JawaPos.com - Banyak persoalan keselamatan transportasi sebenarnya dimulai sebelum kendaraan turun ke jalan. Mulai dari proses rekrutmen pengemudi, pola pelatihan, jadwal kerja, inspeksi kendaraan, hingga kedisiplinan perawatan unit, semuanya berpengaruh langsung terhadap risiko kecelakaan.
Artinya, keselamatan transportasi bukan hanya soal apa yang terjadi saat kendaraan melaju, tetapi juga bagaimana kendaraan dan pengemudinya dipersiapkan dari awal.
Operator Bus Juga Akui Perawatan dan SDM Jadi Kunci
Pelaku usaha transportasi. Direktur Pengembangan Bisnis dan Organisasi PO Primajasa, Bayu Permana, mengatakan pihak operator harus memastikan bahwa proses rekrutmen pengemudi dilakukan secara selektif dan pelatihan dijalankan secara rutin.
Selain itu, perusahaan transportasi juga perlu menerapkan sistem manajemen perawatan kendaraan yang disiplin agar unit tetap dalam kondisi laik jalan.
Baca Juga: Hino Ungkap Masalah Besar di Balik Kecelakaan Kendaraan Niaga di Indonesia
“Kami memastikan rekrutmen driver yang selektif, pelatihan berkala, serta penerapan sistem manajemen perawatan kendaraan yang disiplin,” kata Bayu dalam acara diskusi Membangun Keselamatan Moda Transportasi di GIICOMVEC 2026.
Ia menambahkan, peningkatan standar perawatan kendaraan juga harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari prosedur bengkel, fasilitas, kompetensi mekanik, hingga kehadiran petugas inspeksi kendaraan.
Salah satu benang merah paling kuat dari diskusi ini adalah pentingnya kolaborasi antara ATPM, regulator, dan operator transportasi. Ketiga pihak tersebut dinilai punya peran yang sama pentingnya dalam membangun budaya keselamatan yang lebih kuat di Indonesia.
ATPM bertanggung jawab dari sisi teknologi, pelatihan, dan dukungan teknis kendaraan. Regulator berperan dalam pengawasan dan kebijakan. Sementara operator menjadi ujung tombak dalam implementasi standar keselamatan di lapangan.
Tanpa kerja sama yang solid, upaya memperbaiki keselamatan transportasi akan sulit berjalan optimal.
Hino Ingin Dorong Budaya Keselamatan yang Lebih Konsisten
Lewat kegiatan ini, Hino menegaskan bahwa kampanye keselamatan transportasi perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya saat isu kecelakaan sedang ramai dibahas.
"Kami menilai keselamatan kendaraan niaga harus menjadi bagian dari budaya operasional sehari-hari, terutama untuk transportasi orang dan barang yang memiliki risiko tinggi jika tidak dikelola dengan benar," kata Training Division Head HMSI, Pieter Andre.
Dengan kata lain, keselamatan tidak bisa dibangun lewat slogan semata, tetapi harus hadir lewat pengemudi yang kompeten, kendaraan yang laik jalan, dan sistem kerja yang disiplin.
Kecelakaan Truk dan Bus Tidak Bisa Dilihat Secara Sederhana
Persoalan kecelakaan truk dan bus di Indonesia masih sangat kompleks. Human error memang masih menjadi penyebab utama, tetapi faktor itu sering kali berkaitan erat dengan kualitas pelatihan, sistem kerja, dan kondisi kendaraan yang digunakan setiap hari.
Jika keselamatan transportasi darat ingin benar-benar membaik, maka pendekatannya tidak bisa parsial. Semua pihak harus bergerak bersama—mulai dari pabrikan, operator, regulator, hingga pengemudi itu sendiri.