← Beranda
6 Tips Dampingi Anak Neurodivergent saat Libur Sekolah
Nurul Adriyana SalbiahSabtu, 13 Juni 2026 | 03.30 WIB
Ilustrasi liburan sekolah. (Istimewa)

JawaPos.com – Libur sekolah menjadi salah satu momen menyenangkan bagi anak-anak. Tapi, bagi orang tua dengan anak yang memiliki neurodivergent, libur sekolah kerap menjadi periode penuh tantangan.

Libur sekolah bagi anak neurodivergent, seperti anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD), Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), disleksia, atau gangguan pemrosesan sensorik, bisa menimbulkan persoalan. Sebab, liburan sekolah sering berkurangnya struktur, lebih banyak waktu yang tidak terencana, dan paparan lingkungan baru.

Bagi anak autistik, perubahan rutinitas tersebut rentan menimbulkan perasaan cemas. Sementara anak dengan ADHD cenderung kesulitan mengatur perhatian, energi, dan impulsivitas tanpa pegangan jadwal sehari-hari yang biasanya diberikan oleh rutinitas sekolah. 

Baca Juga: Quinn Peringkat T2, Eugene Posisi 10, Thailand Kawinkan Gelar di Mandiri Ciputra Golfpreneur Junior World Championship 2026

Tapi, Ries Sansani, Occupational Therapist dan Lead Coach di Atelier of Minds, justru memandang kalau fenomena ini bisa menjadi momen krusial. Di mana anak memiliki peluang tumbuh, jika orang tua memiliki bekal yang tepat. 

Baginya, libur sekolah bukan musuh anak neurodivergent. Sebab, yang menjadi tantangan adalah ketidaksiapan transisi. 

“Ketika orang tua tahu bagaimana menciptakan struktur yang fleksibel dan lingkungan yang aman secara sensorik, liburan bisa menjadi waktu yang benar-benar bermakna untuk perkembangan anak," ujar Ries. 

Untuk itu, orang tua harus siap dengan bekal ketika menghadapi libur sekolah agar anak tetap bisa tumbuh. Tidak ‘hilang arah’ dan tetap menyenangkan.

1.     Buat "Kalender Visual" 

Sebelum hari pertama libur tiba, ajak anak duduk bersama dan buat kalender visual yang menampilkan gambaran aktivitas setiap harinya, bisa menggunakan gambar, stiker, atau warna-warna berbeda untuk setiap jenis kegiatan. Menjaga rutinitas selama liburan dapat mengurangi stres karena jadwal yang familiar membantu menurunkan kecemasan dan mencegah meltdown. 

Membuat jadwal visual dengan warna, stiker, atau emoji dapat menjadikan perencanaan terasa menyenangkan, sambil tetap menyertakan aktivitas rutin di samping rencana khusus liburan. 

“Visualisasi jadwal bukan sekadar alat bantu, ini adalah bahasa keamanan bagi otak anak neurodivergent. Ketika anak tahu apa yang akan terjadi, otak tidak perlu bekerja keras untuk 'waspada', sehingga energi bisa dialihkan untuk belajar dan bermain," jelas Ries. 

2.     Pertahankan Tiga Jangkar Rutinitas: Waktu Bangun, Makan, dan Tidur 

Di tengah fleksibilitas liburan, tiga hal ini harus tetap konsisten setiap hari. Mempertahankan waktu makan dan waktu tidur yang konsisten, bahkan saat bepergian sekalipun, adalah salah satu strategi kunci untuk menjaga kestabilan anak neurodivergent selama masa liburan 

3.     Siapkan "Peta" Sebelum Setiap Aktivitas Baru 

Sebelum mengajak anak ke tempat yang belum pernah dikunjungi, entah itu mall, rumah saudara, atau taman bermain baru, berikan gambaran visual atau verbal tentang apa yang akan terjadi. Berikan pemberitahuan awal tentang perubahan yang akan terjadi, misalnya ‘Setelah makan siang, kita akan pergi ke rumah Tante. Di sana ada sepupu-sepupu dan musik. Mari kita bicarakan apa yang mungkin bisa membantumu merasa nyaman di sana.’ Prediktabilitas mengurangi kecemasan dan membantu otak fokus pada adaptasi, bukan pada reaksi. 

4.     Ciptakan "Sudut Tenang" di Rumah 

Setiap rumah yang ada anak neurodivergent di dalamnya idealnya memiliki satu sudut yang dirancang khusus sebagai zona pemulihan sensorik, bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai tempat perlindungan yang aman. Riset menunjukkan bahwa anak neurodivergent mendapat manfaat dari istirahat sensorik dan emosional selama aktivitas liburan. 

Ciptakan zona tenang di rumah dengan selimut berbobot (weighted blanket), pencahayaan lembut, dan noise-cancelling headphone sebagai bagian dari perlengkapan sehari-hari. 

5.     Prioritaskan Aktivitas Berbasis Gerak dan Eksplorasi Sensorik 

Jangan isi liburan hanya dengan layar. Terapi integrasi sensori terbukti efektif pada anak-anak dengan cerebral palsy, gangguan spektrum autisme, ADHD, gangguan perkembangan, dan disabilitas intelektual, berdasarkan meta-analisis terhadap 24 studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah terapi okupasi. Aktivitas sederhana seperti bermain tanah liat, memasak bersama, berenang, atau berkebun bisa menjadi terapi sensori alami yang menyenangkan selama liburan. Yang penting biarkan anak memimpin, dan ikuti ritme mereka. 

6.     Pertimbangkan Program Pendampingan Inklusif Terstruktur 

Liburan panjang tidak harus berarti kehilangan momentum perkembangan yang sudah dibangun selama semester. Mendaftarkan anak ke program student care atau pengayaan inklusif yang dirancang khusus untuk anak neurodivergent bisa menjadi solusi yang menguntungkan semua pihak. Anak mendapatkan struktur dan stimulasi yang tepat, sementara orang tua mendapatkan ketenangan pikiran. 

Atelier of Minds hadir sebagai student care dan enrichment center inklusif yang dirancang untuk mendampingi anak dengan beragam profil belajar, termasuk anak neurodivergent, dalam lingkungan yang menerima, terstruktur, dan dipandu oleh tenaga profesional. 

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah