JawaPos.com-Libur Lebaran menjadi momen yang paling dinantikan anak-anak. Namun, setelah masa liburan berakhir, banyak anak justru mengalami kesulitan untuk kembali fokus belajar dan menjalani rutinitas sekolah seperti biasa.
Perubahan pola tidur, berkurangnya waktu belajar, hingga kebiasaan santai selama liburan menjadi faktor yang membuat anak membutuhkan waktu untuk beradaptasi kembali.
Dalam situasi ini, peran orang tua sangat penting untuk membantu anak melewati masa transisi tanpa tekanan berlebih.
Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana menekankan bahwa pola asuh yang kurang tepat dapat memengaruhi kemandirian anak, termasuk kesiapan mereka dalam menjalani aktivitas sehari-hari seperti belajar.
Agar anak dapat kembali fokus dan siap menghadapi rutinitas sekolah, berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan orang tua:
1. Kembalikan rutinitas secara bertahap
Anak tidak bisa langsung kembali ke jadwal yang teratur setelah liburan. Orang tua disarankan mulai mengatur ulang jam tidur dan waktu bangun secara perlahan, lalu memperkenalkan kembali waktu belajar agar anak tidak merasa kaget.
2. Hindari memberikan terlalu banyak aturan sekaligus
Mendorong anak untuk disiplin memang penting, tetapi terlalu banyak aturan dalam waktu bersamaan justru bisa membuat anak tertekan.
Fokuslah terlebih dahulu pada kebiasaan utama seperti jam tidur dan belajar, kemudian tambahkan aturan lain secara bertahap.
3. Dorong kemandirian anak
Memberikan kesempatan anak untuk menyelesaikan tugasnya sendiri dapat melatih tanggung jawab sekaligus meningkatkan rasa percaya diri.
Hindari terlalu sering membantu hal-hal yang sebenarnya bisa dilakukan anak.
4. Hindari membandingkan anak dengan orang lain
Membandingkan anak dengan teman atau saudara dapat berdampak buruk pada kepercayaan diri mereka. Orang tua sebaiknya lebih fokus pada perkembangan anak dan memberikan apresiasi atas usaha yang telah dilakukan.
5. Bantu anak mengenali dan mengelola emosi
Rasa malas setelah liburan adalah hal yang wajar. Orang tua tidak perlu langsung memarahi, melainkan mengajak anak berdiskusi dan memahami perasaan mereka agar proses adaptasi berjalan lebih baik.
Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat kembali menjalani rutinitas belajar secara optimal tanpa tekanan berlebihan. (*)