← Beranda
Kaleidoskop 2025: Perang Harga Mobil Listrik Tak Terelakkan, Ini Sikap Xpeng, Polytron, dan Toyota
Nanda PrayogaJumat, 26 Desember 2025 | 23.53 WIB
Polytron Indonesia meluncurkan mobil listrik G3 dan G3+, hasil kolaborasi dengan Skyworth Auto, dengan spesifikasi berbeda untuk pasar Indonesia. (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

JawaPos.com - Fenomena perang harga mobil listrik yang dipicu merek-merek Tiongkok semakin memanaskan pasar otomotif Indonesia sepanjang 2025. Gelombang model EV dengan harga sangat kompetitif, termasuk beberapa yang ditawarkan di bawah Rp 300 jutaan.

Strategi ini membuat konsumen semakin dimanjakan, sekaligus mengubah peta persaingan di segmen kendaraan ramah lingkungan. 

Pemain seperti BYD, Wuling, Chery, dan merek Tiongkok lainnya kini tidak hanya hadir di Indonesia, tetapi juga agresif menekan harga demi menarik minat pembeli.

Strategi ini terlihat jelas di ajang seperti GJAW 2025, di mana sejumlah model baru diluncurkan dengan banderol yang jauh lebih rendah dibandingkan rival dari Jepang dan Eropa. 

Perang harga ini merupakan bagian dari kompetisi global yang lebih luas, di mana pabrikan Tiongkok mencoba memperluas pangsa pasarnya ketika domestik mereka sudah sangat kompetitif.

Di Indonesia, dominasi merek Tiongkok pada penjualan EV juga tercermin dari data GAIKINDO yang menunjukkan tingginya kontribusi merek-merek tersebut terhadap total penjualan mobil listrik. 

Xpeng Pandang Dinamika Perang Harga Elektrifikasi sebagai Bagian Perkembangan 

Melihat fenomena ini, salah satu pemain pada ranah elektrifikasi, Xpeng memandang dinamika perang harga kendaraan listrik sebagai bagian dari perkembangan pasar otomotif yang semakin kompetitif. 

Menurut Hari Arifianto, VP Marketing Xpeng Indonesia kepada JawaPos.com mengungkapkan bahwa sejak awal kami menempatkan posisi kami sebagai kendaraan listrik premium dimana fokus utamanya ada pada value dari produk yang kami hadirkan kepada pelanggan.

"Kami meyakini bahwa keputusan pembelian kendaraan listrik premium didasari oleh value kendaraan secara menyeluruh, mencakup inovasi teknologi, kualitas produk, standar keselamatan, serta layanan purna jual yang terintegrasi,” kata Hari Arifianto.

Dengan pendekatan tersebut, Xpeng Indonesia terus berkomitmen untuk mengutamakan kualitas dan pengalaman kepemilikan. Strategi ini dijalankan untuk memastikan setiap kepemilikan produk Xpeng memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan, sekaligus membangun kepercayaan jangka panjang.

Memasuki 2026, perusahaan melihat persaingan di segmen kendaraan listrik akan semakin matang, dengan konsumen yang semakin rasional dan berorientasi pada value dari kendaraan.

Strategi Xpeng dititik beratkan pada value kendaraan yang ditawarkan serta diferensiasi produk yang dihadirkan.

“Xpeng Indonesia akan tetap memberikan penawaran yang kompetitif dan relevan dengan kondisi pasar. Namun, fokus utama kami terletak pada inovasi teknologi, kualitas, keselamatan, serta dukungan layanan purna jual," ujarnya.

Menurutnya pendekatan ini diyakini mampu menciptakan daya saing yang berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi konsumen, seiring dengan perkembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.

Polytron Anggap Perang Harga Mobil Listrik Masih Akan Berlanjut pada 2026

Sementara itu, produsen dalam negeri yang juga merambah sektor elektrifikasi, Polytron menganggap perang harga mobil listrik masih akan berlanjut di Indonesia pada tahun depan. Pasalnya, kondisi di Tiongkok pun masih mengalami kendala oversupply akibat adanya perang dagang yang turut menghambat penjualan ekspor.

Toyota Corolla Concept
Toyota Corolla Concept

“Kami memilih mengutamakan kualitas dan performa yang sepadan dibandingkan mengikuti perang harga, karena kami percaya industri ini butuh dibangun secara bertahap jangan sampai nanti banyak yang berhenti tengah jalan,” tukas Commercial Director Polytron, Tekno Wibowo kepada JawaPos.com.

Terkait keinginan Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, yang ingin meniadakan insentif CBU, dia menegaskan bahwa hal itu hanya akan berpengaruh pada brand yang memang belum siap produksi di Indonesia.

“Pengaruh penghilangan pembebasan CBU hanya untuk brand yang belum siap diproduksi di indonesia dan sepertinya mereka juga sudah mempersiapkan diri,” tukasnya.

Toyota Anggap Perang Harga Lumrah, Strategi Masing-masing Brand

Di sisi lain, brand Jepang yang memiliki porsi penjualan terbesar di Indonesia, Toyota, ikut menanggapi fenomena perang harga ini. Philardi Ogi, Public Relation Manager PT Toyota Astra Motor, mengaku perusahaan tak bisa banyak berkomentar lantaran setiap brand memiliki strategi sendiri-sendiri untuk menjangkau pasar yang berbeda.

“Selain penjualan, Toyota diakuinya akan berfokus pada pemenuhan kebutuhan dan kontribusi yang bisa diberikan untuk membangun industri otomotif Indonesia. Termasuk ownership experience yang optimal bagi customer dari mulai pembelian, kepemilikan, hingga ke fase repurchase kedepannya.

Pengunjung melihat mobil listrik XPENG seri G6 saat pembukaan dealer XPENG di Indonesia Design District (IDD) PIK 2, Tangerang, Kamis (5/6/2025). (Hanung Hambara/Jawa Pos)
Pengunjung melihat mobil listrik XPENG seri G6 saat pembukaan dealer XPENG di Indonesia Design District (IDD) PIK 2, Tangerang, Kamis (5/6/2025). (Hanung Hambara/Jawa Pos)

“Jadi selain harga, Toyota juga memiliki konsiderasi yang komprehensif untuk bisa terus memenuhi kebutuhan pelanggan. Karena kehadiran kami sebagai bagian dari industri otomotif nasional tidak hanya untuk berbisnis, tetapi juga mendukung mobilitas masyarakat Indonesia,” kata Ogi kepada JawaPos.com.

Sementara itu, dia juga menilai bahwa insentif untuk mobil listrik sejatinya berfungsi sebagai stimulus sementara untuk akselerasi pertumbuhan pasar. Setelah implementasi beberapa tahun terakhir, perusahaan sudah bisa melihat perkembangan yang cukup signifikan dari market elektrifikasi. 

“Namun, tentu salah satu tantangannya adalah mendorong lokalisasi ya karena masih cukup banyak kendaraan elektrifikasi yang belum diproduksi secara lokal. Kebijakan ini bisa menjadi momen yang tepat untuk mendorong pengembangan industri otomotif nasional, dan Toyota siap untuk mendukung serta berkontribusi pada pelaksanaannya kedepan,” pungkasnya.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra