← Beranda
Libur Sekolah Jadi Momentum Dorong Anak Lebih Aktif Bermain di Luar Ruangan
Dimas ChoirulRabu, 24 Juni 2026 | 15.03 WIB
Ilutrasi sejumlah anak mengisi liburan sekolah dengan aktivitas di luar ruangan dengan menanam padi.(Istimewa).

JawaPos.com - Libur sekolah sering kali diiringi peningkatan waktu penggunaan gawai pada anak. Sejumlah studi menunjukkan bahwa ketika rutinitas sekolah berhenti, anak cenderung lebih banyak menghabiskan waktu secara pasif dibandingkan melakukan aktivitas fisik.

Fenomena tersebut dikenal sebagai Structured Days Hypothesis, yakni kondisi ketika absennya jadwal teratur membuat anak lebih banyak menghabiskan waktu tanpa bergerak. Sejumlah survei juga mencatat bahwa saat libur panjang, durasi screen time anak dapat meningkat hingga sekitar dua setengah jam per hari, sementara aktivitas fisik dan waktu tidur mereka justru menurun.

Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan anak usia sekolah untuk aktif bergerak setidaknya 60 menit setiap hari.

Psikolog Anak dari Tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima, mengatakan masa liburan sebaiknya dimanfaatkan untuk memberi ruang lebih luas bagi anak untuk bermain dan bereksplorasi.

Baca Juga: 4 Ide Seru untuk Isi Liburan Sekolah, Playdate Bareng Teman di Mall

"Yang paling dibutuhkan anak di masa libur sekolah adalah ruang untuk bergerak bebas lewat Adventurous Play. Ini adalah jenis permainan yang sedikit menantang dan seru, seperti berlari bebas atau memanjat, namun tetap dalam kendali," ujar Saskhya dalam kegiatan komunitas yang membahas tumbuh kembang anak di Jakarta, dikutip Rabu (24/6).

Menurut dia, permainan yang menantang tetapi tetap aman dapat menjadi sarana bagi anak untuk belajar menghadapi ketidakpastian, mengambil keputusan, dan membangun rasa percaya diri.

Saskhya menilai orang tua juga perlu memberikan kepercayaan kepada anak tanpa menghilangkan pengawasan.

"Ketenangan ibu itu menular dan sangat krusial. Kalau kita terlalu mudah cemas atau sedikit sedikit melarang, anak justru akan menyembunyikan rasa sakit atau lelahnya karena takut disuruh berhenti bermain," jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa anak usia sekolah dasar belum sepenuhnya mampu mengenali sinyal tubuhnya sendiri. Ketika sedang asyik bermain, rasa lelah maupun haus kerap tertutupi oleh antusiasme dan adrenalin.

Karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Menurut Saskhya, sikap rewel, mudah marah, atau lesu dapat menjadi tanda awal bahwa tubuh anak mulai mengalami kekurangan cairan.

"Perubahan sikap dadakan ini sebenarnya adalah cara mereka meminta bantuan (co regulation) sekaligus alarm awal bahwa tubuh mereka mulai dehidrasi," katanya.

Sementara itu, Senior Brand Manager Cap Kaki Tiga Anak, Jesica Christianty, mengatakan banyak orang tua menghadapi dilema saat mengizinkan anak bermain di luar rumah selama masa liburan.

"Kami sangat mengerti dilema yang dihadapi para ibu saat liburan sekolah tiba. Para ibu sadar betul anaknya butuh jeda dari gadget dan ingin mereka aktif bereksplorasi di luar ruangan. Namun pada saat yang sama, kekhawatiran bahwa anak akan drop atau jatuh sakit akibat cuaca yang tidak menentu kerap kali menghantui," ujar Jesica.

Menurut dia, kekhawatiran tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk membatasi ruang gerak anak. Orang tua tetap dapat mendukung aktivitas eksplorasi anak dengan memastikan kebutuhan istirahat dan cairan tubuh mereka terpenuhi.

Di akhir acara, Saskhya menegaskan bahwa ketangguhan anak tidak terbentuk dengan menghilangkan seluruh risiko dalam kehidupannya, melainkan melalui proses belajar yang didampingi oleh orang tua.

"Langkah awal #BaikUntukAnak bukan menghapus semua risiko dari dunia anak, tapi membekali diri kita agar berani melepas. Anak menjadi tangguh bukan karena dilindungi dari segala hal, melainkan karena dipercaya, sambil tahu ibunya selalu bisa ia jangkau," pungkasnya.

EDITOR: Mohamad Nur Asikin