← Beranda
Jika Si Kecil Sering Menunda-nunda dalam Beberapa Hal, Coba Lakukan 7 Cara Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahKamis, 3 September 2026 | 06.50 WIB
seseorang yang memiliki anak yang sering menunda-nunda ./Magnific/jiboom

JawaPos.com - Pernahkah Ayah dan Bunda meminta si kecil merapikan mainan, mandi, makan, mengerjakan tugas, atau bersiap tidur, tetapi jawabannya selalu sama?

“Nanti dulu.”

“Sebentar lagi.”

“Lima menit lagi.”

Namun, lima menit berubah menjadi dua puluh menit. Ketika akhirnya diminta lagi, si kecil justru terlihat kesal, mencari alasan lain, atau malah melakukan aktivitas yang berbeda.

Situasi seperti ini cukup sering terjadi dalam keseharian orang tua. Tidak jarang, kebiasaan menunda membuat orang tua kehilangan kesabaran. Anak kemudian dianggap malas, tidak disiplin, keras kepala, atau sengaja tidak mau mendengarkan.

Padahal, anak yang sering menunda belum tentu sedang malas atau sengaja membangkang.

Dalam perspektif psikologi perkembangan, kemampuan anak untuk mengatur waktu, mengendalikan dorongan, memulai tugas, dan berpindah dari aktivitas yang menyenangkan ke aktivitas yang kurang menyenangkan masih berkembang. Karena itu, sesuatu yang bagi orang dewasa terasa sederhana—seperti “ayo sekarang mandi”—bisa terasa jauh lebih sulit bagi anak.

Alih-alih langsung memarahi atau memberi label “pemalas”, orang tua dapat mencoba memahami apa yang membuat anak menunda dan membantu mereka membangun keterampilan untuk memulai sesuatu.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (2/9), terdapat tujuh cara yang bisa dicoba.

1. Cari tahu alasan di balik kebiasaan menundanya

Hal pertama yang perlu dilakukan bukanlah memaksa anak segera bergerak, melainkan mencari tahu mengapa ia menunda.

Anak bisa menunda karena berbagai alasan.

Misalnya, ia sedang asyik bermain sehingga sulit menghentikan aktivitasnya. Bisa juga karena tugas yang diberikan terasa terlalu sulit, membosankan, terlalu banyak, atau anak belum tahu harus mulai dari mana.

Pada situasi tertentu, anak juga mungkin menunda karena merasa cemas akan melakukan kesalahan.

Bayangkan seorang anak mendapatkan tugas sekolah yang menurutnya sulit. Ketika orang tua berkata, “Ayo dikerjakan sekarang,” ia menjawab, “Nanti saja.”

Dari luar, perilaku tersebut tampak seperti kemalasan. Namun, sebenarnya ia mungkin sedang menghindari perasaan tidak nyaman karena tidak tahu bagaimana menyelesaikan tugas tersebut.

Karena itu, cobalah mengganti pertanyaan:

“Kenapa sih kamu selalu lama?”

dengan pertanyaan yang lebih membantu:

“Bagian mana yang bikin kamu susah mulai?”

atau:

“Kamu bingung mulai dari mana?”

Pertanyaan seperti ini membantu orang tua melihat masalah dari sudut pandang anak.

Jangan buru-buru memperbaiki perilakunya sebelum memahami penyebabnya.

Ketika penyebabnya diketahui, strategi yang digunakan pun bisa menjadi lebih tepat.

2. Pecah tugas besar menjadi langkah-langkah kecil

Salah satu alasan anak menunda adalah karena tugas terasa terlalu besar.

Bagi orang dewasa, “rapikan kamar” mungkin terdengar sederhana. Bagi anak, perintah tersebut bisa berarti banyak hal sekaligus: mengambil mainan, memasukkan buku, melipat pakaian, merapikan tempat tidur, dan sebagainya.

Akibatnya, anak tidak tahu harus mulai dari mana.

Daripada mengatakan:

“Ayo, rapikan kamarmu sekarang!”

cobalah membuat tugas menjadi lebih kecil.

Misalnya:

“Kita mulai dari memasukkan semua mobil-mobilan ke kotak dulu.”

Setelah selesai:

“Sekarang kita kumpulkan bukunya.”

Kemudian lanjutkan ke langkah berikutnya.

Pendekatan ini membantu mengurangi beban mental yang dirasakan anak.

Hal serupa bisa diterapkan pada pekerjaan rumah. Jika anak mendapatkan beberapa soal, jangan selalu meminta ia menyelesaikan semuanya sekaligus.

Cobalah:

“Kita kerjakan tiga soal pertama dulu, ya.”

Setelah tiga soal selesai, anak mendapatkan pengalaman bahwa tugas tersebut ternyata bisa diselesaikan.

Tujuannya bukan membuat anak bergantung pada instruksi orang tua, tetapi secara bertahap mengajarkan keterampilan memulai, memecah masalah, dan menyelesaikan tugas.

3. Berikan pilihan terbatas, bukan perintah tanpa ruang untuk memilih

Anak sering kali ingin memiliki rasa kendali atas dirinya sendiri. Ketika hampir semua aktivitas ditentukan oleh orang tua, penolakan dapat menjadi salah satu cara anak menunjukkan kemandirian.

Karena itu, memberikan pilihan sederhana dapat membantu.

Misalnya:

“Kamu mau mandi sekarang atau setelah membereskan mobil-mobilan?”

Atau:

“Mau mengerjakan PR sebelum makan atau setelah makan?”

Perhatikan bahwa orang tua tetap menentukan batasannya. Anak tidak diberikan pilihan untuk tidak melakukan tugas sama sekali.

Ia hanya diberi kesempatan memilih bagaimana atau kapan dalam batas yang sudah ditentukan.

Cara ini dapat membuat anak merasa lebih memiliki kendali.

Namun, jangan memberikan terlalu banyak pilihan. Dua pilihan yang jelas biasanya sudah cukup.

Alih-alih:

“Kamu mau mandi kapan?”

lebih baik:

“Mau mandi sekarang atau lima menit lagi?”

Dengan begitu, anak tetap belajar bahwa ada hal-hal yang memang perlu dilakukan, tetapi ia juga diberi kesempatan mengambil keputusan kecil.

4. Gunakan rutinitas agar anak tidak harus terus-menerus diingatkan

Jika setiap hari orang tua harus mengatakan:

“Sudah mandi?”

“Sudah makan?”

“Sudah sikat gigi?”

“Sudah siap tidur?”

maka aktivitas sehari-hari bisa berubah menjadi rangkaian negosiasi yang melelahkan.

Salah satu solusi adalah membuat rutinitas yang konsisten.

Misalnya rutinitas malam:

Merapikan mainan → mandi → memakai piyama → makan malam → membaca buku → tidur.

Jika pola tersebut dilakukan secara konsisten, anak lama-kelamaan dapat memahami urutan aktivitas tanpa harus selalu mendapatkan perintah baru.

Rutinitas juga membantu mengurangi kebutuhan anak untuk mengambil keputusan berulang-ulang.

Orang tua dapat menggunakan gambar atau daftar sederhana jika anak masih kecil. Misalnya, gambar:

🧸 bereskan mainan
🛁 mandi
👕 pakai baju tidur
🪥 sikat gigi
📖 membaca buku
😴 tidur

Dengan cara tersebut, orang tua tidak selalu menjadi “pengingat berjalan”.

Anak perlahan belajar melihat rutinitasnya sendiri dan memahami apa yang harus dilakukan berikutnya.

5. Berikan peringatan sebelum berpindah aktivitas

Coba bayangkan Anda sedang melakukan sesuatu yang sangat menyenangkan, kemudian seseorang tiba-tiba berkata:

“Sekarang berhenti. Kita pergi.”

Mungkin Anda juga akan merasa terganggu.

Anak dapat mengalami hal serupa, bahkan lebih kuat, karena kemampuan mengatur emosi dan berpindah perhatian masih berkembang.

Karena itu, daripada memberikan perintah mendadak, berikan peringatan transisi.

Contohnya:

“Lima menit lagi waktu bermain selesai, setelah itu kita mandi.”

Kemudian:

“Dua menit lagi, ya. Setelah ini kita bereskan mainannya.”

Setelah waktunya tiba:

“Sekarang waktunya berhenti bermain. Yuk, kita simpan mainannya.”

Peringatan seperti ini membantu anak mempersiapkan diri secara mental untuk berpindah dari aktivitas yang disukai ke aktivitas berikutnya.

Strategi ini sangat berguna terutama ketika anak sedang bermain, menonton, atau melakukan aktivitas yang sangat ia sukai.

6. Berikan apresiasi pada proses, bukan hanya hasil

Ketika anak akhirnya melakukan sesuatu yang selama ini sering ia tunda, jangan hanya memperhatikan apakah hasil akhirnya sempurna.

Perhatikan juga usahanya untuk memulai.

Misalnya, anak biasanya membutuhkan waktu lama untuk mengerjakan PR, tetapi hari ini ia langsung mengambil buku dan mulai mengerjakan.

Orang tua bisa mengatakan:

“Bunda lihat kamu langsung mulai mengerjakannya. Hebat, kamu sudah berusaha memulai sendiri.”

Pujian seperti ini lebih spesifik daripada sekadar:

“Anak pintar.”

Mengapa?

Karena anak mendapatkan informasi yang jelas mengenai perilaku yang ingin diperkuat: kemauan untuk memulai dan berusaha.

Apresiasi juga tidak harus selalu berupa hadiah.

Senyuman, pelukan, perhatian, atau kalimat sederhana seperti:

“Terima kasih sudah langsung merapikan setelah bermain.”

bisa menjadi bentuk penguatan positif.

Yang penting, hindari menjadikan setiap aktivitas sebagai transaksi:

“Kalau kamu mandi, nanti Bunda kasih hadiah.”

Sesekali memberikan penghargaan tentu bisa dilakukan, tetapi dalam jangka panjang anak juga perlu belajar bahwa menyelesaikan tugas merupakan bagian dari tanggung jawabnya.

7. Jadilah contoh dalam menghadapi kebiasaan menunda

Anak tidak hanya belajar dari nasihat.

Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari.

Jika orang tua sering berkata:

“Nanti saja.”

“Besok aja.”

“Nanti kalau sudah sempat.”

anak dapat menangkap bahwa menunda merupakan cara yang biasa dilakukan ketika menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan.

Karena itu, orang tua bisa menunjukkan contoh sederhana.

Misalnya:

“Ayah sebenarnya ingin istirahat, tapi Ayah selesaikan dulu piringnya supaya nanti lebih enak.”

Atau:

“Bunda tidak terlalu suka membereskan meja, tapi kita mulai dari satu bagian dulu.”

Dengan demikian, anak melihat bahwa orang dewasa pun terkadang tidak bersemangat melakukan sesuatu, tetapi tetap dapat belajar memulainya.

Ini merupakan pelajaran yang jauh lebih kuat daripada sekadar mengatakan:

“Jangan malas!”

Jangan Langsung Memberi Label “Malas”

Satu hal yang sebaiknya dihindari adalah memberikan label pada anak.

“Dasar malas.”

“Kamu memang suka menunda.”

“Dibilangin berkali-kali tidak pernah dengar.”

Label seperti ini mungkin keluar ketika orang tua sedang lelah atau frustrasi. Namun, jika sering didengar, anak dapat mulai menganggap label tersebut sebagai bagian dari dirinya.

Alih-alih mengatakan:

“Kamu pemalas.”

cobalah mengatakan:

“Bunda tahu kamu sedang kesulitan mulai. Yuk, kita cari cara supaya lebih mudah.”

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi maknanya besar.

Kalimat pertama menyerang identitas anak.

Kalimat kedua membahas perilaku yang bisa diubah.

Anak perlu memahami bahwa:

“Aku sedang kesulitan memulai” tidak sama dengan “Aku adalah anak yang malas.”

Kapan Kebiasaan Menunda Perlu Mendapat Perhatian Lebih?

Menunda sesekali merupakan hal yang wajar. Hampir semua anak pernah mengalaminya.

Namun, orang tua sebaiknya lebih memperhatikan jika kebiasaan tersebut terjadi sangat sering dan mulai mengganggu berbagai aspek kehidupan anak.

Misalnya, anak hampir selalu kesulitan memulai tugas, sangat sulit mengikuti rutinitas, sering gagal menyelesaikan aktivitas sederhana sesuai usianya, atau masalah tersebut muncul secara konsisten di rumah maupun sekolah.

Dalam situasi seperti itu, orang tua dapat berdiskusi dengan guru atau tenaga profesional yang sesuai untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Tujuannya bukan untuk buru-buru memberikan label atau diagnosis, melainkan mencari tahu kebutuhan anak dan bentuk dukungan yang paling tepat.

Pada Akhirnya, Anak Sedang Belajar Mengatur Dirinya

Kebiasaan menunda memang bisa membuat orang tua frustrasi.

Tetapi penting untuk mengingat bahwa kemampuan untuk merencanakan, mengendalikan impuls, mengatur perhatian, memulai tugas, dan menyelesaikan sesuatu merupakan keterampilan yang berkembang secara bertahap.

Jadi, ketika si kecil berkata, “Nanti dulu,” jangan selalu melihatnya sebagai bentuk pembangkangan.

Terkadang, ia memang membutuhkan bantuan untuk mengetahui bagaimana cara mulai.

Orang tua dapat membantu dengan memahami alasannya, memecah tugas menjadi langkah kecil, memberikan pilihan terbatas, membangun rutinitas, memberikan peringatan sebelum berpindah aktivitas, mengapresiasi usaha, dan menunjukkan contoh yang baik.

Bukan berarti orang tua harus selalu memaklumi penundaan.

Anak tetap perlu belajar tentang tanggung jawab dan batasan. Namun, mengajarkan tanggung jawab tidak harus dilakukan dengan mempermalukan atau melabeli anak.

Sedikit demi sedikit, anak dapat belajar bahwa tidak semua hal harus ditunggu sampai merasa ingin melakukannya.

Kadang-kadang, langkah pertama memang terasa berat.

Dan tugas orang tua bukan selalu mendorong anak dengan lebih keras, tetapi membantu mereka menemukan cara untuk mengambil langkah pertama tersebut.

EDITOR: Hanny Suwindari