← Beranda
10 Kepribadian Orang Tua yang Membuat Anak Tetap Menyayanginya Meski Sudah Dewasa Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalSabtu, 29 Agustus 2026 | 14.24 WIB
Kepribadian orang tua yang buat anak tetap menyayanginya meski dewasa menurut psikologi./Magnific/ magnific

JawaPos.com - Psikologi menjelaskan bahwa menjalani masa dewasa terasa lebih berat tanpa orang tua yang suportif sejak kecil.

Sejumlah orang tua memiliki kepribadian tertentu yang membuat anaknya tetap menyayangi mereka hingga bertahun-tahun kemudian.

Mereka memberikan dukungan emosional serta ruang aman yang membentuk kesejahteraan anak menjadi lebih baik.

Dilansir dari laman YourTango pada Jumat (28/8), berikut sepuluh sifat orang tua yang biasa membuat anak tetap menyayanginya meski telah tumbuh dewasa.

1. Berpikiran terbuka

Komunikasi efektif dengan anak dewasa berputar di sekitar memastikan setiap pihak merasa didengar dan dipahami.

Memvalidasi perasaan anak, bukan menghakimi atau langsung memberi solusi, membuka pintu komunikasi yang lebih jujur.

Orang tua yang memvalidasi emosi anaknya meski tidak sependapat cenderung memiliki hubungan yang paling sehat.

Menerima anak apa adanya menjadi kunci penting agar mereka terus disayangi hingga anak tumbuh dewasa.

2. Memiliki empati yang tinggi

Menunjukkan empati kepada anak berubah bentuknya seiring anak memasuki fase kehidupan sebagai orang dewasa.

Tidak ada cara sempurna untuk hadir bagi anak, namun dukungan tetap dapat disesuaikan dengan kebutuhannya.

Mengakui keterkaitan antara masa kecil dan tantangan dewasa menjadi penting bagi orang tua saat ini.

Mendengarkan tanpa menghakimi dan mendukung emosi anak dengan cara yang lembut memperkuat ikatan tersebut.

3. Lebih banyak mendengarkan dibanding berbicara

Nasihat yang tidak diminta sering memicu kebencian dalam hubungan orang tua dan anak dewasa.

Banyak anak dewasa mencari dukungan emosional, bukan solusi, ketika berbagi cerita dengan orang tuanya.

Orang tua yang tetap disayangi anaknya lebih memilih mendengarkan dibanding langsung memberikan nasihat berlebihan.

Mereka hanya memberikan masukan ketika benar-benar diminta secara langsung oleh anaknya sendiri.

4. Menghormati batasan pribadi anak

Batasan keluarga yang sehat terasa tidak nyaman dijaga bagi mereka yang tumbuh di rumah tidak stabil.

Orang tua yang baik tetap menghormati batasan tersebut sehingga anak berani berkomunikasi secara mandiri.

Menghormati batasan sejak kecil, seperti mengetuk pintu kamar, menanamkan kebiasaan yang berguna hingga dewasa.

Anak yang merasa dihormati orang tuanya cenderung menerapkan penghormatan serupa dalam hubungan lainnya kelak.

5. Dapat dipercaya dan jujur

Kepercayaan terhadap orang tua menjadi hal penting sebagaimana kepercayaan dalam hubungan lainnya secara umum.

Menjadi orang tua yang dipercaya anak dewasa tidak terjadi secara instan, melainkan dibangun sejak kecil.

Penelitian menunjukkan bahwa mengenal anak menjadi fondasi penting bagi hubungan yang dibangun atas kepercayaan.

Anak pun memiliki ruang aman untuk mengekspresikan emosinya secara terbuka kepada orang tuanya.

6. Memiliki rasa percaya diri

Rasa percaya diri seorang dewasa sebagian besar terbentuk dari pengalaman masa kecil yang dijalaninya.

Orang tua yang merayakan keaslian anak sambil menjaga harga dirinya sendiri memberi kebebasan bagi individualitas anak.

Anak yang dibesarkan seperti ini memiliki rasa diri yang lebih seimbang saat tumbuh dewasa.

Kebiasaan ini membantu anak membangun hubungan yang lebih tulus dan terbuka di masa depan.

7. Terbuka terhadap perubahan

Fleksibilitas psikologis orang tua sama pentingnya dengan antusiasme menghadapi perubahan hidup seperti pekerjaan baru.

Mendukung anak sambil menjaga kesehatan emosional sendiri menjadi ciri orang tua yang fleksibel secara psikologis.

Tanpa penerimaan dari orang tua, tidak ada ruang aman bagi anak untuk membuka diri.

Ruang aman ini tetap penting dalam hubungan orang tua dan anak meski anak sudah dewasa.

8. Memiliki kecerdasan emosional

Empati dan kecerdasan emosional saling berkaitan erat dan sering ditemukan pada orang tua yang disayangi anaknya.

Mendukung orang lain secara sehat hampir mustahil dilakukan tanpa kecerdasan emosional yang kuat dalam diri.

Orang tua yang baik tidak mencari validasi dari anaknya, melainkan memberikan cinta dan dukungan penuh.

Sikap ini membantu menjaga hubungan tetap sehat tanpa membebani anak dengan kebutuhan emosional orang tua.

9. Memiliki selera humor

Berbagai gaya komunikasi mendukung hubungan orang tua dan anak, namun keceriaan sering kali terlupakan.

Menyisipkan humor dalam percakapan yang tidak nyaman membantu anak merasa nyaman mengungkapkan kesulitannya sendiri.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa humor dalam hubungan keluarga membangun koneksi dan komunikasi yang lebih sehat.

Humor tidak hanya mengajarkan penyelesaian masalah, tetapi juga mempererat kedekatan antaranggota keluarga.

10. Bersikap dapat diandalkan dan konsisten

Anak yang dibesarkan dengan orang tua yang konsisten secara emosional cenderung memiliki tingkat depresi lebih rendah.

Dampak dukungan tersebut tetap terasa hingga anak dewasa dalam menjaga hubungan yang sehat dengan orang tuanya.

Tanpa kecemasan akibat orang tua yang tidak dapat diandalkan, ruang komunikasi terbuka menjadi lebih luas.

Rasa aman ini menjadi fondasi bagi anak dewasa membangun hubungan sehat dengan pasangan dan temannya.

EDITOR: Hanny Suwindari