JawaPos.com - Honda Motor meminta para pemasoknya memangkas biaya secara agresif dalam upaya menghemat pengeluaran hingga 2030. Langkah ini dilakukan ketika produsen otomotif Jepang itu menghadapi tekanan dari kendaraan listrik (electric vehicle/EV) buatan Tiongkok yang semakin kompetitif dari sisi harga maupun teknologi.
Tekanan itu terutama datang dari BYD dan produsen EV Tiongkok lainnya yang terus memperluas penjualan di Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Eropa. Selain menawarkan harga yang lebih rendah, perusahaan-perusahaan tersebut berkembang pesat dalam teknologi baterai dan perangkat lunak, dua komponen yang semakin menentukan daya saing kendaraan modern.
Dilansir dari CNBC, Kamis (3/9/2026), laporan Reuters berdasarkan dokumen internal Honda dan wawancara dengan dua orang yang mengetahui persoalan tersebut menyebut perusahaan menargetkan penghematan 1,5 triliun yen atau sekitar Rp168 triliun, dengan kurs ¥1 setara Rp112, pada 2030. Honda meminta pemasok memangkas harga secara drastis, meski perusahaan tidak mengonfirmasi target spesifik tersebut.
Baca Juga: Perang Mobil Listrik Global Berubah Arah, Tiongkok Unggul Lewat EV Murah dan Teknologi Canggih
Dalam pertemuan dengan pemasok utama pada musim semi 2026 di Utsunomiya, utara Tokyo, manajemen Honda memaparkan rencana tersebut dan kemudian memberikan sasaran pengurangan biaya kepada tiap pemasok. Honda juga membuka kemungkinan memperbesar sumber komponen dari pemasok Tiongkok. Efisiensi kini dicari melalui pilihan pemasok, standardisasi, dan asal komponen.
Dokumen yang ditinjau Reuters menunjukkan Honda menargetkan pengurangan biaya hingga 30 persen pada tiga kelompok komponen, yakni komponen cetak dan tempa, komponen kelistrikan, serta komponen untuk kendaraan yang ditentukan perangkat lunak atau software-defined vehicles (SDV). Pemasok langsung atau tier-one diminta meninjau pengadaan material dan memperluas penggunaan komponen terstandar dari pemasok tier-two dan tier-three.
Besarnya target tersebut memunculkan keraguan di kalangan pemasok. Salah satu sumber yang mengetahui persoalan itu mengatakan, "Sasaran pengurangan biaya tersebut sangat besar, dan belum jelas apakah Honda dapat mencapainya." Sumber lain mengatakan sebelum pertemuan pada musim semi, Honda belum memberikan kesan membutuhkan pemangkasan biaya secara seagresif itu.
Namun, tekanan yang dirasakan perusahaan kini berbeda. Menurut sumber tersebut, kondisi Honda seolah "tidak memberi ruang untuk menunda" sehingga pemasok harus bersiap menghadapi tuntutan pengurangan biaya yang lebih besar.
Honda menolak mengomentari target maupun rincian pembicaraan dengan pemasok. Namun, perusahaan mengatakan, "Honda bekerja sama dengan pemasok global untuk meningkatkan daya saing dan mengurangi biaya," kata perusahaan dalam pernyataannya.
Dorongan efisiensi tersebut berkaitan dengan perubahan strategi setelah investasi kendaraan listrik menekan kinerja Honda. Perusahaan memperkirakan kerugian terkait EV pada akhirnya melampaui USD 12 miliar. Pada Mei, Honda mencatat kerugian tahunan untuk pertama kalinya sejak menjadi perusahaan terbuka dan kini lebih berfokus pada kendaraan hibrida bensin-listrik.
Di sisi teknologi, Honda dan Nissan pada Senin sepakat mengembangkan unit kontrol elektronik terstandar untuk SDV dan menargetkan arsitektur tersebut mulai tahun fiskal 2029. Kerja sama ini menunjukkan bahwa penghematan biaya berjalan bersamaan dengan upaya mengembangkan teknologi kendaraan yang semakin bergantung pada perangkat lunak dan elektronik.
Tekanan Honda juga datang dari tarif impor Presiden AS Donald Trump, kenaikan biaya tenaga kerja, dan meningkatnya kebutuhan riset seiring kendaraan makin kompleks. Tahun lalu, Honda dan Nissan mengakhiri pembicaraan merger yang berpotensi membentuk salah satu produsen otomotif terbesar dunia.
Bagi CEO Honda Toshihiro Mibe, tantangannya kini bukan hanya memangkas biaya, tetapi melakukannya ketika perusahaan juga harus mengejar teknologi kendaraan generasi baru. Penghematan besar melalui pemasok menjadi salah satu cara Honda mencoba mempersempit jarak dengan produsen Tiongkok tanpa kehilangan kemampuan rantai pasok untuk mendukung inovasi.
Baca Juga: Sejak Masuk Pasar Indonesia, Pabrikan Otomotif Asal Tiongkok BYD Telah Menjual 97.000 Unit EV