lagi dianggap sebagai bagian normal dari proses belajar. Kegagalan terasa seperti ancaman terhadap harga diri.

Anak bisa menjadi sangat takut mencoba sesuatu yang baru karena berpikir:

"Kalau aku gagal, aku akan mengecewakan orang tuaku."

Padahal, kemampuan menghadapi kegagalan merupakan bagian penting dari perkembangan psikologis.

Orang tua bisa mengatakan:

"Kamu belum berhasil kali ini. Tidak apa-apa. Menurutmu bagian mana yang paling sulit?"

Kalimat tersebut mengubah kegagalan menjadi bahan evaluasi.

Anak belajar bahwa gagal bukan akhir dari segalanya.

7. Mengabaikan atau Meremehkan Emosi Anak

Pola asuh keras tidak selalu berbentuk bentakan atau hukuman. Kadang-kadang bentuknya adalah menolak emosi anak.

Misalnya ketika anak menangis, orang tua berkata:

"Sudah, jangan cengeng."
"Begitu saja menangis."
"Tidak ada yang perlu ditangisi."
"Kamu terlalu sensitif."
"Anak laki-laki tidak boleh menangis."
"Mama lebih capek daripada kamu."

Anak memang perlu belajar bahwa tidak semua keinginan bisa dipenuhi. Namun, belajar menerima batasan berbeda dengan belajar bahwa emosinya tidak penting.

Anak dapat kecewa ketika tidak mendapatkan sesuatu. Ia dapat marah ketika merasa diperlakukan tidak adil. Ia dapat takut ketika menghadapi sesuatu yang baru.

Tugas orang tua bukan menghilangkan semua emosi tersebut, melainkan membantu anak mengenali, memahami, dan mengelolanya.

Validasi bukan berarti memanjakan

Ini merupakan hal penting.

Mengakui emosi anak tidak berarti orang tua harus mengabulkan keinginannya.

Contohnya:

"Kamu kecewa karena sekarang waktunya berhenti bermain. Mama tahu kamu masih ingin bermain. Tapi waktunya memang sudah selesai."

Orang tua tetap menetapkan batasan.

Anak belajar dua hal sekaligus:

"Perasaanku boleh ada."

dan

"Aku tetap harus mengikuti aturan."

Inilah salah satu perbedaan penting antara pengasuhan yang responsif dan pengasuhan yang permisif.

Mengapa Pola Asuh Keras Bisa Berdampak Panjang?

Anak tidak hanya belajar dari nasihat yang diberikan orang tua. Anak juga belajar dari cara orang tua memperlakukannya.

Jika setiap kesalahan mendapatkan penghinaan, anak dapat belajar bahwa kesalahan adalah sesuatu yang memalukan.

Jika konflik selalu diselesaikan dengan teriakan, anak dapat belajar bahwa teriakan adalah cara berkomunikasi.

Jika kasih sayang terasa bergantung pada prestasi, anak dapat mengembangkan keyakinan bahwa dirinya harus selalu berprestasi agar layak dicintai.

Jika masalah diselesaikan dengan kekerasan, anak dapat menganggap kekuatan fisik sebagai alat untuk mengontrol orang lain.

Karena itu, pola pengasuhan dapat memengaruhi bukan hanya perilaku anak hari ini, tetapi juga bagaimana ia membangun hubungan dan menghadapi konflik di kemudian hari.

Disiplin Tetap Penting

Menghindari pola asuh keras bukan berarti membiarkan anak melakukan apa saja.

Anak tetap membutuhkan:

aturan yang jelas,
batasan,
rutinitas,
konsekuensi,
tanggung jawab,
koreksi ketika melakukan kesalahan,
dan orang tua yang konsisten.

Yang perlu diubah adalah cara batasan tersebut diberikan.

Bayangkan dua orang tua menghadapi anak yang melempar mainan.

Orang tua pertama berkata:

"Dasar anak nakal! Kalau kamu berani lempar lagi, Ayah pukul!"

Orang tua kedua berkata:

"Mainan tidak boleh dilempar karena bisa melukai orang. Kalau kamu melempar lagi, mainannya akan disimpan."

Keduanya sama-sama menetapkan batasan.

Tetapi cara kedua mengajarkan sesuatu yang lebih konstruktif: perilaku apa yang salah, mengapa salah, dan apa konsekuensinya.

Orang Tua Tidak Harus Sempurna

Ada satu hal yang sering terlupakan dalam pembahasan mengenai pola asuh: orang tua juga manusia.

Ayah dan ibu bisa lelah. Bisa frustrasi. Bisa salah bicara. Bisa kehilangan kesabaran.

Tujuan pengasuhan sehat bukan menjadi orang tua yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Tujuannya adalah mampu memperbaiki hubungan setelah terjadi kesalahan.

Jika suatu hari orang tua membentak anak, orang tua dapat kembali ketika sudah tenang dan mengatakan:

"Tadi suara Ayah terlalu keras. Ayah sedang marah, tetapi Ayah seharusnya tidak membentak seperti itu. Maaf."

Kemudian pembicaraan dapat dilanjutkan:

"Sekarang mari kita bicarakan apa yang sebenarnya terjadi."

Dengan cara ini, anak belajar bahwa konflik tidak harus berakhir dengan ketakutan atau dendam. Konflik dapat diperbaiki melalui komunikasi dan tanggung jawab.

Kesimpulan

Pola asuh yang keras sering kali muncul dari niat yang sebenarnya baik: orang tua ingin anak disiplin, mandiri, kuat, dan berhasil.

Namun, niat yang baik tidak selalu membuat metode yang digunakan menjadi baik.

Membentak, mempermalukan, mengancam, menggunakan kekerasan fisik, membandingkan, menuntut kesempurnaan, serta meremehkan emosi anak dapat memberikan dampak yang tidak diinginkan terhadap perkembangan psikologis mereka.

Disiplin yang sehat tidak harus membuat anak takut kepada orang tuanya.

Justru, tujuan pengasuhan adalah membantu anak memahami batasan, bertanggung jawab atas perilakunya, mengelola emosi, dan secara perlahan mampu mengambil keputusan yang baik tanpa harus selalu dikendalikan oleh rasa takut.

Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna.

Mereka membutuhkan orang tua yang cukup konsisten, mau mendengarkan, mampu menetapkan batasan, berani mengakui kesalahan, dan tetap memberikan rasa aman ketika anak melakukan kesalahan.

Karena anak yang tumbuh dengan batasan yang sehat tidak harus tumbuh dalam ketakutan.

Ia dapat belajar bahwa disiplin dan kasih sayang bisa hadir bersamaan.

EDITOR: Hanny Suwindari