JawaPos.com - Mitsubishi Motors mempercepat langkahnya di bidang robotika dengan menggandeng perusahaan rintisan Highlanders Inc. untuk mengembangkan sekaligus memproduksi massal robot humanoid berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Kolaborasi tersebut menandai masuknya produsen otomotif Jepang itu ke persaingan global pengembangan robot humanoid yang selama ini didominasi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat dan Tiongkok.
Kolaborasi tersebut bukan sekadar berorientasi pada riset, melainkan diarahkan menuju produksi industri dalam skala besar. Mitsubishi Motors bersama Highlanders menargetkan mampu memproduksi 1.000 robot humanoid setiap bulan pada akhir 2027.
Robot-robot berkaki dua itu dirancang memanfaatkan kecerdasan buatan agar dapat bekerja di lingkungan manufaktur yang kompleks, sekaligus menjadi solusi atas semakin seriusnya kekurangan tenaga kerja di Jepang.
Baca Juga: Australia Susun Strategi AI saat Pasar Robot Humanoid Global Berkembang Pesat
Dilansir dari The Mainichi, Senin (27/7/2026), robot humanoid tersebut akan mulai diterapkan pada lini produksi mesin di pabrik Mitsubishi Motors di Kyoto, Jepang barat. Uji coba itu bertujuan mengumpulkan data operasional untuk menyempurnakan kemampuan robot berbasis AI sekaligus mempersiapkan produksi massal robot yang dirancang khusus bagi industri otomotif.
Langkah tersebut mencerminkan perubahan strategi industri otomotif global. Jika selama ini robot industri umumnya bekerja secara statis di jalur produksi, robot humanoid diharapkan mampu bergerak lebih fleksibel, beradaptasi dengan berbagai tugas, serta beroperasi di lingkungan yang sebelumnya hanya dapat ditangani manusia. Data operasional yang dikumpulkan dari pabrik akan menjadi fondasi utama dalam meningkatkan kemampuan AI robot tersebut.
Di saat perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat dan Tiongkok berlomba mengembangkan robot humanoid, Mitsubishi Motors menilai Jepang memiliki peluang untuk menjadi pelopor dalam manufaktur massalnya.
Presiden dan CEO Mitsubishi Motors, Takao Kato, mengatakan, "Di Jepang, kami adalah pelopor dalam memproduksi massal robot humanoid. Kami sedang mempertimbangkan bagaimana robot-robot ini dapat benar-benar dimanfaatkan dalam praktik sambil terus mengevaluasi kinerjanya."
Sementara itu, Highlanders mengembangkan robot serbaguna dengan komponen yang seluruhnya dipasok dari dalam negeri. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memperkuat rantai pasok domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pemasok luar negeri dalam industri robotika yang semakin strategis.
Presiden dan CEO Highlanders, Hiroya Masuoka, mengakui persaingan global masih sangat berat.
"Di Jepang belum ada perusahaan yang mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan global dalam ranah AI fisik," ujarnya.
Namun, dia menegaskan ambisi perusahaannya dengan mengatakan, "Kami ingin melangkah lebih maju."
Istilah AI fisik sendiri merujuk pada perpaduan teknologi kecerdasan buatan dengan sistem robotika sehingga mesin tidak hanya mampu memproses informasi, tetapi juga memahami kondisi lingkungan dan melakukan tindakan secara mandiri. Perkembangan teknologi ini diperkirakan akan menjadi salah satu medan persaingan berikutnya setelah ledakan AI generatif dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: SoftBank Ramal 100 Triliun Agen AI dan 1 Miliar Robot Humanoid Kuasai Dunia Kerja pada 2040
Bagi Mitsubishi Motors, proyek tersebut juga menjadi bagian dari transformasi perusahaan dari sekadar produsen kendaraan menjadi pengembang teknologi manufaktur cerdas. Penggunaan robot humanoid di lingkungan produksi diharapkan mampu meningkatkan efisiensi sekaligus membantu menjaga keberlanjutan industri Jepang yang menghadapi populasi menua dan semakin terbatasnya tenaga kerja produktif.
Keberhasilan proyek ini akan menjadi salah satu tolok ukur penting bagi posisi Jepang dalam kompetisi robot humanoid global. Apabila target produksi massal pada 2027 tercapai, Mitsubishi Motors dan Highlanders berpeluang memperkuat kembali daya saing Jepang di tengah percepatan inovasi robotika yang kini dipimpin perusahaan-perusahaan besar dari Amerika Serikat dan Tiongkok.