JawaPos.com - Empat gunung api aktif di Indonesia dilaporkan mengalami erupsi secara bersamaan pada Minggu (6/9). Kondisi ini perlu menjadi perhatian pemilik mobil, terutama yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik, karena partikel tersebut tidak hanya mengotori bodi kendaraan, tetapi juga berpotensi merusak mesin.
Gunung yang dilaporkan mengalami erupsi yakni Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, dan Gunung Ibu di Maluku Utara.
Gunung Semeru, misalnya, dilaporkan memuntahkan material erupsi hingga ketinggian sekitar 1 kilometer.
Bagi pemilik mobil, abu vulkanik sebaiknya tidak dianggap sebagai debu biasa. Material ini dapat mengandung partikel kaca vulkanik, batuan, dan kristal berukuran sangat kecil yang memiliki sifat keras serta abrasif.
Jika masuk ke sistem mesin, partikel tersebut dapat bekerja seperti amplas halus yang mengikis komponen kendaraan.
Risiko kerusakan bahkan bisa muncul ketika mobil tetap digunakan dalam kondisi lingkungan penuh abu tanpa perlindungan dan pemeriksaan yang memadai.
Lantas, mengapa abu vulkanik begitu berbahaya bagi mesin mobil?
1. Abu Vulkanik Bisa Menyumbat Filter Udara Mesin
Salah satu komponen pertama yang berhadapan dengan abu vulkanik adalah filter udara mesin.
Filter udara bertugas menyaring kotoran agar udara yang masuk ke ruang pembakaran tetap bersih. Namun, ketika kendaraan digunakan di tengah paparan abu vulkanik, partikel halus dapat menumpuk dengan cepat pada permukaan filter.
Tumpukan abu membuat aliran udara menuju mesin menjadi terhambat. Akibatnya, mesin tidak memperoleh pasokan udara sesuai kebutuhan.
Dalam kondisi tertentu, gejalanya dapat berupa tenaga mesin menurun, performa terasa berat, putaran mesin tidak stabil hingga mesin mati.
Karena itu, filter udara menjadi salah satu bagian yang perlu mendapat perhatian lebih setelah mobil melewati kawasan yang terkena hujan abu.
2. Partikel Keras Bisa Mengikis Komponen di Dalam Mesin
Mengutip Vulcan Towing dan USGS, bahaya yang lebih serius muncul ketika abu vulkanik berhasil melewati filter udara yang sudah terlalu kotor, rusak, atau tidak mampu menyaring partikel dengan baik.
Partikel abrasif tersebut dapat masuk ke ruang pembakaran dan kemudian berada di antara komponen yang bergerak, termasuk piston dan dinding silinder.
Karakter abu vulkanik yang keras membuat material ini berpotensi menimbulkan keausan abrasif. Dalam jangka tertentu, gesekan berulang dapat mempercepat keausan permukaan logam di dalam mesin.
Artinya, persoalan yang awalnya hanya terlihat sebagai debu di bagian luar mobil bisa berkembang menjadi masalah mekanis apabila abu sudah masuk ke bagian vital mesin.
3. Abu Dapat Mencemari Oli Mesin
Abu vulkanik juga dapat menjadi masalah apabila partikelnya masuk dan bercampur dengan oli mesin.
Oli seharusnya membantu melumasi komponen bergerak sekaligus mengurangi gesekan. Namun, ketika tercampur partikel abrasif, pelumas dapat membawa material tersebut beredar ke berbagai bagian mesin.
Kondisi itu berpotensi meningkatkan keausan pada komponen seperti bearing, seal, serta bagian mesin lain yang membutuhkan pelumasan.
Karena itu, pemeriksaan kondisi oli setelah kendaraan terpapar abu vulkanik menjadi langkah penting, terutama jika mobil digunakan cukup lama di wilayah terdampak.
4. Abu Vulkanik Bisa Menghambat Pendinginan Mesin
Risiko berikutnya datang dari sistem pendinginan. Partikel abu dapat menempel dan menumpuk pada permukaan radiator.
Jika endapan cukup banyak, aliran udara yang melewati sirip radiator bisa terganggu.
Padahal radiator membutuhkan aliran udara untuk membantu membuang panas dari cairan pendingin. Ketika proses pelepasan panas terganggu, temperatur mesin dapat meningkat.
Dalam kondisi berat, mesin bisa mengalami overheat dan berujung pada kerusakan yang jauh lebih serius.
Karena itu, setelah mobil terkena paparan abu vulkanik, pemilik kendaraan tidak cukup hanya membersihkan kaca, bodi, dan velg. Bagian yang berhubungan dengan sistem pemasukan udara dan pendinginan juga perlu diperhatikan.
Mengapa Abu Vulkanik Berbeda dari Debu Jalan Biasa?
Perbedaan utamanya terletak pada karakter materialnya.
Abu vulkanik terdiri dari partikel sangat halus yang dapat mengandung pecahan kaca vulkanik, batuan, dan kristal. Material tersebut dapat bersifat keras dan abrasif.
Itulah sebabnya abu vulkanik tidak ideal diperlakukan seperti debu biasa. Membersihkannya secara sembarangan, termasuk menggosok permukaan kendaraan saat masih terdapat banyak partikel kering, juga dapat meningkatkan risiko baret pada cat.
Pada mesin, persoalannya bahkan lebih serius karena partikel yang berhasil masuk ke jalur udara dapat mencapai komponen dengan toleransi dan celah kerja yang sangat presisi.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Pemilik Mobil Setelah Terpapar Abu Vulkanik?
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko kerusakan.
Pertama, jangan langsung menggosok bodi mobil dalam kondisi penuh abu. Partikel abrasif dapat menyeret permukaan kaca atau cat dan menimbulkan baret.
Kedua, bersihkan kendaraan dengan metode yang mampu mengangkat abu tanpa menggeseknya secara berlebihan. Perhatian khusus perlu diberikan pada area celah, kisi-kisi, dan bagian sekitar ruang mesin.
Ketiga, periksa filter udara. Jika kendaraan berada cukup lama di wilayah dengan paparan abu berat, filter mungkin perlu dibersihkan atau bahkan diganti sesuai kondisinya.
Keempat, periksa sistem pendinginan. Pastikan radiator tidak tertutup endapan abu sehingga aliran udara tetap optimal.
Kelima, pertimbangkan pemeriksaan oli dan komponen mesin jika mobil digunakan dalam paparan abu cukup berat atau mulai menunjukkan gejala seperti tenaga berkurang, mesin kasar, temperatur meningkat, atau performa tidak normal.
Jangan Abaikan Abu Vulkanik Meski Mobil Masih Bisa Menyala
Mobil yang masih dapat dihidupkan setelah terkena abu vulkanik bukan berarti kondisinya otomatis aman.
Kerusakan akibat material abrasif dapat berkembang secara bertahap. Gangguan pada filter udara mungkin awalnya hanya terasa sebagai penurunan performa.
Sementara masuknya partikel ke bagian internal mesin berpotensi menyebabkan keausan yang baru terlihat setelah kendaraan digunakan lebih lama.
Dengan aktivitas vulkanik yang dapat terjadi di berbagai wilayah Indonesia, kewaspadaan terhadap abu vulkanik penting bukan hanya bagi pemilik kendaraan yang tinggal dekat gunung api, tetapi juga pengendara yang kebetulan melintasi kawasan terdampak.
Empat gunung api yang dilaporkan erupsi bersamaan pada Minggu pagi, yakni Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, dan Ibu, kembali menjadi pengingat bahwa abu vulkanik memiliki dampak lebih luas daripada sekadar membuat kendaraan terlihat kotor.
Bagi mesin mobil, partikel kecil tersebut bisa menjadi masalah besar ketika masuk ke jalur udara, sistem pelumasan, maupun sistem pendinginan.
Karena itu, membersihkan dan memeriksa mobil setelah terpapar abu vulkanik merupakan langkah penting untuk mencegah kerusakan yang lebih mahal di kemudian hari.