JawaPos.com - Pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia belum sejalan dengan industri baterai dalam negeri. Sejatinya perkembangan kendaraan listrik yang masuk ke pasar Indonesia sudah membawa baterai dan rantai pasoknya sendiri.
Founder National Battery Research Institute (NBRI) Evvy Kartini mengatakan, kondisi ini menjadi tantangan besar dalam membangun ekosistem baterai nasional. Bertambahnya kendaraan listrik di Indonesia seharusnya diikuti dengan peningkatan penggunaan baterai produksi dalam negeri.
Ketika industri mobil listrik datang, produsen sudah melengkapi dengan baterai. Sebab, industri mobil listrik sudah memiliki konsorsium baterai sendiri.
"Jadi, itu memang kenyataannya," ujar Evvy yang juga profesor Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) saat ditemui JawaPos.com di sela-sela International Battery Summit (IBS) 2026 di Jiexpo Kemayoran, Kamis (27/8).
Baca Juga: Rekomendasi Mobil Listrik Murah di Bawah Rp 200 Jutaan, dari Wuling Aira ev sampai BYD Atto 1
Menurut dia, pembangunan pabrik baterai di Indonesia harus dibarengi dengan keberadaan industri kendaraan yang dapat menyerap produksinya. Tanpa industri pengguna baterai, pabrik yang berdiri tidak bisa membuat seluruh rantai nilai baterai di dalam negeri.
Contohnya pabrik baterai PT Hyundai LG Indonesia Green Power yang memiliki kapasitas 10 gigawatt hour (GWh). Sebagian besar produksinya sejak awal sudah memiliki tujuan penggunaan tertentu.
"HLI kan dia 10 gigawatt hour. Tapi dia itu ketika dia bikin mau bikin pabriknya aja, dia sudah punya terikat bahwa nanti produknya 99 persen untuk Hyundai. Udah boleh kan yang lain-lain. Jadi, ya ada di Indonesia cuma tempatnya saja," jelasnya.
Menurut Evvy, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menghubungkan pabrik baterai dengan industri kendaraan listrik di Indonesia. Hyundai sudah memiliki fasilitas manufaktur kendaraan sehingga dapat menyerap baterai yang diproduksi di dalam negeri.
"Kalau Hyundai kan dia punya pabrik mobil, dia ambil. Sekarang ketika CATL ini kan, dia bangun dia kerja sama siapa? Misalnya sama BYD, bisa aja. Pabrik BYD-nya ada di Indonesia, jadi kan nanti ada Molinas gitu kan, dia baru bisa. Tapi kalau gak ada yang nangkep, ya dikirim lagi. Cuma bukan dikirim material, dikirim baterainya," kata Evvy.
Baca Juga: Jutaan Mobil Listrik di Tiongok Di-recall karena Masalah Gagang Pintu
Karena itu, menurut dia, Indonesia perlu melihat industri baterai sebagai ekosistem, bukan hanya membangun fasilitas produksi terpisah. Rantai tersebut harus terhubung mulai dari bahan baku, material baterai, pabrik baterai hingga kendaraan listrik yang diproduksi di Indonesia.
"Jadi semua itu harus apa? Ekosistem. Ekosistem. Makanya sekarang pemerintah bikin apa? Bersamaan. Ada pabrik kendaraan," ujarnya.
Pembangunan ekosistem tersebut juga penting agar kekayaan sumber daya alam Indonesia tidak berhenti hanya pada bahan mentah atau material setengah jadi. Evvy menilai Indonesia memiliki sumber daya nikel besar, tapi keunggulan itu belum cukup tanpa produk bernilai tambah tinggi.
"Nikel saja tidak cukup sebagai resources. Karena nikel itu harus diproses. Harus diproses bagaimana Indonesia pertama meningkatkan value, nilai tambah dari nikel," jelasnya.
Menurut Evvy, pengolahan nikel harus dilanjutkan menjadi material baterai dan terhubung dengan manufaktur baterai maupun kendaraan listrik dalam negeri. Dengan cara itu, nilai tambah sumber daya Indonesia bisa dinikmati lebih banyak di dalam negeri.
"Kenapa harus dilakukan di dalam Indonesia? Supaya nilai tambahnya makin banyak, tapi di Indonesia. Tapi kalau kita ekspor baru nilai tambahnya 10 kali, kemudian kita impor baterai, nilai tambahnya bukan di kita," tuturnya.
Ia mengingatkan Indonesia agar tidak hanya jadi pemasok bahan baku baterai, tapi harus membeli produk bernilai tambah lebih tinggi kembali.
"Jadi, yang saya lihat itu kita teruskan sampai kita baterai material, sampai kita menjadi supply chain, support untuk manufakturnya, lokal kontennya kan tinggi, sampai kita bisa kemudian dari situ kita bisa men-support kendaraan-kendaraan yang listrik atau EV yang ada di Indonesia. Jadi, semuanya itu di Indonesia," katanya.
Menurut Evvy, pola tersebut penting di tengah banyaknya kendaraan listrik yang masuk dan diproduksi di Indonesia. Jika pertumbuhan kendaraan listrik tidak diikuti penguatan rantai pasok lokal, Indonesia berisiko hanya jadi pasar kendaraan listrik tanpa manfaat maksimal dari pertumbuhan industri baterai.
Selain itu, Indonesia perlu memastikan kemampuan sumber daya manusia mengikuti perkembangan industri ini. Penguasaan teknologi baterai diperlukan agar Indonesia tidak hanya mampu produksi, tapi juga memahami teknologinya.
"Jadi, kita harus punya talent yang dia sendiri bisa paham. Kalau ada masalah, dia juga bisa paham menyelesaikan dan sebagainya. Jadi, seperti itu menurut saya ada di penguasaan teknologi dan kita juga harus menyiapkan tempat tadi untuk latihannya yang sesuai," ujar Evvy.
Ia menilai pertumbuhan kendaraan listrik seharusnya jadi momentum membangun ekosistem baterai di Indonesia. Dengan begitu, kehadiran mobil listrik tidak hanya meningkatkan penjualan, tapi juga mendorong tumbuhnya industri baterai, manufaktur, teknologi, dan rantai pasok dalam negeri.
"Ekosistemnya harus dibangun di Indonesia. Circular ekonominya harus dibangun di Indonesia," pungkasnya.