JawaPos.com - Harga bahan bakar menjadi salah satu beban terbesar bagi pengemudi yang setiap hari mengandalkan mobil, terutama yang berbasis BBM.
Dalam kondisi tersebut, bahan bakar gas (BBG) mulai menarik perhatian karena biaya penggunaannya berpotensi jauh lebih murah dibandingkan bensin.
Hitung-hitungan sederhana menunjukkan perbedaan antara keduanya bisa sangat besar.
Dengan konsumsi sekitar 8 liter setara bensin (LSP) BBG per hari, satu kendaraan membutuhkan sekitar 2.400 LSP bahan bakar dalam setahun.
Baca Juga: Rencana Pengecekan STNK untuk Beli BBM Subsidi Resmi Dibatalkan Pertamina
Jika menggunakan BBG dengan asumsi harga Rp 4.500 per liter, biaya bahan bakarnya sekitar Rp 10,8 juta per tahun.
Sementara dengan BBM seharga Rp 10.000 per liter (penggunaan Pertalite bersubsidi) kebutuhan yang sama mencapai Rp 24 juta.
Ada selisih sekitar Rp 13,2 juta per kendaraan dalam setahun antara penggunaan BBM bersubsidi dengan BBG.
Angka tersebut menjadi alasan mengapa konversi mobil berbahan bakar bensin ke BBG mulai dilirik, terutama oleh pengemudi dengan jarak tempuh tinggi seperti taksi online.
Bukan Ganti Mobil, Cukup Konversi
Beralih ke BBG tidak mengharuskan pemilik kendaraan mengganti mobil. Kendaraan berbasis bensin dapat menggunakan gas bumi setelah dipasangi perangkat konversi atau kit BBG.
Baca Juga: Kementerian ESDM: Mandatori BBM E20 Bergantung pada Kesiapan Bahan Baku
Namun, keputusan tersebut bukan hanya soal harga bahan bakar. Ketersediaan tempat pengisian, biaya pemasangan, kapasitas penyimpanan gas, hingga perawatan kendaraan juga perlu diperhitungkan.
Aspek keselamatan pun menjadi penting karena sistem BBG membutuhkan perangkat dan pemasangan yang sesuai standar.
Direktur Utama Gagas Energi Indonesia Santiaji Gunawan, mengatakan penggunaan BBG harus dibarengi dukungan teknis dan layanan yang memadai.
Menurut dia, program konversi ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk merasakan manfaat BBG, baik dari sisi efisiensi maupun penggunaan energi yang lebih bersih.
“Namun, agar pemanfaatannya dapat berkelanjutan, kami juga perlu memastikan adanya dukungan teknis, standar keselamatan, serta layanan yang memadai bagi para pengguna,” ungkap Santiaji saat memberi bantuan konversi BBG ke 75 mobil taksi online di Jakarta, Kamis (3/9).
Baca Juga: Pertamax Green 95 Naik Rp 2.550 per Liter per 2 September, Cek Daftar Harga BBM Terbaru Pertamina
Pengemudi Harian Paling Potensial Dapat Manfaat
Bagi pengemudi yang hanya menggunakan mobil sesekali, selisih harga bahan bakar mungkin tidak terlalu terasa.
Sebaliknya, bagi kendaraan yang bekerja sepanjang hari, penghematan setiap liter dapat terkumpul menjadi angka yang signifikan.
Penanggung jawab Administrasi Lapangan Komunitas Mobil Gas (Komogas), Riko, mengatakan biaya konversi menjadi salah satu kendala yang membuat sebagian pengemudi belum beralih ke BBG.
“Bantuan konversi kit BBG secara gratis ini sangat berarti bagi para pengemudi online. Biaya pemasangan konverter secara mandiri cukup besar, sehingga program ini membuka kesempatan untuk beralih menggunakan BBG dengan lebih mudah,” ujarnya.
Menurut Riko, keuntungan penggunaan BBG paling cepat dirasakan dari biaya bahan bakar.
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah di Awal September, Imbas Subsidi BBM dan Tekanan Global
“Keuntungan yang paling dirasakan tentu dari sisi ekonomi karena terdapat selisih biaya yang cukup besar antara penggunaan BBM dan BBG. Selain itu, pembakaran dengan BBG lebih bersih, sehingga dapat memberikan manfaat bagi penggunaan dan perawatan mesin,” pungkas Riko.
BBG Bukan Sekadar Soal Harga
Selain faktor biaya yang lebih sedikit dari BBM, BBG juga diklaim memiliki emisi karbon yang lebih rendah.
Berdasarkan proyeksi program konversi tersebut, penggunaan BBG dengan energi setara menghasilkan emisi CO₂ sekitar 19 persen lebih rendah dibandingkan bensin subsidi.
Dengan konsumsi 2.400 LSP per kendaraan per tahun, pengurangan emisi diperkirakan mencapai sekitar 0,97 ton CO2 ekuivalen per kendaraan.
Penggunaan BBG pun berpotensi menjadi pilihan bagi pemilik kendaraan yang ingin menekan biaya operasional tanpa langsung beralih ke mobil listrik atau membeli kendaraan baru.
Baca Juga: Harga Pertamax Turbo Resmi Naik Per 1 September, Cek Rincian Harga BBM Nonsubsidi
Konversi Mobil BBG Mulai Diperluas
Dorongan penggunaan BBG di sektor transportasi dilakukan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melalui program Bantuan Konversi BBG Kendaraan Tahun 2026.
Sebanyak 75 kendaraan ditargetkan mengikuti konversi pada periode Agustus–September 2026.
Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, mengatakan gas bumi terus didorong sebagai salah satu alternatif energi di sektor transportasi.
“PGN terus mendorong pemanfaatan gas bumi di berbagai sektor, termasuk transportasi. Melalui program konversi BBG ini, kami ingin membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk mengenal dan memanfaatkan gas bumi sebagai alternatif energi yang efisien dan lebih ramah lingkungan,” ujar Fajriyah dalam kesempatan yang sama.
Baca Juga: Bawa Ambulans Hingga BBM, TNI AD Kirim Kapal Rumah Sakit ke Lokasi Terdampak Gempa NTT