JawaPos.com - Persaingan industri otomotif global kini memasuki fase paling ketat dalam dua dekade terakhir. Produsen besar dari Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang menghadapi tekanan yang kian berat seiring meningkatnya keunggulan perusahaan-perusahaan Tiongkok, tidak hanya pada kendaraan listrik, tetapi juga pada teknologi baterai, perangkat lunak, hingga sistem kendaraan pintar yang terintegrasi.
Perubahan ini juga terlihat dari cepatnya transformasi di lini produksi. Pabrik-pabrik otomotif di Tiongkok kini mengandalkan otomatisasi tingkat tinggi yang menggabungkan robotika dan pengembangan perangkat lunak dalam satu ekosistem produksi yang efisien, sehingga menghasilkan kecepatan manufaktur yang sulit disaingi oleh produsen global tradisional.
Dilansir dari BBC, Kamis (28/5/2026), yang melakukan kunjungan ke fasilitas produksi di Beijing dan Hefei di sela gelaran Auto China 2026, ditemukan bahwa tingkat otomatisasi dan kecepatan pengembangan perangkat lunak di pabrik-pabrik Tiongkok telah melampaui banyak produsen asing yang sebelumnya mendominasi pasar global. Kondisi ini menandai pergeseran signifikan dalam pusat inovasi industri otomotif dunia.
Tekanan tersebut juga diakui langsung oleh para pemimpin industri global. "Kami tidak punya peluang menghadapi ini," ujar Chief Executive Honda Toshihiro Mibe setelah meninjau pabrik terotomatisasi tinggi di Shanghai.
Sementara itu, Chief Executive Ford Jim Farley menilai bahwa para produsen Barat kini berada "dalam perjuangan untuk bertahan hidup" menghadapi ekspansi agresif pesaing dari Tiongkok.
Menurut analis otomotif yang berbasis di Shanghai, Bill Russo, kesalahan utama negara-negara maju adalah memandang transisi industri ini hanya sebatas pergeseran menuju kendaraan listrik.
"Kesalahan terbesar yang dilakukan negara-negara maju adalah meyakini bahwa transisi ini hanya soal mobil listrik. Padahal, ini tentang siapa yang akan memimpin generasi berikutnya dari teknologi mobilitas," ujarnya.
Keunggulan Tiongkok juga ditopang oleh struktur rantai pasok yang luas serta biaya produksi yang lebih rendah. International Energy Agency memperkirakan bahwa produksi SUV listrik kecil di Tiongkok dapat lebih murah sedikitnya 30 persen dibandingkan negara maju, terutama karena efisiensi baterai dan integrasi industri yang sudah matang.
Di sisi lain, kecepatan inovasi juga terlihat pada perusahaan-perusahaan baru seperti Xiaomi, yang mampu menghasilkan satu unit kendaraan setiap 76 detik di pabriknya di luar Beijing. Meski baru memasuki pasar kendaraan listrik pada 2024, perusahaan ini cepat naik menjadi pemain penting berkat integrasi ekosistem kendaraan dengan ponsel dan perangkat rumah pintar.
Inovasi serupa juga datang dari BYD dengan teknologi pengisian daya ultra-cepat yang mampu menambah jarak hingga 400 kilometer hanya dalam sekitar lima menit.
CEO XPeng, He Xiaopeng, menegaskan bahwa arah industri ke depan tidak lagi terbatas pada mobil konvensional. "In the next decade, any car company will also be a robotics company," katanya.
Di pasar domestik Tiongkok sendiri, dominasi produsen lokal terus menguat. Pangsa merek asing turun dari 64 persen pada 2020 menjadi 32 persen tahun ini. Bahkan, model mewah seperti Huawei Maextro S800 berhasil melampaui penjualan sejumlah sedan premium Eropa di segmen di atas 100.000 dolar AS (sekitar Rp 1,78 miliar dengan kurs Rp 17.830).
Di tengah tekanan tersebut, produsen global mulai menyesuaikan strategi melalui kolaborasi. Stellantis menjalin kerja sama senilai 1 miliar euro (sekitar Rp 20,73 triliun) dengan Dongfeng, sementara Volkswagen mengalokasikan 700 juta dolar AS (sekitar Rp12,48 triliun) untuk mengakses arsitektur perangkat lunak XPeng, terutama dalam pengembangan sistem kendaraan otonom generasi berikutnya.
Namun, tren yang paling menentukan adalah ekspansi agresif produsen Tiongkok ke luar negeri. Merek seperti BYD, Chery, dan SAIC kini memperluas jangkauan pasar di Eropa dan negara-negara berkembang, meski menghadapi tarif hingga 45 persen di Uni Eropa. Di Inggris, model Chery Jaecoo 7 bahkan masuk jajaran mobil terlaris dalam 14 bulan sejak peluncuran, meski pasar Amerika Serikat praktis tertutup oleh tarif lebih dari 100 persen.
Sejumlah analis menilai pergeseran ini akan terus berlanjut seiring meluasnya pengaruh teknologi kendaraan Tiongkok dalam rantai pasok global. Dengan ekspansi produksi, teknologi baterai, dan perangkat lunak yang semakin agresif, pusat gravitasi industri otomotif dunia kini bergerak ke Asia Timur, memaksa produsen lama untuk memilih antara beradaptasi atau kehilangan posisi dalam peta persaingan baru.