← Beranda
B50 Segera Diterapkan, Pemilik Mobil Diesel Lama Perlu Perhatikan Hal Ini
AntaraSelasa, 23 Juni 2026 | 18.47 WIB
Pengujian BBM solar B50. (Istimewa)

JawaPos.com - Pemerintah terus mendorong penggunaan biodiesel B50 sebagai bagian dari upaya meningkatkan energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Namun, di balik berbagai manfaat yang ditawarkan, pemilik kendaraan diesel—terutama model generasi lama—perlu memahami sejumlah penyesuaian agar penggunaan B50 tidak berdampak pada keandalan mesin dan biaya perawatan.

Kendaraan Diesel Lama Bisa Gunakan B50, Tapi Perlu Penyesuaian

Rencana implementasi biodiesel B50 secara bertahap mendapat perhatian dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan pengamat otomotif.

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai secara umum kendaraan diesel yang beredar saat ini dapat menggunakan B50.

Meski demikian, kendaraan diesel lawas dengan sistem injeksi mekanis membutuhkan perhatian lebih dibandingkan model diesel modern.

Menurut Yannes, karakteristik biodiesel yang berbeda dari solar konvensional dapat memengaruhi sejumlah komponen berbahan karet yang umumnya masih digunakan pada kendaraan diesel generasi lama.

"Secara teknis kendaraan diesel lama tetap bisa menggunakan B50, namun beberapa komponen seperti selang, seal, dan gasket perlu mendapatkan perhatian khusus karena berpotensi mengalami penurunan kualitas lebih cepat," ujarnya.

Komponen Karet dan Filter Solar Jadi Fokus Utama

Biodiesel memiliki sifat pelarut yang lebih kuat dibandingkan bahan bakar diesel biasa. Kondisi ini membuat komponen berbahan karet rentan mengalami keausan atau pengerasan apabila tidak sesuai spesifikasi.

Karena itu, pemilik kendaraan diesel disarankan untuk melakukan pemeriksaan berkala di bengkel resmi dan mengikuti rekomendasi pabrikan terkait penggunaan campuran biodiesel yang lebih tinggi.

Selain komponen karet, filter solar juga menjadi bagian yang perlu mendapat perhatian. Penggunaan biodiesel dapat membersihkan endapan kotoran yang sebelumnya menempel di saluran bahan bakar sehingga filter berpotensi lebih cepat kotor pada masa awal penggunaan.

Kualitas Distribusi Bahan Bakar Jadi Faktor Penting

Selain kesiapan kendaraan, keberhasilan implementasi B50 juga sangat bergantung pada kualitas distribusi bahan bakar.

Yannes menjelaskan biodiesel memiliki sifat higroskopis, yakni mudah menyerap air dari lingkungan sekitar.

"Tangki penyimpanan di SPBU perlu dikelola dengan baik agar tidak terjadi kontaminasi air yang dapat memengaruhi kualitas bahan bakar," ujar Yannes.

Pengawasan terhadap rantai distribusi dinilai menjadi faktor krusial untuk memastikan B50 yang diterima konsumen tetap sesuai standar dan aman digunakan.

Edukasi Pengguna Dinilai Sangat Dibutuhkan

Menurut Yannes, sosialisasi kepada pemilik kendaraan dan mekanik bengkel perlu dilakukan sejak awal sebelum penerapan B50 secara luas.

Pemahaman mengenai karakteristik biodiesel, jadwal perawatan yang tepat, hingga pemeriksaan sistem bahan bakar dapat membantu pengguna menghindari potensi masalah di kemudian hari.

Dengan edukasi yang memadai, masyarakat dapat memanfaatkan keunggulan biodiesel tanpa mengorbankan performa maupun usia pakai kendaraan.

Dari sisi manfaat, penggunaan B50 diyakini dapat memberikan dampak positif yang berbeda pada setiap jenis kendaraan.

Untuk kendaraan diesel lama yang banyak digunakan di sektor transportasi dan logistik, ketersediaan bahan bakar yang lebih stabil berpotensi membantu menjaga efisiensi operasional. 

Pasokan energi domestik yang lebih kuat juga dapat mendukung kelancaran aktivitas distribusi barang. Sementara pada kendaraan diesel modern yang telah mengadopsi teknologi common rail, penggunaan B50 dinilai mampu membantu menekan emisi gas buang.

Salah satu manfaat yang paling mudah dirasakan adalah berkurangnya asap hitam atau jelaga yang biasanya muncul pada mesin diesel konvensional.

Transisi ke B50 Butuh Kesiapan Bersama

Penerapan B50 menjadi langkah penting dalam pengembangan energi ramah lingkungan di Indonesia. Namun keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada kesiapan produsen bahan bakar, melainkan juga dukungan pengguna kendaraan, jaringan distribusi, hingga layanan purna jual.

Dengan perawatan yang tepat dan pemahaman yang memadai, penggunaan B50 diyakini dapat berjalan optimal sekaligus memberikan manfaat bagi sektor transportasi maupun lingkungan.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra