← Beranda
1 dari 20 Remaja Indonesia Alami Gangguan Mental, Pola Parenting hingga Media Sosial Bisa Jadi Penyebabnya
Tazkia Royyan HikmatiarKamis, 23 Juli 2026 | 21.08 WIB
Ilustrasi gangguan mental. (its.ac.id)

JawaPos.com - Sebanyak 1 dari 20 remaja di Indonesia atau sekitar 5,5 persen telah didiagnosis mengalami gangguan mental. Kondisi ini dipengaruhi banyak faktor mulai dari pola asuh orang tua, perubahan yang terjadi pada masa remaja, lingkungan sosial, hingga paparan media sosial.

Ketua Pengurus Pusat IDAI Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A., Subsp.Kardio(K) mengatakan, anggapan bahwa gangguan mental hanya dialami orang dewasa masih banyak ditemukan di masyarakat. Padahal, gangguan mental juga dapat terjadi pada anak dan remaja, bahkan sering kali sulit dikenali.

"Kadang-kadang gangguan mental pada anak tidak mudah dideteksi sehingga perlu kepekaan dari orang tuanya," ujar dr. Piprim kepada wartawan, Rabu (22/7).

Baca Juga: Cara Orang Tua Ajarkan Anak Terhindar dari Perundungan. Gangguan Mental Jadi Taruhannya

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI Dr. Angga Wirahmadi, Sp.A., Subsp.T.K.P.S.(K) memaparkan, masalah kesehatan mental pada remaja merupakan persoalan global. Secara global, 1 dari 7 remaja mengalami gangguan mental dengan jenis yang paling banyak berupa depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku.

Di Indonesia, berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey 2022, terdapat sekitar 15,5 juta atau satu dari tiga remaja yang memiliki masalah kesehatan mental. Permasalahan yang paling banyak ditemukan meliputi kecemasan, hiperaktivitas, depresi, gangguan perilaku, dan stres.

Setelah menjalani evaluasi oleh tenaga kesehatan, sekitar 5,5 persen atau satu dari 20 remaja Indonesia didiagnosis mengalami gangguan mental, seperti gangguan cemas, depresi, gangguan perilaku, gangguan stres pascatrauma (PTSD), hingga hiperaktivitas.

Lantas, apa saja penyebab anak mengalami masalah gangguan mental?

Pola Parenting Berpengaruh

dr. Piprim menjelaskan, salah satu penyebab yang dapat memicu gangguan mental pada anak adalah pola pengasuhan di rumah. Selain itu, lingkungan sekolah dan perundungan juga berkontribusi terhadap munculnya masalah kesehatan mental.

Menurutnya, orang tua yang menetapkan target terlalu tinggi kepada anak dapat membuat mereka terus berada dalam tekanan. Ia mencontohkan kasus yang sempat ramai di media sosial, ketika seorang ibu mengeluhkan anaknya yang baru sehari masuk sekolah karena dianggap tidak akan menjadi juara kelas.

"Ini gambaran orang tua yang luar biasa ambisius. Anaknya baru satu hari masuk sekolah, kemudian ibunya sudah komplain anaknya enggak bakal jadi juara. Ini kan ke depannya menekan dari orang tuanya sendiri," katanya.

Karena itu, dr. Piprim mengingatkan orang tua untuk menerapkan pola asuh yang hangat dan penuh kasih sayang. Anak sebaiknya diberi stimulasi sesuai kebutuhannya tanpa dibebani target-target yang berlebihan.

Masa Remaja Jadi Periode Rentan

Sementara itu, dr. Angga menjelaskan bahwa remaja merupakan fase transisi yang membuat mereka lebih rentan mengalami gangguan mental. Pada masa ini terjadi perubahan fisik akibat pubertas, perubahan cara berpikir, perubahan psikologis, hingga perubahan sosial.

Ia mengatakan, perubahan hormon dapat meningkatkan agresivitas sehingga risiko terjadinya perundungan atau kekerasan antarremaja ikut meningkat. Di sisi lain, remaja mulai lebih memperhatikan penampilan, mencari jati diri, dan ingin diterima oleh lingkungan pertemanannya.

Kemampuan mengendalikan emosi dan mengambil keputusan juga belum berkembang secara optimal karena otak remaja baru mencapai kematangan pada usia sekitar 24 hingga 25 tahun.

Paparan Media Sosial Ikut Memengaruhi

Selain perubahan biologis dan sosial, paparan media sosial juga menjadi salah satu faktor yang membuat remaja lebih rentan mengalami masalah kesehatan mental.

"Yang terakhir, mengapa permasalahan ini sering terjadi pada remaja adalah karena paparan media sosial," kata Angga.

Ia menekankan bahwa penanganan gangguan mental pada anak dan remaja membutuhkan peran bersama, mulai dari orang tua melalui pola asuh yang sehat, sekolah yang menciptakan lingkungan aman, hingga masyarakat yang lebih peduli terhadap kesehatan mental anak.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah