← Beranda
Gaikindo Bicara Tekanan Pasar LCGC Saat Mobil Listrik Makin Murah
Nanda Prayoga• Selasa, 22 September 2026 | 23.41 WIB
Ilustrasi pengguna mobil listrik melakukan pengisian daya pada Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang dikelola PLN. (Istimewa)

JawaPos.com - Segmen Low Cost Green Car (LCGC) masih menghadapi tekanan di tengah pasar otomotif Indonesia yang mulai dipenuhi lebih banyak pilihan kendaraan. Salah satu perubahan yang ikut memengaruhi persaingan tersebut adalah semakin banyaknya mobil listrik dengan harga yang mulai beririsan dengan kendaraan LCGC.

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam melihat perkembangan pasar otomotif.

“Kita ingin bahwa seluruh segmennya itu bisa terangkat, ya kebetulan LCGC itu kan konvensional. Nah, di tengah kemarin itu kan banyak pendatang-pendatang lain yang harganya terjangkau,” kata Kukuh di sela-sela konferensi pers Gaikindo Auto Week (GAW) 2026 di Jakarta, Selasa (22/9).

Kukuh membenarkan bahwa harga menjadi salah satu faktor yang membuat mobil listrik mulai bersinggungan dengan segmen LCGC. Namun, menurutnya, pilihan tersebut belum tentu bisa dijangkau seluruh lapisan masyarakat.

“Itu bisa dilihat sebagai satu poin beririsan. Memang iya. Tapi kembali lagi, yang pembeli mobil listrik yang harganya terjangkau pun, kebanyakan kan orang kota. Dan orang kota yang ekonominya menengah ke atas,” ujarnya.

Kukuh menilai kondisi daya beli masyarakat juga menjadi faktor penting dalam perkembangan pasar otomotif. Ia menyebut distribusi kemampuan membeli kendaraan masih belum merata. Ia kemudian menjelaskan bahwa persoalan daya beli masih berkaitan dengan kondisi kelas menengah yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan.

“Itu karena terjangkau orang punya uang. Yang belum punya uang, ya berat (beli mobil listrik),” kata Kukuh.

Di sisi lain, tekanan terhadap LCGC juga berkaitan dengan struktur industri kendaraan tersebut. Kukuh mengatakan LCGC memiliki tingkat komponen lokal yang tinggi, sementara pemain lain dapat memiliki keunggulan dari sisi skala produksi.

“Kita ingin bahwa seluruh segmennya itu bisa terangkat, ya. Kecuali LCGC itu kan konvensional. Nah, di tengah kemarin itu kan banyak pendatang-pendatang lain yang harganya terjangkau,” ujarnya.

 

Menurut Kukuh, perbedaan skala industri juga perlu diperhatikan ketika membandingkan harga kendaraan yang tersedia di pasar. “Mereka harus bisa dilihat struktur harganya kok bisa murah seperti itu, seperti apa, gitu kan. Sementara kalau LCGC itu kan komponen lokalnya tinggi, memang volumenya kalau dibandingkan pemain global, ya pasti kalah. Ini kan masalah skala industri-nya,” kata Kukuh.

Dengan semakin banyaknya pilihan kendaraan, persaingan di pasar otomotif pun tidak lagi hanya terjadi di antara model dengan jenis mesin yang sama. Mobil listrik dengan harga yang berdekatan dengan LCGC ikut menjadi alternatif bagi konsumen, meski daya beli masyarakat tetap menjadi faktor yang menentukan kemampuan pasar menyerap kendaraan tersebut.

Kondisi ini membuat pemulihan pasar otomotif juga tidak hanya bergantung pada bertambahnya pilihan kendaraan. Kukuh menilai kondisi ekonomi yang sehat tetap diperlukan agar daya beli masyarakat ikut menguat. “Nah, kalau ekonominya bagus, kita bisa kembali ke 1 juta, bisa lebih tinggi lagi dari 1 juta,” pungkasnya.

 

EDITOR: Diar Candra