← Beranda
9 Tanda Diam yang Ungkap Trauma Masa Kecil Menyakitkan dan Berdampak Kesehatan Mental Secara Psikologi
Mohammad Maulana IqbalKamis, 28 Mei 2026 | 20.07 WIB
tanda ungkap trauma masa kecil dan kesehatan mental secara psikologi./Magnific/ jcomp

JawaPos.com – Trauma masa kecil tidak selalu terlihat jelas dari luar, namun secara psikologi ia meninggalkan jejak yang dalam pada perilaku seseorang hingga dewasa.

Tanda-tanda yang ditinggalkan oleh luka masa kecil ini sering kali tersembunyi di balik kebiasaan sehari-hari yang tampak biasa namun menyimpan makna mendalam.

Memahami tanda-tanda ini penting untuk menjaga kesehatan mental, baik bagi diri sendiri maupun orang-orang terkasih di sekitar kita.

Dilansir dari laman YourTango pada Rabu (27/5), berikut sembilan tanda diam yang ungkap trauma masa kecil menyakitkan dan berdampak kesehatan mental secara psikologi.

1. Sangat peka terhadap suasana hati orang lain

Anak-anak yang tumbuh di lingkungan tidak stabil belajar membaca emosi orang lain sebagai mekanisme bertahan hidup sejak dini.

Psikolog Dr. Nicole LePera menjelaskan bahwa energi sosial orang seperti ini habis untuk mendeteksi perasaan orang lain, bukan menyadari kebutuhan diri sendiri.

Baterai sosial yang cepat habis bisa menjadi sinyal bahwa trauma lama masih memengaruhi kemampuan seseorang untuk hadir secara penuh dalam interaksi.

2. Terlalu bergantung atau terlalu mandiri

Orang yang tumbuh dengan orang tua yang tidak hadir secara emosional sering berkembang menjadi sangat bergantung atau sebaliknya, sangat mandiri.

Perasaan ditinggalkan di masa kecil menciptakan keyakinan bahwa diri sendiri adalah satu-satunya orang yang bisa diandalkan dalam hidup.

Pola ini menciptakan siklus tidak sehat dalam hubungan, di mana seseorang bisa menjadi penopang terbaik lalu tiba-tiba menghilang secara emosional.

3. Kebersihan diri yang kurang terjaga

Pada banyak kasus, anak-anak yang tumbuh di lingkungan toksik menggunakan penampilan dan kebersihan diri sebagai satu-satunya bentuk kontrol yang mereka miliki.

Penelitian menunjukkan korelasi antara kesehatan gigi yang buruk dengan pengalaman buruk di masa kecil yang terbawa hingga usia dewasa.

Kebiasaan ini bisa menciptakan siklus menyedihkan di mana penolakan sosial yang muncul justru memperburuk kondisi batin seseorang.

4. Meminta maaf secara berlebihan

Selalu waspada terhadap perasaan orang lain membuat sebagian orang meminta maaf bahkan dalam situasi yang sama sekali bukan kesalahan mereka.

Perilaku ini sering berdampingan dengan gaya kelekatan yang cemas, di mana menyenangkan orang lain terasa lebih aman daripada mengungkapkan kebutuhan sendiri.

Pola inilah yang membuat banyak orang dewasa dengan trauma lama kesulitan membangun dan mempertahankan hubungan yang sehat dan setara.

5. Sulit berkomitmen atau jatuh cinta terlalu cepat

Banyak orang dengan luka masa kecil mengalami ketidakseimbangan saat mulai menjalin hubungan baru dengan orang lain.

Terputus dari emosi dan kebutuhan diri sendiri, mereka kesulitan menemukan atau mempertahankan koneksi yang benar-benar memuaskan dan bermakna.

Sebagian lainnya justru menolak komitmen sepenuhnya karena lebih memilih melindungi diri daripada mengambil risiko membuka hati.

6. Terlalu fokus pada kenyamanan orang lain

Alih-alih menyelesaikan konflik secara seimbang, mereka cenderung mengorbankan kebutuhan diri demi memastikan semua orang di sekitarnya merasa baik-baik saja.

Ini adalah respons "anak adaptif" yang berkembang ketika seseorang merasa tidak aman, dan mendorong mereka mengubah kepribadian demi menjaga kedamaian.

Terapis Terry Real menyebut pola ini bisa disembuhkan dengan bertransisi menjadi "orang dewasa yang bijak" yang tidak lagi membuat keputusan dari mode bertahan hidup.

7. Sering mendiagnosis diri sendiri

Konselor berlisensi Jamie Cannon mencatat bahwa trauma kronis dapat membuat seseorang menjadi sangat perlu mengontrol situasi, termasuk kondisi dirinya sendiri.

Ketika merasa tidak sehat atau terguncang secara mental, mereka cepat mencari label atau diagnosis untuk mendapatkan rasa aman dari penjelasan yang pasti.

Meskipun tidak selalu akurat, tindakan mendiagnosis diri sendiri ini memberi mereka ilusi kendali atas sesuatu yang terasa tidak bisa mereka kuasai.

8. Menyimpan rahasia-rahasia kecil yang tidak masuk akal

Orang dengan luka masa kecil terkadang menyimpan rahasia kecil yang sebenarnya tidak berbahaya, seperti pergi ke suatu tempat tanpa memberi tahu siapa pun.

Bukan karena menyembunyikan sesuatu yang serius, melainkan karena mereka secara refleks melindungi kesenangan-kesenangan kecil yang mereka miliki dari kemungkinan diambil.

Di dalam diri mereka, masih ada anak kecil yang tidak cukup mempercayai dunia luar untuk menunjukkan semua yang dimilikinya.

9. Merasa semua orang ingin menyakitinya

Paranoia yang tersembunyi di balik perilaku sehari-hari bisa menjadi tanda paling menyedihkan dari luka masa kecil yang belum sembuh.

Ketika atasan membahas kesalahan umum di kantor, mereka langsung yakin bahwa merekalah target yang dimaksud karena dendam pribadi.

Pola pikir ini secara perlahan merusak kemampuan seseorang untuk berkembang di tempat kerja dan membangun hubungan yang penuh kepercayaan dan kebahagiaan.

EDITOR: Hanny Suwindari