JawaPos.com - Kepolisian Tiongkok mengungkap sejumlah kasus penyebaran informasi palsu yang menyeret industri otomotif.
Dalam beberapa kasus, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) digunakan untuk membuat konten palsu hingga menyebarkan klaim keliru terkait kecelakaan kendaraan dan teknologi berkendara otonom.
Seperti dilansir dari China Daily, Divisi keamanan siber Kementerian Keamanan Publik (MPS) Tiongkok mengungkap 14 kasus rumor daring yang dinilai merugikan reputasi perusahaan dan kepentingan sah dunia usaha.
AI terlibat dalam sejumlah kasus tersebut, baik sebagai alat untuk menghasilkan konten palsu maupun sebagai objek dari informasi yang tidak benar.
Salah satu kasus terjadi di Shangqiu, Provinsi Henan. Polisi menyebut seorang pria bermarga Xue menggunakan perangkat AI untuk membuat video palsu yang memperlihatkan kecelakaan mobil.
Video tersebut kemudian diunggah ke Douyin, salah satu platform berbagi video populer di Tiongkok.
Kasus lainnya terjadi di Yangzhou, Provinsi Jiangsu. Seorang pria diduga menyebarkan klaim bahwa video resmi perusahaan otomotif yang menampilkan aksi drifting sebenarnya dibuat menggunakan AI.
Pria tersebut juga menyebarkan informasi palsu yang menyebut kendaraan dengan sistem kemudi otonom telah menabrak seorang petugas kebersihan.
Polisi menilai penyebaran informasi tersebut berpotensi merusak reputasi perusahaan beserta produk yang mereka pasarkan. Selain itu, rumor tersebut dapat memicu kekhawatiran di kalangan konsumen dan pengguna kendaraan.
Sebagian besar orang yang terlibat dalam kasus tersebut dikenai sanksi administratif. Sementara itu, satu orang berpotensi menghadapi tuntutan pidana.
Mobil Otonom Jadi Sasaran Hoaks
Industri otomotif menjadi salah satu sektor yang cukup banyak disorot dalam rangkaian kasus yang diumumkan kepolisian Tiongkok. Informasi palsu yang beredar mencakup berbagai isu, mulai dari kecelakaan fatal, kebakaran kendaraan, hingga dugaan kegagalan sistem kemudi otonom dan hasil uji keselamatan.
Di Hohhot, wilayah otonom Mongolia Dalam, polisi mengungkap kasus seorang pria yang diduga membuat cerita palsu mengenai kecelakaan kendaraan.
Ia disebut menyebarkan klaim bahwa sebuah mobil menewaskan pekerja perbaikan jembatan sebelum terjun ke sungai. Ia juga dikaitkan dengan klaim lain mengenai kendaraan yang menabrak bangunan hingga terbakar.
Dalam kasus berbeda, para tersangka diduga menyebarkan informasi bahwa sistem kemudi otonom menjadi penyebab tabrakan beruntun dari belakang.
Ada pula klaim bahwa teknologi tersebut membuat kendaraan menabrak pejalan kaki hingga menyebabkan korban meninggal dunia.
Maraknya rumor tersebut terjadi ketika kendaraan energi baru atau new energy vehicle (NEV) berkembang pesat di Tiongkok.
Berdasarkan data Kementerian Keamanan Publik Tiongkok, hingga akhir Juni 2026 terdapat 371 juta kendaraan yang beroperasi di jalan raya negara tersebut.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 48,97 juta unit merupakan kendaraan energi baru. Sekitar 68,77 persen di antaranya merupakan kendaraan listrik murni.
Pertumbuhan pesat NEV turut mendorong munculnya generasi baru merek otomotif lokal, seperti Li Auto, NIO, BYD, dan Xiaomi.
Semakin populernya teknologi kendaraan listrik dan sistem berkendara canggih juga membuat perhatian publik meningkat. Namun, kondisi tersebut sekaligus membuka ruang bagi spekulasi dan penyebaran informasi yang keliru.
Salah satu contohnya terjadi pada Juni 2026 ketika sebuah mobil listrik terbakar di Provinsi Jiangxi. Rekaman kejadian tersebut dengan cepat menyebar melalui media sosial.
Produsen kendaraan terkait kemudian menyatakan bahwa berdasarkan data mereka, baterai kendaraan masih beroperasi secara normal sebelum kebakaran terjadi.
Produsen juga menyebut tidak ditemukan tanda-tanda thermal runaway, yakni kenaikan suhu baterai secara tidak terkendali. Berdasarkan temuan awal, kemungkinan baterai terbakar dengan sendirinya juga telah dikesampingkan.
Polisi Tiongkok Selidiki 170 Kasus Hoaks AI
Kepolisian Tiongkok menyebut penggunaan AI untuk membuat dan menyebarkan rumor daring menjadi persoalan yang semakin serius.
Direktur Departemen Investigasi Kriminal MPS Jiang Guoli mengatakan, polisi telah menyelidiki lebih dari 170 kasus yang melibatkan penggunaan perangkat AI untuk menyebarkan rumor daring sepanjang paruh pertama 2026.
Seiring perkembangan teknologi AI, penyalahgunaannya memunculkan berbagai risiko baru. Mulai dari penipuan menggunakan deepfake, pencurian identitas, hingga penyebaran misinformasi yang dibuat menggunakan AI.
Tiongkok pun tengah memperkuat kerangka hukum terkait teknologi tersebut.
Mahkamah Agung Rakyat sedang menyusun kebijakan peradilan mengenai AI dan hak atas data. Sementara itu, badan legislatif tertinggi Tiongkok telah memasukkan regulasi terkait AI dalam agenda legislasi awal.
Aturan yang berlaku sejak September 2025 juga mewajibkan penyedia layanan memberikan label yang jelas pada konten yang dibuat menggunakan AI dan teknologi sintetis.
Baca Juga: Pengamat Otomotif: Produksi Kendaraan Nasional Butuh Dukungan Kebijakan Konsisten
Ketentuan tersebut mencakup berbagai bentuk konten, mulai dari teks, audio, gambar, video hingga adegan virtual. (*)