← Beranda
9 Kesalahan Parenting yang Secara Psikologi Dihindari Orang Tua Cerdas demi Masa Depan Anak yang Baik
Mohammad Maulana IqbalRabu, 3 Juni 2026 | 00.27 WIB
Kesalahan parenting yang dihindari orang tua cerdas demi masa depan anak kata psikologi (Magnific/ jcomp)

 

 

JawaPos.com – Parenting yang baik bukan soal sempurna, melainkan soal kesadaran untuk terus belajar dan menghindari kesalahan yang bisa berdampak jangka panjang pada anak.

Secara psikologi, kebiasaan pengasuhan yang tampak sepele bisa memberikan dampak besar pada kepercayaan diri, ketangguhan, dan kemandirian anak di masa depan.

Orang tua yang cerdas memahami bahwa tidak ada tombol ulang dalam membesarkan anak, sehingga setiap pilihan pengasuhan layak dipertimbangkan dengan matang.

Dilansir dari laman YourTango pada Selasa (2/6), berikut sembilan kesalahan parenting yang secara konsisten dihindari oleh orang tua yang benar-benar memahami kebutuhan tumbuh kembang anak mereka.

1. Tidak merawat diri sendiri

Prinsip "pasang masker oksigenmu sendiri lebih dulu" berlaku penuh dalam pengasuhan karena orang tua yang kelelahan tidak bisa memberi yang terbaik bagi anaknya.

Menjaga kesehatan fisik dan mental bukanlah tindakan egois, melainkan investasi langsung dalam kualitas pengasuhan yang diberikan setiap harinya.

Orang tua yang terbakar habis secara emosional cenderung lebih mudah reaktif, kurang sabar, dan tidak hadir secara penuh untuk anak-anaknya.

2. Percaya bahwa anak harus selalu bahagia

Psikolog klinis Erica Wollerman memperingatkan bahwa membiarkan anak menghadapi kegagalan lebih awal justru membuat kesalahan mereka lebih mudah ditangani dan memperkuat ketangguhan.

Membebaskan anak dari setiap kesulitan merampas kesempatan mereka untuk melatih keterampilan bertahan dan menciptakan kebahagiaannya sendiri sebagai orang dewasa.

Anak yang terpapar berbagai emosi termasuk kesedihan dan frustrasi justru tumbuh dengan kemampuan koping yang jauh lebih kuat dan mandiri.

3. Menganggap satu bakat sudah cukup

Mendefinisikan nilai seorang anak hanya dari satu kelebihan, baik kecerdasan, atletisme, maupun penampilan, adalah pendekatan yang sangat berisiko dalam jangka panjang.

Cedera, nilai buruk, atau perubahan fisik bisa langsung meruntuhkan kepercayaan diri anak yang identitasnya hanya terikat pada satu atribut tunggal.

Anak membutuhkan beragam kekuatan yang bisa mereka andalkan tidak hanya di masa kecil, tetapi sepanjang perjalanan hidupnya yang penuh perubahan.

4. Menganggap kebosanan sebagai hal buruk

Kebosanan justru bisa menjadi titik lahir dari kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah yang sangat dibutuhkan anak di masa depan.

Anak-anak yang terlalu dijejali jadwal dan stimulasi tidak terlindungi dari masalah, melainkan justru terganggu kesehatan dan imajinasi mereka.

Kemampuan merasa nyaman tanpa stimulasi konstan adalah keterampilan berharga yang akan melayani anak dengan sangat baik sepanjang hidupnya.

5. Melindungi anak dari konsekuensi alami

Profesor psikologi Dr. Michael G. Wetter menegaskan bahwa anak perlu belajar bahwa kegagalan memenuhi tanggung jawab akan melahirkan konsekuensi yang lebih besar.

Membiarkan anak merasakan kekecewaan dan rasa sakit dari pilihan mereka sendiri adalah cara paling efektif untuk mengajarkan hubungan sebab akibat secara nyata.

Setiap bantalan yang dipasang orang tua adalah pelajaran yang tidak akan dimiliki anak ketika taruhan dalam kehidupan nyata menjadi jauh lebih tinggi.

6. Terus-menerus membuat alasan untuk anak

Ketika orang tua selalu membenarkan perilaku buruk anak, anak tidak pernah belajar untuk bertanggung jawab atas tindakan yang mereka lakukan sendiri.

Kebiasaan ini dengan cepat berkembang menjadi mentalitas korban di mana anak selalu merasa segala sesuatu adalah kesalahan orang atau keadaan lain.

Orang dewasa yang sukses adalah mereka yang bertanggung jawab atas perilakunya, dan keterampilan itu harus dibangun sejak dini melalui pengasuhan yang konsisten.

7. Tidak memberikan tugas yang sesuai usia

Anak yang meninggalkan rumah tanpa keterampilan dasar seperti memasak, membersihkan, atau membuat janji sendiri akan kesulitan bertransisi ke kehidupan dewasa.

Meminimalkan tanggung jawab anak bukan melindungi mereka, melainkan merampas kesempatan mereka untuk membangun kepercayaan diri melalui kompetensi nyata.

Tugas-tugas kecil yang diberikan secara bertahap sejak dini adalah fondasi dari kemandirian yang akan dibutuhkan anak sepanjang hidupnya.

8. Memberikan terlalu banyak atau terlalu sedikit pilihan

Pilihan yang tidak terbatas menciptakan rasa kewalahan, sementara tidak ada pilihan sama sekali menumbuhkan keraguan diri yang menghambat perkembangan anak.

Memberi dua hingga tiga pilihan pada anak dan membiarkan mereka memutuskan adalah cara efektif untuk membangun kemampuan pengambilan keputusan yang sehat.

Tujuannya bukan mengajarkan anak untuk selalu benar, melainkan melatih mereka untuk belajar mempercayai pertimbangan dan penilaian diri mereka sendiri.

9. Memanjakan anak secara berlebihan

Anak yang tidak memiliki batasan tumbuh dengan perasaan tidak aman karena batas justru memberi mereka rasa aman yang dibutuhkan untuk berkembang.

Mengatakan tidak pada keinginan anak dan perilaku yang tidak diinginkan adalah hadiah nyata yang mengajarkan pengendalian diri sejak usia dini.

Anak yang tumbuh dengan batasan yang jelas dan konsisten cenderung berkembang menjadi orang dewasa yang lebih mandiri, bahagia, dan mampu mengatur dirinya sendiri.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti