← Beranda
9 Cara Menjelaskan kepada Anak-Anak tentang Kekacauan Saat Ini Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?
Irfan FerdiansyahKamis, 3 September 2026 | 06.48 WIB
seseorang yang menjelaskan kekacauan saat ini./Magnific/magnific

JawaPos.com - Anak-anak mungkin belum memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi di dunia. Mereka mungkin belum mengerti tentang konflik, kerusuhan, bencana, ketidakstabilan ekonomi, perubahan politik, kekerasan, atau berbagai kabar buruk yang memenuhi layar televisi dan media sosial. Namun, bukan berarti mereka tidak menyadarinya.

Anak-anak sangat peka terhadap perubahan suasana di sekitarnya. Mereka bisa menangkap kecemasan orang tua dari nada suara, ekspresi wajah, percakapan yang terpotong, atau kebiasaan keluarga yang tiba-tiba berubah. Bahkan ketika orang dewasa berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, anak sering kali tetap merasakan bahwa ada sesuatu yang berbeda.

Menurut psikologi perkembangan, tantangannya bukan sekadar apa yang harus dikatakan kepada anak, tetapi juga bagaimana menyampaikannya sesuai usia, tingkat pemahaman, dan kebutuhan emosional mereka.

Orang tua tidak perlu memberikan semua informasi. Anak membutuhkan penjelasan yang jujur, tetapi juga membutuhkan rasa aman. Mereka perlu tahu bahwa dunia sedang menghadapi masalah tanpa merasa bahwa dunia adalah tempat yang sepenuhnya berbahaya.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (2/9), terdapat sembilan cara yang dapat membantu orang tua menjelaskan kekacauan atau situasi sulit yang sedang terjadi kepada anak-anak.

1. Mulailah dengan menanyakan apa yang sudah mereka ketahui

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang dewasa adalah langsung memberikan penjelasan panjang kepada anak.

Padahal, anak mungkin sudah mendengar informasi tertentu dari teman, guru, televisi, YouTube, TikTok, atau percakapan orang dewasa. Informasi tersebut bisa benar, setengah benar, atau bahkan keliru.

Karena itu, langkah pertama yang baik adalah mencari tahu apa yang sebenarnya sudah mereka dengar.

Orang tua dapat bertanya:

"Kamu sudah dengar tentang apa yang sedang terjadi?"

Atau:

"Menurut kamu, sebenarnya apa yang sedang terjadi?"

Pertanyaan seperti ini membantu orang tua memahami gambaran yang ada di kepala anak.

Dari sudut pandang psikologi, pendekatan tersebut juga memungkinkan orang tua mengidentifikasi kesalahpahaman dan ketakutan yang tersembunyi.

Misalnya, seorang anak mendengar bahwa terjadi kerusuhan di sebuah kota. Dalam pikirannya, ia mungkin menganggap bahwa kerusuhan tersebut sedang terjadi tepat di depan rumahnya. Anak yang lain mungkin mengira bahwa semua orang berada dalam bahaya.

Dengan mengetahui apa yang sudah dipahami anak, orang tua dapat memberikan informasi yang sesuai tanpa membebani mereka dengan detail yang belum diperlukan.

Prinsipnya: dengarkan dahulu, baru jelaskan.

2. Jelaskan sesuai usia, bukan sesuai seberapa banyak informasi yang dimiliki orang tua

Anak berusia lima tahun dan anak berusia lima belas tahun tidak membutuhkan penjelasan yang sama.

Kemampuan memahami risiko, sebab-akibat, abstraksi, dan ketidakpastian berkembang secara bertahap.

Anak kecil biasanya membutuhkan penjelasan yang konkret dan sederhana. Mereka mungkin lebih mudah memahami:

"Ada masalah yang sedang terjadi di beberapa tempat. Orang-orang dewasa sedang berusaha menyelesaikannya."

Sementara anak yang lebih besar mungkin sudah bisa memahami bahwa sebuah masalah memiliki banyak penyebab dan tidak selalu dapat diselesaikan dengan cepat.

Orang tua tidak harus menggunakan istilah yang rumit hanya agar anak merasa mendapatkan "penjelasan lengkap".

Justru, terlalu banyak detail dapat membuat anak semakin cemas.

Untuk anak kecil, fokuskan pembicaraan pada tiga hal:

Apa yang terjadi secara sederhana.
Apakah mereka berada dalam keadaan aman.
Apa yang sedang dilakukan orang dewasa untuk menjaga mereka.

Untuk anak yang lebih besar, pembicaraan dapat diperluas dengan membahas penyebab, berbagai sudut pandang, ketidakpastian, dan bagaimana mereka dapat memperoleh informasi yang lebih dapat dipercaya.

3. Jujurlah, tetapi jangan memberikan informasi yang menakutkan secara berlebihan

Menjaga anak dari informasi buruk bukan berarti harus berbohong.

Jika anak bertanya, "Apakah orang-orang sedang dalam bahaya?", sebaiknya jangan menjawab dengan kebohongan seperti, "Tidak ada apa-apa."

Anak dapat kehilangan kepercayaan jika kemudian menemukan kenyataan yang berbeda.

Namun, kejujuran juga tidak berarti anak harus mengetahui semua detail.

Ada perbedaan antara:

kejujuran dan paparan informasi berlebihan.

Orang tua dapat mengatakan:

"Memang ada orang yang mengalami situasi sulit. Itu sebabnya banyak orang dewasa sedang berusaha membantu dan mencari solusi."

Jika anak bertanya lebih jauh, jawab pertanyaan yang diajukan. Tidak perlu langsung memberikan seluruh informasi yang diketahui orang tua.

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak memiliki kapasitas berbeda dalam memproses informasi yang mengancam. Karena itu, informasi sebaiknya diberikan secara bertahap.

Tanyakan kembali:

"Kamu ingin tahu lebih banyak, atau cukup sampai di sini?"

Dengan demikian, anak memiliki ruang untuk mengontrol seberapa banyak informasi yang ingin mereka terima.

4. Akui perasaan anak, jangan buru-buru menyuruh mereka untuk "jangan takut"

Ketika anak berkata, "Aku takut," respons yang kurang membantu adalah:

"Jangan takut."

Meskipun maksud orang tua adalah menenangkan, kalimat tersebut secara tidak langsung dapat membuat anak merasa bahwa emosinya salah.

Lebih baik mengatakan:

"Wajar kalau kamu merasa takut setelah mendengar berita seperti itu."

Kemudian tambahkan:

"Kamu boleh cerita kepada Ayah/Ibu tentang apa yang membuat kamu takut."

Dalam psikologi, kemampuan mengenali dan menerima emosi merupakan bagian penting dari perkembangan regulasi emosi.

Anak perlu belajar bahwa rasa takut, sedih, marah, dan bingung adalah respons manusiawi ketika menghadapi sesuatu yang tidak pasti.

Setelah perasaannya diakui, barulah orang tua dapat membantu anak melihat situasi secara lebih realistis.

Misalnya:

"Kamu takut karena melihat berita tentang orang yang terluka. Sekarang mari kita lihat situasi kita di sini. Kamu bersama keluarga, berada di rumah, dan orang dewasa sedang memastikan semuanya aman."

Ini lebih efektif daripada sekadar mengatakan bahwa anak tidak perlu takut.

5. Berikan rasa aman melalui hal-hal yang konkret

Ketika dunia terasa kacau, anak sering kali membutuhkan sesuatu yang dapat mereka pegang dan pahami.

Kalimat seperti "Semuanya akan baik-baik saja" memang terdengar menenangkan, tetapi tidak selalu meyakinkan karena orang tua sendiri sebenarnya tidak dapat menjamin masa depan.

Daripada memberikan janji yang tidak pasti, berikan kepastian mengenai hal-hal yang memang dapat diketahui.

Contohnya:

"Sekarang kamu aman bersama keluarga."

"Kalau ada sesuatu yang perlu dilakukan, orang dewasa akan memberi tahu kamu."

"Kamu tetap bisa pergi ke sekolah seperti biasa selama sekolah mengatakan aman."

"Kalau kamu mendengar sesuatu yang membuatmu khawatir, kamu boleh bertanya kepada kami."

Rasa aman bagi anak tidak hanya dibangun melalui kata-kata, tetapi juga melalui rutinitas.

Waktu tidur, makan, sekolah, bermain, belajar, dan berkumpul bersama keluarga yang tetap berjalan dapat memberikan sinyal kepada anak bahwa kehidupan mereka masih memiliki struktur.

Dalam situasi penuh ketidakpastian, rutinitas sederhana dapat menjadi sumber stabilitas psikologis.

6. Batasi paparan anak terhadap berita dan gambar yang mengganggu

Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah anak dapat menemukan informasi kapan saja.

Mereka tidak perlu menonton televisi untuk mengetahui suatu peristiwa. Sebuah video pendek, notifikasi, unggahan media sosial, atau percakapan teman sudah cukup untuk membuat mereka terpapar.

Masalahnya, gambar yang dramatis dapat memiliki dampak emosional yang jauh lebih kuat dibandingkan penjelasan verbal.

Anak mungkin melihat satu video berulang kali dan kemudian mengira peristiwa tersebut terjadi terus-menerus.

Karena itu, orang tua sebaiknya memperhatikan berapa banyak dan jenis informasi yang dikonsumsi anak.

Tidak semua berita perlu ditonton bersama anak.

Orang tua juga sebaiknya berhati-hati ketika membicarakan situasi sulit di depan anak kecil, terutama jika percakapan tersebut berisi detail kekerasan atau gambar yang mengganggu.

Bukan berarti anak harus hidup dalam gelembung tanpa mengetahui apa pun.

Tujuannya adalah memastikan bahwa informasi yang mereka terima proporsional dengan kemampuan mereka untuk memahaminya.

Untuk anak yang lebih besar, orang tua dapat mengajarkan literasi media:

Jangan langsung percaya semua video.
Periksa sumber informasi.
Bedakan fakta dari opini.
Waspadai judul yang sengaja dibuat untuk menimbulkan ketakutan.
Jangan menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya.

Dengan begitu, situasi sulit dapat menjadi kesempatan untuk mengajarkan keterampilan berpikir kritis.

7. Jangan menyembunyikan kecemasan orang tua secara berlebihan

Anak-anak belajar banyak hal dengan mengamati orang tua.

Jika orang tua terus-menerus mengatakan, "Aku baik-baik saja," sementara wajah, suara, dan perilakunya menunjukkan kepanikan, anak dapat menerima pesan yang membingungkan.

Orang tua tidak harus selalu terlihat kuat.

Sesekali mengatakan:

"Ibu juga merasa khawatir melihat berita itu."

bukan berarti membuat anak semakin takut.

Justru, orang tua dapat memberikan contoh bahwa seseorang bisa merasa khawatir sekaligus tetap melakukan hal-hal yang diperlukan.

Misalnya:

"Ibu khawatir, tetapi sekarang Ibu sedang mencari informasi dari sumber yang terpercaya dan memastikan keluarga kita tetap aman."

Ini memberikan pelajaran penting kepada anak:

emosi tidak selalu harus dihilangkan; emosi dapat dikelola.

Namun, orang tua juga perlu berhati-hati agar anak tidak merasa bertanggung jawab terhadap kondisi emosional orang tua.

Anak bukan tempat orang tua mencurahkan seluruh kecemasan, kemarahan, atau ketakutan mereka.

Orang dewasa tetap membutuhkan ruang lain untuk memproses emosinya, misalnya melalui pasangan, teman, keluarga, atau profesional jika diperlukan.

8. Alihkan pembicaraan dari "betapa buruknya dunia" menjadi "apa yang bisa kita lakukan"

Ketika anak terus mendengar berita negatif, mereka dapat merasa tidak berdaya.

Mereka mungkin bertanya:

"Kalau semuanya buruk, kita bisa melakukan apa?"

Di sinilah orang tua dapat membantu anak menemukan kembali rasa memiliki kendali.

Tidak harus melalui tindakan besar.

Hal sederhana pun dapat berarti:

membantu anggota keluarga,
berbagi dengan orang lain,
menjaga lingkungan,
bersikap baik kepada teman,
tidak menyebarkan informasi palsu,
membantu orang yang membutuhkan,
belajar dengan sungguh-sungguh,
atau mengikuti kegiatan sosial yang sesuai usia.

Pesannya bukan bahwa anak bertanggung jawab memperbaiki semua masalah dunia.

Sebaliknya, anak perlu memahami bahwa meskipun mereka tidak dapat mengendalikan segala sesuatu, mereka tetap memiliki pilihan mengenai bagaimana mereka bersikap.

Secara psikologis, rasa memiliki kendali dapat membantu mengurangi perasaan tidak berdaya ketika seseorang menghadapi ketidakpastian.

Orang tua dapat berkata:

"Kita memang tidak bisa menyelesaikan semua masalah yang terjadi di dunia. Tetapi kita bisa memilih untuk saling membantu dan menjaga orang-orang di sekitar kita."

Pesan seperti ini memberikan perspektif yang lebih sehat.

9. Jadikan percakapan sebagai proses, bukan satu kali pembicaraan

Tidak semua anak akan langsung menceritakan ketakutannya.

Ada anak yang baru bertanya beberapa jam kemudian. Ada yang tiba-tiba membicarakannya saat akan tidur. Ada juga yang tidak bertanya sama sekali tetapi menunjukkan kecemasan melalui perubahan perilaku.

Karena itu, pembicaraan tentang situasi sulit tidak seharusnya dianggap sebagai satu percakapan yang selesai dalam satu malam.

Orang tua dapat kembali membuka ruang percakapan secara berkala:

"Kamu masih kepikiran tentang berita kemarin?"

Atau:

"Ada sesuatu yang kamu dengar hari ini yang ingin kamu tanyakan?"

Perhatikan pula perubahan perilaku.

Anak yang biasanya ceria tiba-tiba menjadi sangat pendiam. Anak yang biasanya mudah tidur mulai mengalami kesulitan tidur. Anak mungkin menjadi lebih mudah marah, lebih sering menempel kepada orang tua, kehilangan minat bermain, atau terus-menerus meminta kepastian.

Satu perubahan perilaku tidak selalu berarti masalah serius. Namun, perubahan yang menetap atau semakin berat patut diperhatikan.

Jika kecemasan anak mulai mengganggu tidur, sekolah, hubungan sosial, aktivitas sehari-hari, atau membuat mereka terus-menerus merasa tidak aman, orang tua dapat mempertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog anak atau profesional kesehatan mental yang sesuai.

Anak Tidak Membutuhkan Dunia yang Sempurna

Pada akhirnya, tujuan menjelaskan kekacauan dunia kepada anak bukanlah membuat mereka memahami semua persoalan orang dewasa.

Anak tidak membutuhkan kuliah panjang tentang politik, ekonomi, konflik, atau berbagai masalah sosial.

Yang paling mereka butuhkan adalah orang dewasa yang dapat membantu mereka memahami kenyataan tanpa kehilangan rasa aman.

Orang tua dapat menjadi jembatan antara dunia yang kompleks dan pikiran anak yang masih berkembang.

Caranya adalah dengan:

Mendengarkan apa yang sudah diketahui anak.
Menjelaskan sesuai usia.
Bersikap jujur tanpa memberikan informasi berlebihan.
Mengakui perasaan anak.
Memberikan kepastian mengenai hal-hal yang memang dapat dipastikan.
Membatasi paparan terhadap berita yang mengganggu.
Menunjukkan bahwa orang tua juga dapat mengelola rasa khawatir.
Mengajarkan anak bahwa mereka tetap memiliki hal-hal yang dapat dilakukan.
Membuka ruang percakapan secara terus-menerus.

Dunia memang tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Ada masa ketika berita terasa terlalu banyak, perubahan terjadi terlalu cepat, dan orang dewasa sendiri kesulitan memahami apa yang akan terjadi selanjutnya.

Namun, anak tidak harus memahami seluruh kekacauan tersebut sendirian.

Dengan komunikasi yang jujur, sesuai usia, penuh empati, dan konsisten, orang tua dapat membantu anak memahami bahwa merasa takut terhadap sesuatu yang tidak pasti adalah hal yang manusiawi—dan bahwa mereka tidak harus menghadapinya sendirian.

EDITOR: Hanny Suwindari