← Beranda
BYD Optimistis Pasar EV Indonesia Tetap Tumbuh, Meskipun Aturan Subsidi Belum Pasti
Dony Lesmana Eko PutraSelasa, 10 Maret 2026 | 22.29 WIB
Sejumlah pengunjung melihat koleksi mobil listrik BYD di gelaran IIMS, Jakarta, Jumat (06/02/2025).

JawaPos.com - Produsen kendaraan listrik asal Tiongkok, yaitu BYD, memastikan bahwa harga mobil listrik mereka di pasar Indonesia hingga saat ini masih tetap stabil (tak ada kenaikan).

Hal tersebut berlaku meskipun pemerintah belum mengumumkan kepastian mengenai insentif kendaraan listrik untuk tahun anggaran 2026.
Ketidakpastian kebijakan tersebut membuat banyak pelaku industri otomotif menunggu arah regulasi pemerintah.

Namun BYD menegaskan bahwa kondisi tersebut belum memengaruhi strategi harga produk mereka di Tanah Air.

Pemerintah Masih Mengkaji Insentif Mobil Listrik 2026
Pemerintah Indonesia saat ini masih melakukan kajian terkait kelanjutan program insentif kendaraan listrik yang sebelumnya diberikan untuk mendorong adopsi mobil tanpa emisi.

Sempat Purbaya Yudhi Sadewa selaku Menteri Keuangan menjelaskan bahwa pemerintah masih menghitung dampak kebijakan insentif terhadap kondisi fiskal negara.

Menurutnya, kelanjutan program tersebut sangat bergantung pada pengaruhnya terhadap defisit anggaran pemerintah. Jika dampaknya dinilai kecil, peluang untuk melanjutkan insentif masih terbuka.

Namun opsi penghentian kebijakan tersebut juga tetap menjadi pertimbangan.

Sebagian Pabrikan Sudah Menyesuaikan Harga

Sambil menunggu kepastian regulasi, beberapa produsen otomotif diketahui mulai menyesuaikan harga kendaraan mereka. Penyesuaian tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen, yang mulai berdampak pada harga jual kendaraan di pasar Indonesia.

Akibat perubahan pajak tersebut, sejumlah model kendaraan mengalami kenaikan harga jual di pasar otomotif nasional.

Strategi BYD: Fokus pada Stabilitas Harga

Berbeda dengan beberapa pabrikan lain, BYD memilih untuk mempertahankan harga enam model mobil listriknya yang saat ini dipasarkan di Indonesia.

Head of PR and Government Affairs BYD Indonesia, Luther Panjaitan, menyatakan bahwa perusahaan belum memiliki rencana untuk menaikkan harga kendaraan listrik mereka dalam waktu dekat.

Kebijakan pajak dan subsidi memang menjadi salah satu komponen penting dalam menentukan harga kendaraan. Kami menjalankan strategi bisnis dengan pendekatan visi jangka panjang yang mempertimbangkan stabilitas struktur pajak," katanya kepada awak media di Jakarta (9/3).

Luther menambahkan dengan strategi tersebut, perusahaan merasa lebih siap menghadapi perubahan kebijakan yang mungkin terjadi di masa depan.

Mobil Listrik Tetap Dapat Dukungan Regulasi
Meskipun insentif PPN kendaraan listrik belum diputuskan, pasar mobil listrik di Indonesia masih mendapatkan sejumlah dukungan regulasi dari pemerintah.
Beberapa keuntungan yang tetap dinikmati kendaraan listrik antara lain:

  • Pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM)
  • Potongan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) setiap tahun
  • Kebijakan lalu lintas seperti pengecualian aturan ganjil-genap di beberapa kota

Faktor-faktor tersebut dinilai masih menjadi daya tarik bagi masyarakat yang ingin beralih ke kendaraan listrik.

Meski ada ketidakpastian mengenai kelanjutan insentif, BYD tetap optimistis terhadap potensi pasar kendaraan listrik di Indonesia.
Perusahaan yakin bahwa produknya akan tetap diminati konsumen, terutama karena tren elektrifikasi kendaraan yang terus berkembang di Tanah Air.

“Sampai saat ini kami belum melakukan perubahan apa pun terkait harga. Kami tetap percaya diri dengan kondisi yang ada,” ujar Luther Panjaitan.
Dengan strategi harga yang stabil dan dukungan regulasi yang masih berjalan, BYD berharap mobil listrik mereka tetap menjadi pilihan utama konsumen Indonesia di tengah perubahan kebijakan industri otomotif.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra