← Beranda
Wajib Tahu! Trauma Orang Tua Ternyata Lebih Mudah Diwariskan ke Anak
Cicilia MargaretthaKamis, 3 September 2026 | 00.10 WIB
Memutus rantai trauma pada anak./pexels.com

JawaPos.com - Isu mengenai trauma antargenerasi (generational trauma) semakin banyak mendapat perhatian dalam kajian psikologi dan pola asuh modern.

Tanpa disadari, luka emosional, kecemasan, hingga respons pola asuh yang dialami oleh orang tua di masa lalu seringkali membentuk karakter dan kondisi mental anak di masa depan.

Pewarisan trauma tidak hanya terjadi lewat pengasuhan sehari-hari, tetapi juga terpeta melalui mekanisme epigenetik

Melansir dari laman Yourtango pada Rabu (02/09), mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa trauma yang dialami orang tua cenderung lebih mudah diwariskan kepada anak melalui kombinasi mekanisme biologis dan pola interaksi emosional di lingkungan keluarga.

Studi neurobiologi menunjukkan bahwa stres kronis dan trauma mendalam yang dialami individu dapat mengubah ekspresi genetik tanpa mengubah urutan DNA dasar (epigenetic modifications).

Perubahan ekspresi gen ini mempengaruhi respons sistem saraf terhadap stres, yang kemudian dapat diturunkan secara biologis kepada keturunannya.

Akibatnya, anak memiliki ambang toleransi stres yang lebih rendah dan kecenderungan kecemasan yang lebih tinggi sejak lahir.

Berikut adalah beberapa faktor utama bagaimana trauma orang tua dapat dengan mudah terwariskan kepada anak:

1. Mekanisme Epigenetik Biologis

Perubahan molekuler akibat trauma pada orang tua dapat mempengaruhi sel reproduksi dan pengkondisian hormon stres di dalam kandungan.

Hal ini membuat anak terlahir dengan sistem saraf yang lebih sensitif terhadap tekanan atau kecemasan.

2. Pola Asuh yang Terdistorsi

Orang tua yang belum memproses trauma masa kecilnya cenderung menerapkan pola asuh yang terdistorsi, seperti terlalu protektif (overprotective), reaktif secara emosional, atau justru bersikap dingin dan jarak secara fisik maupun emosional kepada anak.

3. Penularan Emosional di Rumah (Emotional Contagion)

Anak-anak adalah peniru yang sangat peka. Lingkungan rumah yang diliputi ketegangan, kecemasan kronis, atau konflik tak terselesaikan membuat anak menyerap kecemasan tersebut sebagai respons alami dalam memandang dunia luar.

4. Siklus Pengulangan Narasi Diri

Trauma antargenerasi sering kali membawa narasi negatif terselubung, seperti rasa tidak berharga atau ketakutan berlebih akan kegagalan.

Anak yang tumbuh dalam narasi ini rentan mengadopsi pola pikir yang sama dalam kehidupan dewasanya.

Memahami bahwa trauma dapat diwariskan bukanlah untuk menyalahkan generasi terdahulu, melainkan sebagai pijakan awal untuk memutus rantai (breaking the cycle) tersebut.

Kesadaran diri (self awareness) dan keberanian untuk menyembuhkan luka batin adalah investasi terbesar orang tua bagi masa depan anak.

Secara keseluruhan, menjaga kesehatan mental diri sendiri merupakan langkah protektif paling efektif agar generasi penerus dapat tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan suportif.

Namun, selalu ingat bahwa panduan ini berfungsi sebagai edukasi kesehatan mental umum.

Jika Anda merasakan dampak trauma masa lalu yang mengganggu pola interaksi keluarga, berkonsultasi dengan psikolog atau terapis keluarga profesional adalah keputusan yang sangat tepat.

EDITOR: Hanny Suwindari