JawaPos.com - Pernahkah Anda memperhatikan bahwa seorang ayah bisa terlihat jauh lebih khawatir ketika putrinya pulang terlambat, berteman dengan laki-laki tertentu, atau mulai menjalin hubungan, tetapi justru terlihat lebih santai ketika anak laki-lakinya melakukan hal yang sama?
Bagi sebagian keluarga, perbedaan ini terasa sangat nyata.
Ayah mungkin berkata kepada putranya, “Kamu sudah besar, bisa jaga diri.”
Namun kepada putrinya, pertanyaannya bisa jauh lebih banyak: pergi dengan siapa, pulang jam berapa, di mana tempatnya, siapa saja yang ikut, dan bagaimana kondisi di sana.
Sekilas, sikap seperti ini memang dapat terlihat sebagai perlakuan yang tidak seimbang. Akan tetapi, dari sudut pandang psikologi, protektifnya seorang ayah terhadap anak perempuan tidak selalu berarti ia lebih menyayangi putrinya dibandingkan putranya.
Sering kali, ada kombinasi antara naluri perlindungan, persepsi terhadap risiko, pengalaman hidup, kedekatan emosional, norma sosial, dan cara seorang ayah memahami peran dirinya sebagai orang tua.
Tentu saja, tidak semua ayah seperti ini. Ada pula ayah yang justru sangat protektif terhadap anak laki-lakinya.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (22/8), terdapat tujuh alasan berikut sebaiknya dipahami sebagai kecenderungan psikologis yang dapat muncul pada sebagian ayah, bukan sebagai aturan yang berlaku untuk semua keluarga.
1. Ayah Melihat Putrinya sebagai Anak yang Lebih Rentan terhadap Risiko Tertentu
Salah satu alasan paling umum adalah persepsi mengenai kerentanan.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua sering menilai risiko berdasarkan pengalaman, lingkungan, dan informasi yang mereka miliki. Ketika seorang ayah merasa bahwa putrinya menghadapi jenis risiko tertentu yang lebih besar, naluri melindunginya dapat menjadi lebih kuat.
Misalnya, ketika putrinya mulai bepergian sendiri, memasuki lingkungan baru, atau berinteraksi dengan orang yang belum dikenal, seorang ayah mungkin menjadi lebih waspada.
Bukan berarti anak perempuan dianggap tidak mampu menjaga dirinya sendiri.
Justru sebaliknya, terkadang ayah menyadari bahwa dunia di luar rumah tidak selalu aman dan ia ingin memastikan anaknya memiliki perlindungan ketika menghadapi situasi yang belum pernah dialaminya.
Pada anak laki-laki, ayah mungkin memiliki persepsi berbeda.
Sejak kecil, banyak anak laki-laki mendapatkan pesan sosial seperti “harus berani”, “harus mandiri”, atau “harus bisa menjaga diri”. Akibatnya, ayah dapat secara tidak sadar memberikan ruang yang lebih besar kepada putranya untuk menghadapi risiko sendiri.
Masalahnya, persepsi tersebut tidak selalu objektif.
Anak laki-laki juga bisa rentan terhadap berbagai masalah, sama seperti anak perempuan. Karena itu, perlindungan yang sehat seharusnya tidak hanya didasarkan pada jenis kelamin, tetapi juga pada usia, kematangan, karakter, situasi, dan kemampuan anak menghadapi suatu keadaan.
2. Ada Naluri untuk Melindungi Anak yang Dianggap Lebih “Kecil” atau Lemah
Hubungan ayah dan anak tidak hanya dibangun melalui logika. Ada pula komponen emosional yang sangat kuat.
Seorang ayah dapat melihat putrinya sebagai sosok yang ingin terus ia lindungi, bahkan ketika anak tersebut sebenarnya sudah tumbuh dewasa.
Menariknya, perasaan ini dapat bertahan sangat lama.
Ketika seorang ayah melihat putrinya sebagai “anak kecilnya”, perubahan usia tidak selalu langsung mengubah respons emosionalnya. Secara rasional ia mungkin tahu bahwa putrinya sudah dewasa. Namun secara emosional, ia masih merasakan dorongan untuk memastikan bahwa anak tersebut baik-baik saja.
Inilah sebabnya seorang perempuan berusia dua puluhan pun terkadang masih mendapatkan pesan dari ayahnya:
“Sudah sampai?”
“Jangan pulang terlalu malam.”
“Kalau ada apa-apa telepon Ayah.”
“Siapa yang mengantarmu?”
Bagi anak, pertanyaan seperti itu terkadang terasa berlebihan.
Namun bagi ayah, pertanyaan tersebut dapat menjadi bentuk kasih sayang dan rasa tanggung jawab.
Tentu, naluri melindungi menjadi masalah apabila berubah menjadi kontrol berlebihan. Perlindungan yang sehat membantu anak merasa aman, sedangkan kontrol yang berlebihan dapat membuat anak merasa tidak dipercaya.
3. Ayah Memiliki Kekhawatiran Lebih Besar terhadap Hubungan Romantis Putrinya
Ketika anak mulai memasuki usia remaja dan dewasa, perhatian orang tua terhadap hubungan romantis biasanya meningkat.
Pada sebagian ayah, perubahan ini terasa lebih kuat ketika anaknya adalah perempuan.
Seorang ayah mungkin mulai memikirkan berbagai kemungkinan: apakah orang tersebut menghormati putrinya, apakah ia memperlakukannya dengan baik, apakah hubungan tersebut sehat, dan apakah putrinya sedang berada dalam situasi yang aman.
Kekhawatiran tersebut dapat muncul karena ayah memahami bahwa hubungan romantis memiliki konsekuensi emosional yang besar.
Ia mungkin pernah mengalami patah hati sendiri. Ia mungkin pernah melihat orang terdekat mengalami hubungan yang buruk. Atau ia mungkin menyadari bahwa seseorang dapat membuat keputusan yang tidak bijaksana ketika sedang jatuh cinta.
Karena itu, ayah terkadang bereaksi lebih keras ketika putrinya mulai memiliki pasangan.
Namun, ada hal penting yang perlu dibedakan: melindungi anak dari hubungan yang berbahaya berbeda dengan mengendalikan siapa yang boleh dicintai anak.
Dalam perkembangan anak menuju kedewasaan, orang tua pada akhirnya perlu membantu anak membangun kemampuan memilih pasangan yang sehat, bukan sekadar membuat semua keputusan untuk mereka.
4. Pengalaman Pribadi Ayah Membentuk Cara Ia Melindungi Anak
Setiap ayah membawa sejarah hidupnya sendiri ke dalam pengasuhan.
Seorang ayah yang pernah mengalami sesuatu yang buruk mungkin menjadi lebih waspada terhadap kemungkinan hal serupa terjadi pada anaknya.
Misalnya, ia pernah mengalami pengkhianatan, kekerasan, kehilangan, perundungan, atau menyaksikan seseorang yang dekat dengannya berada dalam hubungan yang tidak sehat.
Pengalaman tersebut dapat membentuk cara seseorang melihat dunia.
Jika pengalaman buruk tersebut berkaitan dengan situasi yang menurutnya lebih mungkin dialami oleh anak perempuan, ia mungkin menjadi jauh lebih protektif kepada putrinya.
Contohnya sederhana.
Seorang ayah mungkin pernah menyaksikan temannya mengalami masalah serius karena mempercayai orang yang salah. Ketika putrinya mulai memiliki banyak teman baru, pengalaman tersebut dapat muncul kembali dalam pikirannya.
“Jangan-jangan sesuatu yang buruk terjadi padanya.”
Padahal, belum tentu ada ancaman nyata.
Inilah salah satu alasan mengapa perilaku protektif kadang lebih banyak berbicara tentang ketakutan orang tua daripada kondisi anak yang sebenarnya.
Pengalaman hidup memang dapat membantu seseorang menjadi lebih hati-hati. Tetapi apabila rasa takut masa lalu terlalu dominan, seorang ayah bisa saja melihat bahaya bahkan ketika situasinya relatif aman.
