← Beranda
5 Alasan Mengapa Bagian Paling Berisik dan Berantakan dalam Membesarkan Anak Laki-Laki Justru yang Paling Bermakna, Menurut Ilmu Parenting
Vindi Rayinda AyudyaKamis, 2 April 2026 | 18.53 WIB
Ilustrasi membesarkan anak laki-laki. (pexels/Gustavo Fring)

 

JawaPos.com - Membesarkan anak laki-laki sering kali identik dengan suasana rumah yang penuh energi, suara gaduh, dan tidak jarang berantakan. 

Mainan berserakan, suara tawa yang keras, hingga aktivitas fisik yang tak ada habisnya menjadi bagian dari keseharian yang mungkin melelahkan bagi sebagian orang tua. 

Namun tahukah kamu, di balik semua itu, ada makna mendalam yang sering kali tidak disadari.

Dalam perspektif ilmu parenting, fase “berisik dan berantakan” bukanlah sesuatu yang harus dihindari atau ditekan, melainkan bagian penting dari proses tumbuh kembang anak. 

Justru, momen-momen inilah yang menjadi fondasi bagi perkembangan emosional, sosial, dan kognitif mereka di masa depan.

Sering kali orang tua merasa perlu menciptakan lingkungan yang rapi dan tenang, tetapi terlalu mengekang ekspresi anak justru dapat menghambat perkembangan mereka. 

Anak laki-laki, khususnya, cenderung memiliki energi tinggi yang perlu disalurkan melalui aktivitas eksploratif dan interaktif.

Dilansir dari laman Your Tango, berikut adalah 5 alasan mengapa bagian paling berisik dan berantakan dalam membesarkan anak laki-laki justru menjadi momen yang paling bermakna menurut ilmu parenting.

Baca Juga: 0 Kebiasaan Orang Tua yang Diam-diam Membentuk Anak Memiliki Karakter Pembohong di Usia Dewasa, Menurut Penelitian

1. Membantu Mengembangkan Kemampuan Motorik dan Fisik

Aktivitas yang terlihat “berisik” seperti berlari, melompat, atau bermain aktif sebenarnya sangat penting untuk perkembangan motorik anak. 

Melalui aktivitas ini, anak belajar mengontrol tubuhnya, meningkatkan koordinasi, serta memperkuat otot dan keseimbangan.

Lingkungan yang memberi ruang untuk bergerak bebas membantu anak tumbuh lebih sehat dan percaya diri dalam kemampuan fisiknya.

2. Menjadi Sarana Ekspresi Emosi

Anak laki-laki sering kali mengekspresikan emosi mereka melalui tindakan, bukan kata-kata. 

Suara keras, gerakan aktif, atau bahkan kekacauan kecil bisa menjadi cara mereka melepaskan perasaan.

Jika diarahkan dengan baik, hal ini membantu anak belajar mengenali dan mengelola emosinya tanpa harus memendamnya.

Baca Juga: 11 Pelajaran Hidup Paling Dasar yang Sering Dilupakan Orang Tua untuk Diajarkan kepada Anak-Anak Mereka, Simak Apa Saja!

3. Mendorong Kreativitas dan Imajinasi

Kondisi yang tampak berantakan sering kali merupakan hasil dari eksplorasi dan imajinasi anak. 

Mereka mungkin menciptakan “dunia” sendiri melalui permainan, menyusun benda, atau mencoba hal-hal baru.

Proses ini sangat penting untuk mengembangkan kreativitas dan kemampuan problem solving sejak dini.

4. Membentuk Kepercayaan Diri

Ketika anak diberi kebebasan untuk bereksplorasi tanpa terlalu banyak larangan, mereka akan merasa lebih percaya diri. 

Mereka belajar bahwa mereka mampu mencoba, gagal, dan mencoba lagi. Pengalaman ini membentuk mental yang kuat dan tidak mudah menyerah.

5. Menciptakan Kenangan Emosional yang Kuat

Meskipun terasa melelahkan saat dijalani, momen-momen penuh tawa, kekacauan, dan kebersamaan ini justru menjadi kenangan yang paling berharga di kemudian hari.

Anak akan mengingat masa kecilnya sebagai waktu yang penuh kebebasan, cinta, dan kebahagiaan. Hal ini berpengaruh besar terhadap hubungan emosional antara anak dan orang tua.

Kendati bagian paling berisik dan berantakan dalam membesarkan anak laki-laki sering kali dipandang sebagai tantangan, di dalamnya justru tersimpan banyak nilai penting untuk perkembangan mereka. 

Dengan memahami makna di balik setiap momen tersebut, orang tua dapat lebih bijak dalam menyikapinya.

Alih-alih fokus pada kerapian dan ketenangan semata, cobalah melihat dari sudut pandang yang lebih luas, bahwa setiap suara, setiap kekacauan, dan setiap tawa adalah bagian dari proses tumbuh kembang yang tidak tergantikan.

Pada akhirnya, bukan rumah yang selalu rapi yang akan diingat anak, melainkan bagaimana mereka merasa dicintai, diterima, dan diberi ruang untuk menjadi diri mereka sendiri.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti