Di tengah tren itu, ALVA mencoba mengambil posisi sebagai motor listrik premium yang bukan hanya menjual kendaraan, tetapi juga membangun ekosistem lengkap.
Mulai dari teknologi pengisian cepat, aplikasi digital, hingga skema kepemilikan fleksibel, semuanya diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat urban di Jawa Timur.
Momentum itu terlihat dalam gelaran Indonesia International Motor Show Surabaya 2026 yang berlangsung 26–31 Mei 2026 di Grand City Surabaya.
Pameran otomotif nasional tersebut menjadi panggung penting bagi perkembangan kendaraan listrik sekaligus memperlihatkan makin besarnya pasar otomotif Jawa Timur.
“IIMS memberikan ruang kolaborasi dan mengenalkan teknologi ramah lingkungan,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, Dr. Iwan, Selasa (26/5/2026).
Baca Juga: Alva Raih Sertifikat INDI 4.0, Bukti Kesiapan Smart Manufacturing Motor Listrik Indonesia
Menurutnya, IIMS Surabaya bukan sekadar pesta otomotif, tetapi juga cerminan daya saing industri Jawa Timur di tingkat nasional maupun internasional.
Ia menilai industri otomotif tetap menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah.
Pada triwulan pertama 2026, Jawa Timur mencatat pertumbuhan ekonomi 5,96 persen year on year, melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 5,61 persen.
Kontribusi terbesar berasal dari sektor industri pengolahan dan perdagangan. Industri pengolahan menyumbang 31,45 persen terhadap PDRB Jawa Timur, sedangkan sektor perdagangan mencapai 18,77 persen.
Kondisi itu menjadi peluang besar bagi kendaraan listrik berkembang lebih cepat di Surabaya dan sekitarnya.
Terlebih, ekosistem industri otomotif Jawa Timur terus tumbuh dengan total 183 unit usaha per Mei 2026, mulai dari industri besar hingga pelaku UMKM suku cadang.
ALVA menjadi salah satu merek yang cukup agresif menggarap pasar tersebut. Motor listrik premium produksi PT Ilectra Motor Group itu dirancang dan diproduksi di Indonesia dengan standar manufaktur global.
Sandy Alva, Head of Marketing, Customer Experience, and Center of Excellence ALVA, menjelaskan pabrik ALVA di Cikarang telah menerapkan sistem smart manufacturing.
Teknologi itu bahkan disebut sebagai yang pertama di Asia Tenggara untuk industri motor listrik.
"ALVA itu pabriknya di Cikarang, yang merupakan pusat industri otomotif Indonesia. Kita menggunakan sistem smart manufacturing dan itu merupakan yang pertama di Asia Tenggara. Kita mampu memproduksi sampai 100.000 unit motor per tahunnya."
Tak hanya itu, ALVA juga mengantongi berbagai sertifikasi internasional. Mulai dari ISO 9001, ISO 14001, hingga sertifikat IEC untuk ALVA Cervo yang membuka peluang masuk ke pasar Uni Eropa.
"Kemarin, kita juga mendapatkan sertifikat Smart Manufacturing INDI 4.0 dari Kementerian Perindustrian sebagai percontohan industri motor yang baik di Indonesia."
Di Surabaya, ALVA mulai dikenal bukan hanya karena desain modernnya. Produk-produknya juga menawarkan kombinasi jarak tempuh, teknologi, dan efisiensi yang cocok untuk mobilitas perkotaan.
Salah satu produk yang banyak menarik perhatian ialah ALVA N3 Next Gen. Motor ini memiliki jarak tempuh hingga 140 kilometer dengan top speed mencapai 80 kilometer per jam.
ALVA juga menyematkan fitur keselamatan modern seperti Hill Start Assist dan Hill Descent Assist. Fitur tersebut membantu pengendara saat berhenti atau melaju di jalan menanjak maupun menurun.
"Pada varian next-gen, kami menggunakan next-gen battery serta dilengkapi dengan fitur keselamatan modern seperti HSA (Hill Start Assist) dan HDA (Hill Descent Assist) untuk mendukung kenyamanan berkendara sehari-hari."
Bagi masyarakat Surabaya yang memiliki mobilitas tinggi, kemampuan pengisian daya cepat menjadi nilai tambah penting.
ALVA menghadirkan teknologi Boost Charge yang memungkinkan pengisian baterai dari 10 persen hingga 50 persen dalam waktu kurang dari 25 menit.
"Salah satu fitur yang kami berikan saat ini adalah boost charge station. Melalui fitur ini, para pengguna ALVA bisa men-charge baterai motornya dari 10% sampai 50% dalam waktu kurang dari 25 menit."
Keunggulan itu membuat pengguna tidak perlu menunggu terlalu lama saat mengisi daya. Konsepnya mirip seperti mengisi bahan bakar cepat untuk kendaraan konvensional.
ALVA juga memahami kondisi kelistrikan rumah masyarakat Indonesia yang beragam. Karena itu, sistem pengisi daya mereka dirancang fleksibel agar tetap aman digunakan pada rumah dengan daya listrik kecil.
"Charger ALVA sudah dilengkapi dengan Intelligent Charging System yang bisa diatur. ALVA mengakomodir hal tersebut, sehingga dengan daya rumah seberapa kecil pun, kita tetap bisa melakukan charge ALVA dengan tenang dan aman."
Fitur tersebut cukup relevan bagi masyarakat perkotaan yang tinggal di rumah subsidi, kos, maupun perumahan lama dengan kapasitas listrik terbatas.
Pengguna tetap dapat mengisi daya tanpa harus meningkatkan daya listrik rumah secara besar-besaran.
Dari sisi teknologi digital, ALVA juga mencoba membangun pengalaman berkendara yang lebih modern.
Motor mereka sudah terintegrasi dengan aplikasi My ALVA App yang memungkinkan pengguna memantau kondisi kendaraan secara real-time.
"Melalui aplikasi ini, kita bisa memantau kondisi baterai, menemukan lokasi pengisian daya, mengatur jadwal pengisian baterai, bahkan bisa mengecek lokasi koordinat motor secara real-time saat sedang tidak bersama kita."
Kehadiran aplikasi tersebut menjadi bagian penting dari gaya hidup kendaraan listrik modern. Pengguna tidak hanya mengendarai motor, tetapi juga terkoneksi dengan ekosistem digital yang praktis.
Di Surabaya, faktor harga juga menjadi pertimbangan utama masyarakat sebelum beralih ke motor listrik. ALVA mencoba menjawab tantangan itu lewat skema langganan baterai bernama Bebas PAS.
Skema tersebut memungkinkan pengguna membayar biaya baterai sesuai intensitas pemakaian. Biaya dasar dimulai Rp 125 ribu per bulan untuk penggunaan hingga 700 kilometer.
"Skema ini sangat fleksibel dan adil bagi konsumen; jarang pakai, bayarnya lebih murah."
Jika penggunaan meningkat hingga 700–1.800 kilometer, biaya menjadi Rp 200 ribu per bulan. Sedangkan penggunaan di atas 1.800 kilometer dikenakan Rp 350 ribu per bulan.
Konsep tersebut cukup menarik bagi masyarakat urban yang pola mobilitasnya berbeda-beda. Ada pengguna yang memakai motor setiap hari untuk bekerja, ada pula yang hanya memakainya sesekali.
ALVA juga mulai membangun basis komunitas yang kuat di Surabaya dan Jawa Timur melalui ALVA Owners Club. Komunitas ini aktif mengadakan kegiatan edukasi kendaraan listrik sekaligus menjadi ruang diskusi antarpengguna.
Keberadaan komunitas membuat adopsi kendaraan listrik terasa lebih mudah. Pengguna baru bisa bertukar pengalaman mengenai penggunaan motor listrik, pengisian daya, hingga perawatan kendaraan.
Di sisi lain, komunitas juga menjadi strategi penting untuk memperkuat loyalitas pengguna. ALVA tampaknya menyadari kendaraan listrik tidak cukup dijual hanya lewat spesifikasi, tetapi juga lewat pengalaman dan rasa memiliki komunitas.
Kehadiran ALVA di IIMS Surabaya 2026 pun menjadi momentum memperluas pasar kendaraan listrik premium di Jawa Timur.
Pengunjung dapat mencoba langsung lini produk seperti ALVA CERVO X, ALVA CERVO Q, hingga ALVA N3 Next Gen.
Pameran tahun ini juga tampil lebih besar dengan tambahan area Exhibition Hall 2. Berbagai merek otomotif roda dua dan roda empat hadir bersama industri aksesori, suku cadang, hingga produk lifestyle otomotif.
Konsep autotainment yang diusung membuat IIMS Surabaya tidak hanya menjadi ajang transaksi kendaraan. Ada pula aktivitas komunitas, sportainment, hingga konser musik.
Di tengah perkembangan itu, kendaraan listrik perlahan mulai menemukan tempatnya di Surabaya.
Infrastruktur pengisian daya yang makin berkembang, dukungan industri, serta hadirnya pilihan skema kepemilikan fleksibel membuat masyarakat makin percaya diri beralih ke EV.
ALVA mencoba memanfaatkan momentum tersebut dengan menghadirkan produk yang tidak hanya modern, tetapi juga relevan dengan kebutuhan pengguna Indonesia.
Mulai dari teknologi, efisiensi, hingga pendekatan komunitas, semuanya diarahkan untuk menjadikan motor listrik sebagai kendaraan utama masyarakat perkotaan.