5. Norma Sosial Membuat Ayah Merasa Lebih Bertanggung Jawab terhadap Putrinya
Budaya juga memiliki pengaruh besar terhadap pola pengasuhan.
Dalam banyak masyarakat, anak perempuan masih sering dipandang sebagai sosok yang harus lebih dijaga, sedangkan anak laki-laki didorong untuk lebih mandiri dan berani mengambil risiko.
Seorang ayah bisa menyerap pandangan tersebut sejak kecil tanpa pernah benar-benar menyadarinya.
Akibatnya, ia mungkin memiliki standar berbeda untuk anak laki-laki dan anak perempuan.
Anak laki-laki yang pulang agak malam dianggap sedang belajar mandiri.
Sementara anak perempuan yang melakukan hal sama dianggap perlu lebih banyak diawasi.
Padahal, kedua anak tersebut mungkin memiliki usia, kematangan, dan situasi yang sama.
Psikologi sosial menunjukkan bahwa cara seseorang memandang peran laki-laki dan perempuan dapat memengaruhi perilaku mereka, termasuk dalam keluarga.
Karena itu, seorang ayah dapat merasa bahwa menjaga putrinya adalah bagian penting dari identitasnya sebagai ayah.
Ada kebanggaan tertentu ketika ia merasa mampu memastikan putrinya aman.
Namun, ketika norma tersebut diterapkan terlalu kaku, anak perempuan dapat merasa ruang geraknya lebih sempit dibandingkan saudara laki-lakinya.
6. Kedekatan Emosional Ayah dan Putri Bisa Membuat Kekhawatiran Terasa Lebih Intens
Dalam sebagian keluarga, ayah memiliki hubungan emosional yang sangat dekat dengan putrinya.
Kedekatan seperti ini bisa menjadi sesuatu yang sangat positif.
Putri merasa aman berbicara dengan ayahnya. Ayah merasa dipercaya. Mereka memiliki hubungan yang hangat dan terbuka.
Tetapi semakin besar keterikatan emosional seseorang, terkadang semakin besar pula rasa takut kehilangan atau melihat orang yang disayanginya terluka.
Ini adalah salah satu paradoks dalam kasih sayang.
Semakin seseorang berarti bagi kita, semakin besar kemungkinan kita merasa khawatir ketika ia menghadapi sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan.
Seorang ayah yang sangat dekat dengan putrinya mungkin merasa:
“Kalau dia terluka, saya juga akan sangat terpukul.”
Akibatnya, ia bisa menjadi lebih waspada.
Namun, kedekatan emosional yang sehat seharusnya tidak berubah menjadi kepemilikan.
Anak tetap memiliki kehidupan, pilihan, dan batas pribadi.
Ayah yang baik bukan hanya orang yang mampu mengatakan, “Saya akan melindungimu.”
Ia juga perlu mampu mengatakan, “Saya percaya kamu mampu mengambil keputusan, dan saya akan tetap ada ketika kamu membutuhkan saya.”
7. Ayah Bisa Menganggap Anak Laki-Laki Lebih Siap Menghadapi Dunia
Ada satu faktor lain yang sering tidak disadari: ekspektasi terhadap kemandirian.
Sebagian ayah merasa bahwa anak laki-laki memang harus belajar menghadapi dunia dengan lebih mandiri.
Karena itu, ketika putranya menghadapi masalah, responsnya mungkin bukan langsung turun tangan.
Ia bisa berkata:
“Coba kamu selesaikan sendiri.”
“Menurutmu apa yang harus dilakukan?”
“Belajar dari pengalaman.”
Sementara kepada putri, ia mungkin lebih cepat menawarkan bantuan.
Perbedaan tersebut dapat berasal dari keyakinan bahwa anak laki-laki perlu “ditempa” agar kuat.
Sayangnya, apabila diterapkan secara berlebihan, pola seperti ini dapat membuat anak laki-laki merasa bahwa ia tidak boleh menunjukkan ketakutan atau membutuhkan bantuan.
Padahal, anak laki-laki juga membutuhkan rasa aman, dukungan emosional, dan kesempatan untuk berbicara tentang masalahnya.
Dengan kata lain, kurang protektif bukan selalu berarti lebih sehat.
Anak laki-laki yang terlalu cepat didorong untuk mandiri mungkin justru belajar menyimpan masalah sendirian.
Sebaliknya, anak perempuan yang terlalu dilindungi mungkin belajar bahwa dunia adalah tempat yang terlalu berbahaya untuk dihadapi sendiri.
Keduanya sama-sama membutuhkan keseimbangan.
Protektif Itu Baik, tetapi Jangan Sampai Berubah Menjadi Kontrol
Pada dasarnya, keinginan seorang ayah untuk melindungi anak merupakan sesuatu yang sangat manusiawi.
Masalahnya bukan pada rasa khawatir itu sendiri.
Yang lebih penting adalah bagaimana rasa khawatir tersebut diekspresikan.
Perlindungan yang sehat dapat terlihat seperti:
mengajarkan anak mengenali situasi berbahaya;
mendengarkan cerita anak tanpa langsung menghakimi;
memberikan nasihat ketika dibutuhkan;
mengajarkan batasan dalam hubungan;
membantu anak membuat keputusan;
memastikan anak tahu bahwa ia dapat meminta pertolongan;
memberikan kebebasan sesuai usia dan kematangan.
Sementara itu, proteksi dapat menjadi tidak sehat ketika berubah menjadi:
memeriksa semua aktivitas anak tanpa alasan yang jelas;
menentukan seluruh pergaulan anak;
melarang anak mengambil keputusan sendiri;
menggunakan rasa takut untuk mengendalikan perilaku;
memperlakukan anak perempuan sebagai sosok yang selalu lemah;
memberikan kebebasan yang jauh lebih besar kepada anak laki-laki tanpa alasan yang masuk akal.
Perbedaan perlakuan antara anak laki-laki dan perempuan tidak selalu salah.
Setiap anak memang memiliki kebutuhan yang berbeda.
Namun, orang tua perlu sesekali bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah saya sedang melindungi anak karena ia benar-benar membutuhkan perlindungan, atau karena saya sendiri takut melepaskannya?”
Pertanyaan tersebut sangat penting.
Sebab tujuan pengasuhan bukan membuat anak selalu berada di bawah pengawasan orang tua.
Tujuan akhirnya adalah membantu anak menjadi manusia dewasa yang mampu menjaga dirinya sendiri.
Pada Akhirnya, Anak Membutuhkan Perlindungan Sekaligus Kepercayaan
Seorang ayah boleh khawatir terhadap putrinya.
Ia boleh bertanya ketika putrinya pulang terlambat. Ia boleh merasa tidak nyaman ketika putrinya mulai dekat dengan seseorang. Ia boleh mengingatkan anaknya agar berhati-hati.
Namun, kasih sayang tidak harus selalu berbentuk pengawasan.
Kadang-kadang, bentuk kasih sayang yang lebih dewasa justru berupa kepercayaan.
Anak perempuan perlu tahu bahwa ayahnya akan melindunginya ketika ia membutuhkan bantuan, tetapi juga percaya bahwa dirinya mampu membuat keputusan.
Anak laki-laki pun membutuhkan hal yang sama.
Ia tidak harus selalu menjadi “anak kuat” yang menyelesaikan semuanya sendiri. Ia juga membutuhkan tempat untuk pulang, tempat untuk bercerita, dan seseorang yang mengatakan bahwa meminta bantuan bukan tanda kelemahan.
Pada akhirnya, baik anak laki-laki maupun anak perempuan sama-sama membutuhkan dua hal penting dari orang tua: rasa aman dan kepercayaan.
Perlindungan memberikan rasa aman.
Kepercayaan memberikan keberanian untuk tumbuh.
Dan ketika seorang ayah mampu menyeimbangkan keduanya, ia tidak hanya menjaga anaknya dari dunia, tetapi juga mempersiapkan anaknya untuk menghadapi dunia dengan lebih percaya diri.