JawaPos.com — Pengaruh figur ayah dalam perkembangan seseorang kerap dianggap sekadar soal hadir atau tidak hadir. Namun, psikologi modern menunjukkan bahwa dinamika ayah–anak jauh lebih kompleks.
Ketika dukungan emosional dari figur ayah tidak terpenuhi, luka yang tertinggal dapat membentuk cara seseorang menilai dirinya, membangun hubungan, serta mempercayai orang lain.
Dalam keseharian, istilah daddy issues sering dipakai secara serampangan sebagai lelucon atau stereotip.
Padahal, konsep ini memiliki dasar psikologis yang jelas. Istilah ini merujuk pada pola emosional yang terbentuk akibat relasi ayah–anak yang terganggu, dan efeknya dapat menetap hingga dewasa.
Ketika kebutuhan akan kasih sayang, arahan, dan validasi tidak dipenuhi, individu membawa jejak psikologis yang memengaruhi banyak aspek kehidupannya.
Fenomena fatherless—baik karena ketidakhadiran fisik maupun emosional—juga memberikan dampak signifikan.
Anak yang tumbuh tanpa kelekatan atau rasa aman berpotensi mengalami kesulitan membentuk hubungan yang stabil, kerap diliputi kecemasan ditinggalkan, atau memandang diri secara negatif.
Hal ini tidak hanya terjadi pada perempuan; laki-laki pun dapat mengalami luka serupa.
Menurut pendapat para ahli yang dikutip dari YouTube Psych2Go, Senin (17/11), daddy issues dikenal dalam psikologi sebagai father complex, yakni pola perilaku dan emosi yang berakar dari dinamika ayah–anak yang tidak sehat atau tidak terpenuhi.
1. Akar Psikologis: Ketidakhadiran Dukungan Ayah dan Dampaknya pada Regulasi Emosi
Konselor kesehatan mental Bisma Anwar menyebut bahwa daddy issues biasanya muncul ketika hubungan ayah–anak tidak memberikan kelekatan, dukungan, atau kehangatan yang orang tua seharusnya berikan.
Tanpa rasa aman emosional, anak dapat tumbuh dengan perasaan tidak dianggap penting atau kehilangan kemampuan menerima diri sendiri.
Psikolog klinis Dr. Carla Manley menegaskan bahwa kondisi ini kerap mendorong seseorang mengulang pola pada masa dewasa, misalnya memilih pasangan dengan sifat mirip ayahnya, selalu mencari validasi, atau terus merasa takut ditinggalkan.
2. Dampak Fatherless pada Pembentukan Kepercayaan dan Pola Hubungan
Hubungan ayah–anak berperan besar dalam perkembangan sosial dan emosional. Ketidakhadiran ayah—baik secara fisik maupun emosional—dapat meningkatkan risiko munculnya kecemasan, rasa tidak aman, atau kesulitan membangun kelekatan yang stabil.
Banyak individu dengan pengalaman fatherless tumbuh dengan kekhawatiran berlebihan terhadap penolakan atau meninggalkan hubungan sebelum terlalu terikat karena khawatir terluka kembali. Pola ini sering tidak disadari, tetapi memengaruhi kualitas hubungan mereka.
3. Pengaruhnya pada Anak Perempuan: Mencari Validasi atau Menghindari Kedekatan
Menurut paparan Psych2Go yang merujuk pada analisis Gabriella Kort, dinamika ayah–anak berperan penting membentuk identitas dan rasa nilai diri (worth) seorang perempuan.
Ketika seorang ayah tidak memberikan validasi, perempuan dapat tumbuh dengan kepercayaan diri yang rapuh.
Kort menggambarkan tiga kecenderungan yang dapat muncul: mencari validasi melalui hubungan intim, tertarik pada pasangan yang jauh lebih tua sebagai pengganti figur ayah, atau justru memilih menghindari kedekatan emosional dan fokus pada karier sebagai bentuk perlindungan diri.
4. Dampaknya pada Anak Laki-laki: Luka Ayah yang Menghambat Ekspresi Diri
Konsep daddy issues kerap dianggap identik dengan perempuan, padahal laki-laki pun dapat mengalami father complex. Istilah tersebut juga dapat digunakan untuk menggambarkan laki-laki yang memiliki hubungan bermasalah dengan ayahnya.
Akibatnya, sebagian laki-laki tumbuh dengan kesulitan mengekspresikan emosi, dorongan berlebih untuk membuktikan diri, atau kecenderungan mengulang pola relasi tidak sehat yang diwarisi dari hubungan ayah–anak.
5. Pemulihan: Memahami Pola Lama dan Membangun Kembali Jati Diri
Memahami luka dari masa kecil adalah langkah awal menuju pemulihan. Masa lalu tidak dapat diubah, tetapi pola hidup dan cara merespons hubungan di masa kini dapat diperbaiki.
Berbicara dengan profesional kesehatan mental dapat membantu individu memahami sumber luka, mengurai trauma, serta membangun ulang kepercayaan diri dan rasa aman.
Proses ini bukan tentang menyalahkan, melainkan menyadari kebutuhan emosional yang dulu tidak terpenuhi dan belajar memenuhinya secara sehat.
Daddy issues dan pengalaman fatherless bukan sekadar istilah populer; keduanya merupakan fenomena psikologis yang berakar dari dinamika ayah–anak yang tidak terpenuhi.
Memahami fakta-fakta di baliknya membantu membuka jalan menuju pemulihan, membangun kepercayaan diri, dan menciptakan hubungan yang lebih sehat.
Setiap individu berhak tumbuh dengan rasa aman dan layak dicintai, termasuk mereka yang memulai perjalanannya dari luka ayah.