← Beranda
7 Kebiasaan Orang Tua Sehari-hari yang Tanpa Disadari Membentuk Karakter Anak
Naila Putri SaragihKamis, 18 Juni 2026 | 20.10 WIB
kebiasaan sederhana yang membentuk karakter anak./pexels.com

Jawapos.com - Sadar atau tidak, anak-anak selalu mengamati dan meniru cara kita berbicara, mendengarkan, hingga cara kita merespons sebuah kegagalan. 

Itulah mengapa kebiasaan kecil yang kita lakukan di rumah setiap hari jauh lebih kuat pengaruhnya daripada sekadar instruksi verbal. 

Jauh lebih besar dari itu, karakter anak terbentuk dari akumulasi kebiasaan kecil yang dilakukan orang tua setiap harinya cara menyapa di pagi hari, cara merespons kesalahan, cara berbicara kepada pasangan, hingga cara menghadapi tekanan dan kekecewaan.

Anak-anak adalah pengamat alami yang menyerap nilai-nilai dari lingkungan terdekatnya jauh sebelum mereka mampu memahaminya secara verbal. 

Oleh karena itu, perubahan terbesar dalam pengasuhan tidak selalu dimulai dari perubahan cara mendisiplinkan anak, melainkan dari perubahan kebiasaan orang tua itu sendiri.

Memahami kebiasaan harian yang berdampak besar pada karakter anak adalah langkah pertama menjadi orang tua yang lebih sadar dan bertumbuh bersama anak.

Melansir Kemenkes RI, KlikDokter, dan Fakultas Psikologi UI, ini dia 7 kebiasaan sehari-hari orang tua yang tanpa disadari ikut andil dalam membentuk karakter dan masa depan anak :

1. Cara Orang Tua Merespons Emosi Mereka Sendiri
Ketika orang tua mampu menghadapi stres, kecewa, atau marah dengan tenang baik dengan mengambil napas dalam-dalam, berbicara dengan nada yang terkendali, atau mengakui perasaan mereka secara terbuka anak belajar bahwa emosi adalah sesuatu yang bisa dikelola, bukan ditekan atau diledakkan.

2. Kebiasaan Mendengarkan Aktif
Meluangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan apa yang anak ceritakan, tanpa memotong atau langsung memberikan solusi, mengajarkan anak bahwa suara mereka penting dan berharga.

Kebiasaan ini membangun kepercayaan diri serta kemampuan berkomunikasi yang akan mereka bawa hingga dewasa.

3. Cara Berbicara tentang Diri Sendiri dan Orang Lain
Komentar yang diucapkan orang tua tentang diri mereka sendiri ("Aku bodoh, selalu salah") atau tentang orang lain akan diinternalisasi oleh anak sebagai cara yang normal untuk memandang dunia.

Bahasa yang digunakan orang tua membentuk cara anak menilai diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

4. Rutinitas Membaca dan Belajar Bersama
Orang tua yang secara konsisten meluangkan waktu untuk membaca, berdiskusi tentang hal-hal baru, atau belajar bersama anak mengirimkan pesan yang kuat: bahwa belajar adalah aktivitas yang menyenangkan dan berlangsung seumur hidup.

Kebiasaan ini membangun rasa ingin tahu dan kecintaan anak pada pengetahuan.

5. Cara Merespons Kegagalan dan Kesalahan
Orang tua yang merespons kesalahan anak dan kesalahan diri sendiri dengan rasa ingin tahu ("Apa yang bisa kita pelajari dari ini?") alih-alih dengan kritik keras, mengajarkan anak bahwa kegagalan adalah bagian dari proses bertumbuh, bukan sesuatu yang memalukan.

6. Konsistensi antara Ucapan dan Tindakan
Anak dengan cepat menangkap ketidakkonsistenan antara apa yang diajarkan dan apa yang dipraktikkan orang tua. Ketika ucapan dan tindakan selaras misalnya orang tua yang mengajarkan kejujuran dan secara nyata berlaku jujur anak menyerap nilai tersebut jauh lebih dalam dibandingkan sekadar instruksi verbal.

7. Kebiasaan Mengucapkan Terima Kasih, Maaf, dan Tolong
Ketiga kata ini bukan sekadar kesopanan formalitas ia adalah cara orang tua menunjukkan bahwa setiap orang, termasuk anak kecil sekalipun, layak mendapatkan penghargaan dan rasa hormat.

Orang tua yang terbiasa mengucapkan ketiga kata ini akan membesarkan anak yang tumbuh dengan empati dan rasa hormat terhadap sesama.

EDITOR: Hanny Suwindari