JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak sering dianggap sebagai salah satu hubungan yang paling kuat dan tidak terputus dalam kehidupan seseorang. Ada anggapan bahwa seberapa pun berat konflik yang terjadi, seorang anak pada akhirnya akan selalu kembali kepada orang tuanya.
Namun, kenyataan psikologis tidak selalu demikian.
Ada orang dewasa yang memilih untuk menjaga jarak dari orang tua mereka. Sebagian hanya mengurangi frekuensi komunikasi, sementara yang lain memilih hubungan yang sangat terbatas, bahkan memutus kontak sama sekali. Keputusan tersebut sering kali dianggap sebagai bentuk ketidaktaatan, tidak tahu berterima kasih, atau terlalu sensitif.
Padahal, dari sudut pandang psikologi, keputusan untuk membatasi hubungan keluarga bisa memiliki latar belakang yang jauh lebih kompleks.
Tidak semua anak dewasa menjauh karena membenci orang tuanya. Dalam beberapa kasus, menjaga jarak justru merupakan cara seseorang melindungi kesehatan psikologis, mempertahankan batas pribadi, atau menghentikan pola hubungan yang selama bertahun-tahun membuatnya tertekan.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (19/8), terdapat lima alasan yang dapat menjelaskan mengapa seseorang yang telah dewasa memilih untuk tidak berhubungan atau membatasi kontak dengan orang tuanya.
1. Hubungan dengan Orang Tua Terasa Secara Konsisten Menguras Emosi
Salah satu alasan paling umum seseorang membatasi hubungan dengan orang tua adalah karena interaksi tersebut terus-menerus menimbulkan tekanan emosional.
Hubungan keluarga tentu tidak harus selalu menyenangkan. Konflik sesekali merupakan bagian normal dari hubungan manusia. Namun, masalah muncul ketika setiap komunikasi hampir selalu diikuti oleh perasaan takut, bersalah, cemas, marah, tertekan, atau kelelahan secara emosional.
Misalnya, seorang anak dewasa mungkin merasa bahwa setiap kali berbicara dengan orang tuanya, pembicaraan akan berubah menjadi kritik.
“Kenapa kamu belum menikah?”
“Kenapa pekerjaanmu begitu-begitu saja?”
“Anak orang lain sudah punya rumah.”
“Dulu kami membesarkanmu susah payah, sekarang kamu malah seperti ini.”
Jika pola seperti ini terjadi terus-menerus, komunikasi dengan orang tua dapat menjadi sesuatu yang diantisipasi dengan kecemasan.
Dalam psikologi, respons seseorang terhadap hubungan tidak hanya dipengaruhi oleh satu percakapan, tetapi juga oleh pola interaksi yang berlangsung dalam jangka panjang.
Karena itu, ketika seseorang mengatakan, “Saya selalu merasa buruk setelah berbicara dengan orang tua,” kalimat tersebut tidak seharusnya langsung dianggap sebagai sikap manja atau tidak dewasa.
Bisa jadi tubuh dan pikirannya telah belajar mengasosiasikan interaksi tertentu dengan tekanan.
Pada akhirnya, menjaga jarak dapat menjadi bentuk regulasi diri.
Orang tersebut mungkin tidak ingin menghukum orang tuanya. Ia hanya ingin mengurangi paparan terhadap situasi yang secara konsisten membuat dirinya kehilangan ketenangan.
Menjaga jarak tidak selalu berarti membenci
Ini adalah hal penting yang sering disalahpahami.
Seseorang dapat mencintai orang tuanya sekaligus merasa bahwa hubungan yang terlalu dekat dengannya tidak sehat.
Dua hal tersebut dapat hidup berdampingan.
“ Saya menyayangi ibu saya, tetapi saya tidak sanggup berbicara dengannya setiap hari.”
“ Saya menghormati ayah saya, tetapi saya tidak ingin lagi membahas kehidupan pribadi saya dengannya.”
Pernyataan seperti itu bukan kontradiksi.
Cinta tidak selalu berarti akses tanpa batas.
Dalam hubungan orang dewasa, kasih sayang dan batas pribadi dapat berjalan bersamaan.
2. Orang Tua Tidak Menghormati Batas Pribadi Anak yang Sudah Dewasa
Ketika seorang anak tumbuh menjadi orang dewasa, kebutuhan psikologisnya juga berubah.
Ia mulai memiliki pekerjaan, pasangan, rumah tangga, keputusan finansial, prinsip hidup, serta kehidupan pribadi yang tidak lagi sepenuhnya berada di bawah kendali orang tua.
Masalah dapat muncul ketika orang tua tetap memperlakukan anak yang sudah dewasa seperti anak kecil yang harus selalu mengikuti perintah.
Misalnya, orang tua terus menentukan:
pekerjaan apa yang harus dipilih;
dengan siapa anak boleh berteman;
pasangan seperti apa yang boleh dinikahi;
bagaimana uang harus digunakan;
di mana harus tinggal;
bagaimana membesarkan anak;
kapan harus datang atau menelepon;
bahkan apa yang boleh atau tidak boleh dirasakan.
Batas pribadi menjadi penting karena kedewasaan membutuhkan otonomi.
Dalam psikologi perkembangan, kebutuhan untuk menjadi individu yang mampu mengambil keputusan sendiri merupakan bagian penting dari perkembangan manusia. Ketika seseorang terus-menerus merasa dikontrol, ia dapat mengalami konflik antara kebutuhan untuk mandiri dan tekanan untuk tetap patuh.
Pada awalnya, anak mungkin mencoba menjelaskan.
“Ini keputusan hidup saya.”
“Saya ingin mencoba cara saya sendiri.”
“Saya tidak nyaman kalau masalah rumah tangga saya dibicarakan kepada keluarga besar.”
Namun apabila batas tersebut terus diabaikan, sebagian orang akhirnya mengambil langkah yang lebih tegas: mengurangi informasi yang diberikan, mengurangi frekuensi bertemu, atau membatasi komunikasi.
Batas bukan hukuman
Batas pribadi berbeda dari hukuman.
Hukuman bertujuan membuat orang lain merasakan akibat tertentu.
Batas bertujuan menentukan apa yang akan dilakukan seseorang untuk melindungi dirinya.
Contohnya:
“Kalau pembicaraan mulai berisi penghinaan, saya akan mengakhiri telepon.”
Itu merupakan batas.
“ Saya tidak akan menjawab telepon setiap saat karena saya juga memiliki kehidupan sendiri.”
Itu juga merupakan batas.
Seorang anak dewasa tidak harus membuktikan bahwa orang tuanya adalah manusia yang buruk terlebih dahulu agar ia berhak memiliki batas.
Ia berhak mengatakan tidak terhadap sesuatu yang tidak nyaman baginya.
3. Ada Luka Masa Kecil yang Tidak Pernah Benar-Benar Selesai
Tidak semua masalah dalam hubungan orang tua dan anak bermula ketika anak sudah dewasa.
Sebagian merupakan kelanjutan dari pengalaman masa kanak-kanak.
Masa kecil merupakan periode penting dalam pembentukan cara seseorang memahami dirinya sendiri, hubungan interpersonal, keamanan emosional, dan kepercayaan terhadap orang lain.
Jika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh penghinaan, penolakan emosional, ketidakstabilan, manipulasi, kekerasan, atau pengabaian, pengalaman tersebut dapat meninggalkan dampak jangka panjang.
Ketika sudah dewasa, seseorang mungkin terlihat baik-baik saja dari luar.
Ia bekerja.
Ia memiliki keluarga.
Ia mampu menjalani kehidupan sehari-hari.
Namun, hubungan dengan orang tua dapat menghidupkan kembali pengalaman emosional yang selama ini berusaha ia tinggalkan.
Inilah salah satu alasan mengapa seseorang yang sudah dewasa bisa berkata:
“Setiap kali pulang ke rumah orang tua, saya merasa kembali menjadi diri saya yang dulu.”
Perasaan tersebut dapat terjadi karena lingkungan, cara bicara, atau pola interaksi tertentu mengingatkan seseorang pada pengalaman masa lalu.
“Bukankah itu sudah lama berlalu?”
Ini adalah pertanyaan yang sering muncul.
Memang, peristiwa masa kecil berada di masa lalu. Tetapi dampak psikologis dari pengalaman tersebut tidak selalu otomatis hilang hanya karena waktu berlalu.
Bayangkan seseorang yang selama bertahun-tahun selalu dipermalukan ketika mengungkapkan pendapat.
Ketika dewasa, orang tuanya mungkin berkata:
“Sekarang kamu kan sudah besar. Jangan baper lagi.”
Tetapi masalahnya bukan sekadar satu komentar hari ini.
Komentar tersebut mungkin menyentuh pola lama yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.
Karena itu, seseorang dapat memilih menjaga jarak bukan karena ingin hidup di masa lalu, melainkan karena ia sedang berusaha membangun kehidupan yang lebih sehat di masa sekarang.
Dalam konteks ini, jarak dapat memberikan ruang bagi seseorang untuk memahami dirinya sendiri tanpa terus berada dalam pola interaksi yang sama.
4. Anak Merasa Hubungan Itu Selalu Bersifat Satu Arah
Hubungan yang sehat membutuhkan timbal balik.
Orang tua tentu memiliki posisi yang berbeda dalam keluarga, terutama ketika anak masih kecil. Namun ketika anak telah dewasa, hubungan idealnya perlahan berubah menjadi hubungan antarmanusia dewasa.
Masalah dapat muncul ketika hubungan tetap sepenuhnya berpusat pada kebutuhan orang tua.
Misalnya, anak selalu diharapkan mendengarkan masalah orang tua, tetapi ketika anak mengalami kesulitan, ceritanya dianggap tidak penting.
Anak diharapkan memahami orang tua, tetapi orang tua tidak pernah berusaha memahami anak.
Anak diminta meminta maaf ketika terjadi konflik, tetapi orang tua tidak pernah mengakui kesalahannya.
Anak diharapkan hadir ketika orang tua membutuhkan bantuan, tetapi ketika anak membutuhkan dukungan, ia justru mendapat kritik.
Lama-kelamaan hubungan semacam ini dapat menghasilkan kelelahan emosional.
Seseorang mungkin mulai bertanya:
“Apakah orang tua saya benar-benar ingin mengenal saya sebagai orang dewasa?”
“Apakah mereka hanya menginginkan saya ketika membutuhkan sesuatu?”
“Apakah saya boleh mengatakan tidak?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena hubungan yang sehat bukan hanya mengenai kewajiban, tetapi juga mengenai rasa dihargai.
Rasa bersalah sering memainkan peran besar
Dalam keluarga, rasa bersalah dapat menjadi alat yang sangat kuat.
Seorang anak mungkin mendengar:
“Setelah semua yang kami lakukan untukmu...”
“Kamu anak kami, masa tidak mau membantu?”
“Orang tua cuma punya kamu.”
“Kamu sekarang sudah berubah sejak menikah.”
Jika kalimat-kalimat semacam itu digunakan secara terus-menerus untuk memaksa seseorang memenuhi keinginan orang lain, hubungan dapat terasa seperti kewajiban tanpa ruang untuk memilih.
Pada titik tertentu, membatasi kontak dapat menjadi cara seseorang keluar dari siklus tersebut.
Bukan karena ia tidak memiliki rasa terima kasih, melainkan karena ia menyadari bahwa rasa terima kasih tidak berarti seseorang harus menyerahkan seluruh kehidupannya kepada orang lain.
5. Anak Dewasa Ingin Menghentikan Pola Keluarga yang Tidak Sehat
Alasan kelima adalah keinginan untuk memutus pola yang dianggap merusak dan tidak ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pola keluarga dapat berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Misalnya:
Orang tua dibesarkan dengan kekerasan → kemudian menggunakan kekerasan kepada anak → anak tumbuh dengan keyakinan bahwa kekerasan adalah cara mendidik → kemudian berisiko mengulanginya kepada anak sendiri.
Tentu saja, seseorang tidak otomatis mengulangi apa yang dialaminya. Banyak orang justru menggunakan pengalaman buruk sebagai alasan untuk menciptakan pola yang berbeda.
Seorang anak dewasa mungkin menyadari:
“Saya tidak ingin anak saya tumbuh dalam lingkungan seperti yang saya alami dulu.”
Kesadaran seperti ini dapat membuat seseorang menetapkan batas yang lebih tegas terhadap orang tuanya.
Contohnya, seorang kakek atau nenek mungkin menggunakan metode pengasuhan yang menurut anak sudah tidak dapat diterima. Jika batas yang diberikan tidak dihormati, anak dewasa mungkin mengurangi interaksi demi melindungi keluarganya sendiri.
Pada tahap ini, keputusan menjaga jarak bukan hanya berkaitan dengan hubungan antara anak dan orang tua.
Ada generasi berikutnya yang juga dipertimbangkan.
Memutus pola bukan berarti membenci keluarga
Sebaliknya, terkadang seseorang justru mengambil jarak karena ia ingin membangun pola keluarga yang berbeda.
Ia mungkin ingin anaknya tumbuh dengan:
komunikasi yang terbuka;
batas pribadi yang dihormati;
disiplin tanpa penghinaan;
kebebasan untuk menyampaikan perasaan;
hubungan yang tidak dibangun atas rasa takut;
serta kasih sayang yang tidak bergantung pada kepatuhan.
Dalam perspektif ini, menjaga jarak dapat menjadi bagian dari proses perubahan antargenerasi.
Tidak Semua Jarak Berarti “Broken Family”
Ada kecenderungan untuk melihat hubungan keluarga secara hitam-putih.
Jika seorang anak masih sering berkomunikasi dengan orang tuanya, hubungan dianggap baik.
Jika seorang anak menjauh, hubungan dianggap buruk dan anak dianggap sebagai penyebabnya.
Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.
Ada hubungan yang terlihat dekat tetapi penuh konflik tersembunyi.
Ada pula hubungan yang jarang berkomunikasi tetapi tetap memiliki rasa hormat dan kasih sayang.
Karena itu, frekuensi komunikasi bukan satu-satunya indikator kesehatan hubungan.
Yang lebih penting adalah kualitas interaksi, rasa aman, penghormatan terhadap batas, kemampuan menyelesaikan konflik, serta apakah kedua pihak dapat menjadi diri sendiri tanpa terus-menerus merasa takut atau tertekan.
Apakah Membatasi Kontak dengan Orang Tua Selalu Merupakan Keputusan yang Benar?
Tidak selalu.
Psikologi tidak memberikan aturan sederhana bahwa setiap orang yang memiliki konflik dengan orang tua harus memutus hubungan.
Sebaliknya, keputusan tersebut perlu dilihat berdasarkan konteks.
Ada konflik yang sebenarnya masih dapat diselesaikan melalui komunikasi.
Ada hubungan yang membutuhkan batas lebih jelas.
Ada situasi yang membutuhkan bantuan profesional.
Dan ada pula kondisi ketika menjaga jarak merupakan pilihan yang paling aman dan realistis bagi seseorang.
Yang penting adalah memahami alasan di balik keputusan tersebut.
Seseorang dapat bertanya kepada dirinya sendiri:
“Apakah saya menjauh untuk melindungi diri atau sekadar ingin menghukum mereka?”
“Apakah ada batas yang sudah saya komunikasikan tetapi terus dilanggar?”
“Bagaimana perasaan saya sebelum, selama, dan setelah berinteraksi dengan mereka?”
“Apakah hubungan ini masih memungkinkan adanya rasa hormat dari kedua pihak?”
“Apa yang saya butuhkan agar hubungan ini menjadi lebih sehat?”
Pertanyaan semacam itu dapat membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih sadar.
Hubungan Orang Tua dan Anak Tidak Harus Sempurna
Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang keluarga adalah keyakinan bahwa hubungan darah secara otomatis membuat sebuah hubungan menjadi sehat.
Hubungan biologis memang tidak dapat diubah.
Tetapi cara orang dewasa berhubungan satu sama lain dapat berubah.
Anak yang sudah dewasa bukan lagi sekadar anak yang harus mengikuti seluruh keputusan orang tuanya. Ia adalah individu dengan kebutuhan, nilai, batas, dan kehidupan sendiri.
Begitu pula orang tua tidak harus selalu menjadi pihak yang salah dalam setiap konflik. Orang tua juga manusia yang memiliki sejarah, luka, keterbatasan, dan kesalahan.
Karena itu, tujuan idealnya bukan mencari siapa yang paling bersalah.
Tujuannya adalah memahami pola hubungan.
Jika hubungan masih dapat diperbaiki, komunikasi yang jujur dan sehat dapat menjadi jalan.
Jika hubungan membutuhkan batas, batas dapat dibangun.
Jika seseorang membutuhkan bantuan untuk memahami luka masa lalu, psikoterapi atau konseling dapat menjadi pilihan.
Dan jika hubungan tertentu memang terus memberikan dampak yang sangat buruk, seseorang mungkin perlu mempertimbangkan jarak yang lebih besar.
Kesimpulan
Ketika anak yang telah dewasa memilih untuk tidak berhubungan atau membatasi kontak dengan orang tuanya, keputusan tersebut tidak selalu dapat dijelaskan dengan kalimat sederhana seperti “anak tidak tahu berterima kasih” atau “anak sekarang terlalu egois.”
Dari perspektif psikologi, ada banyak kemungkinan yang melatarbelakanginya.
Lima di antaranya adalah:
Interaksi dengan orang tua terus-menerus menguras emosi.
Batas pribadi sebagai orang dewasa tidak dihormati.
Ada luka masa kecil yang masih memengaruhi hubungan hingga sekarang.
Hubungan terasa satu arah dan dibangun melalui rasa bersalah atau kewajiban.
Anak ingin menghentikan pola keluarga yang tidak sehat agar tidak diwariskan kepada generasi berikutnya.
Namun, perlu diingat bahwa tidak ada satu alasan yang berlaku untuk semua keluarga.
Memutus atau membatasi hubungan merupakan keputusan yang sangat personal. Yang sehat bagi satu orang belum tentu sehat bagi orang lain.
Pada akhirnya, kedewasaan dalam hubungan keluarga bukan hanya tentang tetap bersama karena hubungan darah. Kedewasaan juga berarti mampu memahami kapan sebuah hubungan membutuhkan komunikasi, kapan membutuhkan batas, dan kapan seseorang perlu mengambil jarak untuk menjaga dirinya sendiri.
Hubungan keluarga yang sehat seharusnya tidak hanya dibangun atas kewajiban, tetapi juga atas rasa aman, penghormatan, empati, dan kebebasan untuk menjadi diri sendiri.