← Beranda
Orang Tua yang Mengeluh Anaknya Terlalu Sensitif Biasanya Menggambarkan 6 Kepribadian Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahJumat, 13 Maret 2026 | 18.50 WIB
seseorang yang mengeluh anaknya terlalu sensitif. (Freepik/yanalya)

 

JawaPos.com - Di banyak keluarga, kita sering mendengar keluhan seperti: “Anak sekarang terlalu sensitif.” Sedikit ditegur langsung menangis, mudah tersinggung, atau tampak sangat terpengaruh oleh perkataan orang lain. Bagi sebagian orang tua, perilaku ini terasa berlebihan dan sulit dipahami.

Namun dalam psikologi, apa yang disebut “terlalu sensitif” tidak selalu berarti kelemahan. Sering kali hal tersebut justru berkaitan dengan tipe kepribadian tertentu yang memiliki cara berbeda dalam memproses emosi, pengalaman, dan hubungan sosial.

Dilansir dari Silicon Canals, terdapat beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak yang dianggap sensitif sering memiliki kemampuan empati, kesadaran emosi, dan pemikiran reflektif yang tinggi. Dengan kata lain, mereka hanya memproses dunia secara lebih dalam.

Ketika orang tua mengatakan anak mereka terlalu sensitif, psikologi sering melihat bahwa perilaku tersebut bisa berkaitan dengan beberapa pola kepribadian berikut.

1. Kepribadian Sangat Empatik

Salah satu tipe yang paling sering disalahpahami adalah anak dengan empati tinggi.

Anak seperti ini sangat peka terhadap perasaan orang lain. Mereka bisa langsung merasakan ketika seseorang sedang sedih, marah, atau kecewa. Karena kemampuan merasakan emosi ini begitu kuat, mereka juga lebih mudah tersentuh oleh kata-kata atau perlakuan orang lain.

Ciri-cirinya antara lain:

Mudah merasa sedih ketika melihat orang lain kesulitan

Sangat peduli terhadap teman atau anggota keluarga

Merasa bersalah bahkan ketika kesalahan bukan sepenuhnya milik mereka

Bagi orang tua yang terbiasa dengan gaya komunikasi yang lebih keras atau langsung, anak seperti ini bisa terlihat “terlalu sensitif”. Padahal sebenarnya mereka memiliki tingkat empati yang sangat tinggi.

2. Kepribadian Highly Sensitive Person (HSP)

Dalam psikologi modern, ada konsep yang disebut Highly Sensitive Person atau individu dengan sensitivitas tinggi terhadap rangsangan emosional dan lingkungan.

Anak dengan tipe ini:

Mudah kewalahan oleh suara keras atau konflik

Sangat memperhatikan detail kecil

Memikirkan sesuatu secara mendalam

Membutuhkan waktu untuk memproses pengalaman

Karena sistem saraf mereka memproses informasi lebih intens, mereka sering bereaksi lebih kuat terhadap kritik atau perubahan suasana.

Namun di sisi lain, anak HSP sering memiliki kreativitas, intuisi, dan kemampuan observasi yang sangat baik.

3. Kepribadian Perfeksionis

Kadang-kadang sensitivitas bukan berasal dari emosi yang rapuh, tetapi dari standar diri yang sangat tinggi.

Anak perfeksionis sering:

Sangat takut melakukan kesalahan

Mudah kecewa pada diri sendiri

Menganggap kritik sebagai kegagalan besar

Ketika orang tua memberikan komentar atau teguran, mereka mungkin langsung merasa gagal atau tidak cukup baik. Reaksi emosional ini sering disalahartikan sebagai “baper” atau terlalu sensitif.

Padahal sebenarnya mereka sangat peduli terhadap pencapaian dan penilaian orang lain.

4. Kepribadian Reflektif dan Overthinker

Beberapa anak memiliki kecenderungan berpikir sangat dalam tentang berbagai hal.

Mereka tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi juga mencoba menafsirkan makna di baliknya. Akibatnya, komentar kecil bisa dipikirkan berulang kali.

Ciri-cirinya:

Sering memikirkan percakapan setelah selesai

Mengingat detail komentar orang lain

Mudah menganalisis perasaan dan situasi

Orang tua yang lebih spontan mungkin merasa anak seperti ini terlalu memikirkan hal kecil. Namun dalam psikologi, ini sering disebut sebagai kepribadian reflektif.

5. Kepribadian dengan Kesadaran Emosi Tinggi

Ada juga anak yang sejak kecil memiliki emotional awareness atau kesadaran emosi yang tinggi.

Mereka mampu:

Mengidentifikasi perasaan dengan jelas

Menyadari ketika sesuatu menyakitkan secara emosional

Mengungkapkan perasaan secara terbuka

Di keluarga yang tidak terbiasa membicarakan emosi, perilaku ini bisa dianggap berlebihan.

Padahal sebenarnya anak tersebut hanya lebih sadar terhadap emosi mereka sendiri.

6. Kepribadian yang Sangat Menghargai Hubungan

Sebagian anak sangat memprioritaskan hubungan dan kedekatan emosional.

Bagi mereka, kata-kata orang tua memiliki bobot yang sangat besar. Kritik kecil bisa terasa seperti penolakan karena mereka sangat menghargai hubungan tersebut.

Anak dengan tipe ini biasanya:

Sangat ingin menyenangkan orang tua

Mudah terluka oleh nada bicara yang keras

Sangat menghargai perhatian dan dukungan

Karena hubungan emosional begitu penting bagi mereka, reaksi mereka terhadap konflik sering terlihat lebih kuat.

Mengapa Orang Tua Sering Menganggapnya “Terlalu Sensitif”?

Ada beberapa alasan mengapa kesenjangan persepsi ini terjadi.

1. Perbedaan generasi

Banyak orang tua dibesarkan dalam lingkungan yang menekankan ketahanan emosional dan menahan perasaan. Akibatnya, ekspresi emosi yang lebih terbuka dari anak terasa asing.

2. Gaya komunikasi keluarga

Jika keluarga terbiasa dengan komunikasi langsung atau keras, anak yang sensitif akan lebih mudah merasa terluka.

3. Kurangnya pemahaman tentang tipe kepribadian

Tidak semua anak memproses pengalaman dengan cara yang sama. Sensitivitas sering dianggap kelemahan, padahal bisa menjadi karakter bawaan.

Sensitivitas Bukan Selalu Hal Buruk

Psikologi modern justru menunjukkan bahwa banyak individu sukses memiliki tingkat sensitivitas emosional tinggi.

Beberapa kelebihan yang sering muncul antara lain:

Empati yang kuat

Kreativitas tinggi

kemampuan memahami orang lain

intuisi sosial yang baik

pemikiran reflektif yang mendalam

Dengan dukungan yang tepat, sifat ini bisa menjadi kekuatan besar dalam kehidupan pribadi maupun profesional.

Cara Orang Tua Menyikapi Anak yang Sensitif

Alih-alih mencoba “menguatkan” anak dengan cara keras, pendekatan yang lebih efektif adalah:

Mengakui perasaan mereka tanpa langsung menghakimi

Mengajarkan cara mengelola emosi

Memberikan ruang bagi mereka untuk mengekspresikan diri

Menggunakan komunikasi yang lebih empatik

Pendekatan ini membantu anak belajar mengelola sensitivitas mereka tanpa merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan diri mereka.

Kesimpulan

Ketika orang tua mengatakan anak mereka terlalu sensitif, sering kali yang sebenarnya mereka lihat adalah bentuk dari beberapa tipe kepribadian tertentu—mulai dari empatik, reflektif, perfeksionis, hingga highly sensitive.

Sensitivitas bukan selalu tanda kelemahan. Dalam banyak kasus, itu adalah tanda bahwa anak memiliki kedalaman emosi dan pemahaman yang kuat terhadap dunia di sekitarnya.

Dengan pemahaman yang lebih baik dari orang tua, sifat ini bisa berkembang menjadi kekuatan yang membantu anak membangun hubungan yang sehat, kreativitas tinggi, dan kecerdasan emosional yang luar biasa.***

 

EDITOR: Novia Tri Astuti