JawaPos.com - Perubahan wajah industri otomotif berlangsung semakin cepat. Mobil yang dulu identik dengan mesin, transmisi, dan komponen mekanis kini perlahan berubah menjadi produk yang menggabungkan baterai, perangkat lunak, sensor, konektivitas, hingga kecerdasan buatan (AI).
Perubahan itu ikut menggeser satu hal yang sering luput dari perhatian: orang-orang di balik teknologi tersebut.
Ketika mobil listrik semakin berkembang, kebutuhan industri terhadap insinyur baterai, software engineer, ahli elektronika, spesialis AI, hingga teknisi kendaraan listrik ikut meningkat.
Persoalannya, talenta dengan kemampuan tersebut tidak hanya dibutuhkan perusahaan otomotif.
Perusahaan teknologi dan startup juga memburu orang-orang dengan kompetensi yang sama. Alhasil, industri otomotif kini menghadapi persaingan baru yang tidak kalah sengit: mencari dan mempertahankan sumber daya manusia yang mampu mengikuti perkembangan teknologi.
Kondisi tersebut sudah terlihat di sejumlah negara.
Baca Juga: VinFast Hadirkan Program Drive Worry Free di GIIAS Surabaya 2026
Industri otomotif Jerman menghadapi kekurangan sekitar 80.000 tenaga profesional terampil pada 2024. Di Inggris, terdapat lebih dari 14.000 lowongan di sektor otomotif, sementara hanya sekitar 27 persen tenaga kerja yang memiliki kualifikasi untuk bekerja secara aman pada kendaraan listrik.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa transisi menuju kendaraan listrik bukan sekadar persoalan mengganti mesin pembakaran internal dengan motor listrik.
Ada persoalan SDM yang harus disiapkan bersamaan.
Teknologi Mobil Berubah, Kompetensi Ikut Bergeser
Selama puluhan tahun, industri otomotif membangun keahlian di sekitar mesin dan mekanikal. Kini, seorang teknisi kendaraan juga perlu memahami sistem tegangan tinggi, baterai, motor listrik, perangkat diagnostik digital, hingga sistem elektronik kendaraan.
Di sisi engineering, perubahan bahkan lebih luas.
Pengembangan sebuah mobil listrik melibatkan berbagai disiplin ilmu yang sebelumnya tidak selalu menjadi bagian utama industri otomotif. Software, data, AI, sensor, dan sistem konektivitas kini semakin menentukan pengalaman berkendara.
Karena itu, mengandalkan proses rekrutmen konvensional saja menjadi semakin sulit.
Perusahaan perlu membangun jalur talenta sejak jauh sebelum seseorang masuk ke dunia kerja.
Pendekatan inilah yang mulai terlihat dalam strategi sejumlah produsen kendaraan listrik, termasuk VinFast.
Dari Kampus ke Pabrik
Sebagai produsen kendaraan listrik yang tengah memperluas pasar, VinFast tidak hanya berhadapan dengan tantangan bagaimana menjual kendaraan.
Ekspansi juga berarti kebutuhan membangun tenaga kerja yang mampu mendukung seluruh rantai bisnis, mulai dari pengembangan teknologi, produksi, hingga layanan purnajual.
Di Vietnam, pendekatan tersebut salah satunya dilakukan melalui kerja sama dengan institusi pendidikan.
Pada 2025, VinFast bersama VinUniversity mengembangkan kolaborasi di bidang teknologi baterai dan material canggih. Mahasiswa dan peneliti mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam penelitian, pelatihan teknis, hingga program magang.
Di luar ekosistem Vingroup, VinFast juga bekerja sama dengan 19 universitas dan institusi pendidikan tinggi di Vietnam.
Bidang yang dikembangkan cukup dekat dengan kebutuhan industri EV, seperti teknik otomotif, mekatronika, teknik elektro dan elektronika, otomasi, serta teknologi informasi.
Materi mengenai kendaraan listrik juga mulai dibawa lebih dekat ke lingkungan akademis. Sistem baterai, powertrain, dan perangkat lunak diagnostik menjadi bagian dari materi yang diperkenalkan kepada mahasiswa.
Model seperti ini sebenarnya menarik jika dilihat dari perspektif industri.
Perusahaan tidak harus selalu mencari tenaga kerja yang sudah “jadi”. Sebaliknya, kebutuhan industri dapat diperkenalkan sejak seseorang masih berada di bangku kuliah.
Mahasiswa pun memperoleh gambaran yang lebih konkret mengenai teknologi yang nantinya akan mereka hadapi di tempat kerja.
Di titik inilah hubungan antara industri dan pendidikan menjadi semakin penting dalam era kendaraan listrik.
Ketika Pabrik Membawa Kebutuhan SDM Baru
Pola yang sama kemudian mengikuti ekspansi VinFast ke luar Vietnam.
Di India, misalnya, fasilitas manufaktur VinFast di Tamil Nadu ditargetkan menciptakan sekitar 3.000 hingga 3.500 lapangan kerja langsung. Sekitar 80 persen tenaga kerja ditargetkan berasal dari lulusan baru dan peserta pelatihan lokal.
Sementara di Indonesia, fasilitas manufaktur VinFast di Subang pada tahap awal menyerap sekitar 1.700 tenaga kerja. Yang menarik, pengembangan SDM tidak berhenti pada proses perekrutan.
Sejumlah staf manajerial Indonesia mendapatkan pelatihan di Vietnam selama tiga hingga empat bulan. Para ahli dari Vietnam juga didatangkan ke Indonesia untuk memberikan pelatihan kepada teknisi lokal.
Ada proses transfer pengetahuan yang berjalan bersamaan dengan pembangunan fasilitas produksi.
Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika melihat karakter industri kendaraan listrik.
Membangun pabrik memang membutuhkan investasi besar. Tetapi memastikan orang-orang di dalamnya mampu menjalankan teknologi dan standar produksi juga membutuhkan waktu.
Dengan kata lain, pabrik bisa dibangun dalam hitungan waktu, tetapi kompetensi manusia tidak bisa dicetak secepat itu.
Tantangan Industri EV Tidak Berhenti di Ruang Produksi
Pengembangan talenta juga memiliki dampak yang lebih luas dibanding kebutuhan satu merek.
Ekosistem kendaraan listrik membutuhkan SDM di berbagai titik. Mulai dari riset dan pengembangan, produksi baterai, manufaktur kendaraan, quality control, software, hingga teknisi yang menangani kendaraan setelah berada di tangan konsumen.
Pengamat industri Phạm Minh melihat sumber daya manusia sebagai bagian penting dari rantai nilai kendaraan listrik.
Sementara peneliti transportasi Nguyễn Văn Việt menilai kolaborasi antara industri dan lembaga pendidikan dapat membantu memperkecil kesenjangan antara kompetensi yang diajarkan di ruang kelas dan kebutuhan industri.
Persoalannya memang bukan sekadar berapa banyak lulusan yang tersedia.
Yang lebih penting adalah apakah kompetensi mereka sesuai dengan teknologi yang berkembang.
Sebab, kendaraan listrik terus bergerak menuju arah yang semakin kompleks. Mobil bukan lagi sekadar alat transportasi dengan mesin dan roda, tetapi juga menjadi sebuah platform teknologi.
Pertarungan Berikutnya Bukan Hanya di Showroom
Persaingan industri otomotif selama ini mudah dilihat dari produk yang dipajang di showroom.
Siapa yang memiliki desain paling menarik, teknologi paling lengkap, jarak tempuh paling jauh, atau harga paling kompetitif.
Namun, ada persaingan lain yang berlangsung jauh dari pandangan konsumen.
Perusahaan berlomba mendapatkan engineer terbaik, teknisi yang memahami EV, pengembang software, ahli baterai, hingga tenaga kerja manufaktur yang mampu mengikuti perubahan teknologi.
Di sinilah strategi pengembangan talenta menjadi semakin penting.
Bagi VinFast, membangun jalur talenta dari institusi pendidikan hingga fasilitas manufaktur menjadi bagian dari upaya mengikuti perkembangan industri kendaraan listrik.
Dan jika tren elektrifikasi terus berlanjut, kompetisi otomotif ke depan kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling cepat menghadirkan mobil baru, tetapi juga siapa yang paling siap memiliki orang-orang yang mampu membuat teknologi tersebut terus berkembang.
Sebab, pada akhirnya, secanggih apa pun sebuah mobil listrik, tetap ada manusia yang merancangnya, memproduksinya, mengujinya, dan memastikan mobil tersebut bisa digunakan dengan aman di jalan raya.