← Beranda
Psikolog: Anak yang Fatherless Rentan Jadi Korban Child Grooming hingga Penyimpangan Seksual
Tazkia Royyan HikmatiarSelasa, 28 April 2026 | 03.35 WIB
Ilustrasi child grooming. (Freepik)

JawaPos.com - Psikolog Muhammad Iqbal mengungkapkan anak yang tumbuh tanpa kedekatan dengan figur ayah atau fatherless berisiko lebih tinggi menjadi korban child grooming hingga mengalami penyimpangan seksual.

Menurutnya, berbagai kasus remaja bermasalah dalam hubungan, termasuk kehamilan di luar nikah, kerap memiliki benang merah pada relasi yang tidak sehat dengan ayah atau bahkan justru karena tidak relasi sama sekali dengan ayah.

“Rata-rata anak-anak yang bermasalah dalam pacaran, termasuk hamil di luar nikah, itu punya masalah dengan figur ayah. Termasuk juga anak-anak yang melakukan penyimpangan seksual, ada korelasinya dalam beberapa riset,” ujar Iqbal dalam podcast Banyak Tanya di YouTube Jawa Pos TV, dikutip Senin (27/4).

Iqbal menjelaskan, terutama anak perempuan yang tidak memiliki kedekatan emosional dengan ayah cenderung mencari perhatian dan kasih sayang dari laki-laki di luar rumah.

Baca Juga: Anak Bukan Proyek Prestasi, Tekanan Parenting Modern Picu Risiko Kesehatan Mental

Kondisi ini membuat mereka lebih mudah dimanipulasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab alias child grooming.

“Anak-anak yang tidak dekat dengan ayah ini berisiko mencari perhatian dari luar. Sehingga mereka mudah dibujuk, dirayu, dimanipulasi, dan mudah takluk,” jelasnya.

Sebaliknya, anak perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan ayah dinilai lebih memiliki batasan yang jelas dalam relasi. Mereka juga cenderung terbuka kepada orang tua saat menghadapi pendekatan dari orang lain.

“Kalau anak dekat dengan ayah, dia punya role model. Dia akan terbuka kalau ada yang mendekatinya,” kata Iqbal.

Tak hanya berdampak pada anak perempuan, Iqbal menegaskan kondisi fatherless juga berpengaruh pada anak laki-laki. Figur ayah, menurutnya, merupakan simbol kepemimpinan yang membentuk karakter, kebijaksanaan, serta keseimbangan emosi anak.

Baca Juga: 9 Pertanyaan yang Akan Membantu Anda Memecahkan Masalah, Mengapa Anak Laki-laki Mulai Enggan Terbuka Menurut Ilmu Parenting

“Ayah itu simbol leader, pemimpin yang komunikatif, bijaksana, dan adil. Kalau ini tidak didapat, anak akan mencari figur lain,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya peran ayah sebagai pemimpin dalam keluarga. Ketidakhadiran peran tersebut, baik secara fisik maupun emosional, dapat memengaruhi kondisi psikologis anak.

“Kalau ayah tidak berperan, tidak bertanggung jawab, atau bahkan menyakiti ibu, itu bisa menimbulkan trauma. Anak juga bisa kehilangan respek,” ungkapnya.

Iqbal menambahkan, keharmonisan orang tua menjadi fondasi penting dalam membentuk kesehatan mental anak. Lingkungan keluarga yang hangat dan stabil akan membantu anak memiliki kontrol diri yang baik serta tidak mudah mencari validasi dari luar.

“Kalau orang tua harmonis, mental anak kuat. Mereka lebih sabar, emosinya stabil, dan tidak butuh validasi dari luar karena sudah terpenuhi di rumah,” pungkasnya.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra