JawaPos.com - Kecelakaan beruntun yang melibatkan kereta api terjadi di kawasan Bekasi Timur pada Senin malam (27/4), tepatnya di sekitar Stasiun Bekasi Timur.
Insiden yang terjadi sekitar pukul 21.00 WIB ini melibatkan Kereta Api Argo Bromo Anggrek, KRL Commuter Line, serta sebuah kendaraan taksi yang diduga menjadi pemicu awal rangkaian kejadian.
Peristiwa nahas ini disebut bermula dari sebuah taksi berwarna hijau atau taksi Green SM yang dilaporkan mogok di tengah perlintasan rel di kawasan Bulak Kapal.
Dalam kondisi rel yang aktif dilalui kereta, kendaraan tersebut tidak sempat dievakuasi hingga akhirnya tertabrak kereta commuter line yang melintas.
Benturan keras antara KRL dan taksi tersebut kemudian memicu situasi yang lebih kompleks.
Dalam waktu berdekatan, Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek dilaporkan turut mengalami tabrakan dengan rangkaian KRL di jalur yang berdekatan, memperparah dampak kecelakaan.
Rangkaian insiden ini tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga diduga mengganggu sistem persinyalan kereta di jalur tersebut.
Akibatnya, operasional kereta lain yang melintas di sekitar lokasi sempat mengalami gangguan karena hilangnya sistem navigasi yang normal.
Di tengah kejadian ini, muncul kembali pertanyaan lama di masyarakat: benarkah kendaraan bisa mati mesin saat melintas di rel kereta, terutama saat kereta akan melintas?
Menanggapi hal tersebut, pakar keselamatan berkendara dari SDCI Sonny Susmana, menyebut bahwa fenomena tersebut tidak bisa disederhanakan sebagai mitos atau fakta semata.
Menurut Sonny, ada sejumlah kemungkinan yang bisa menjelaskan kejadian kendaraan mogok di atas rel.
Salah satunya adalah dugaan adanya pengaruh gelombang listrik dari rel ketika kereta akan melintas, meski hal ini masih perlu kajian ilmiah lebih lanjut.
Selain itu, faktor teknis seperti roda kendaraan yang kehilangan traksi atau slip saat melewati rel juga bisa menjadi penyebab.
"Kondisi permukaan rel yang licin dan berbeda dari aspal kerap membuat kendaraan kesulitan melintas dengan stabil," kata Sonny dihubungi JawaPos.com.
Dia melanjutkan, faktor manusia juga tidak kalah penting. Kepanikan atau keputusan pengemudi yang menerobos palang pintu perlintasan kerap berujung pada situasi berbahaya, termasuk kemungkinan kendaraan berhenti mendadak di tengah rel.
“Intinya bisa jadi mitos, bisa juga fakta. Tapi yang jelas, ada banyak faktor yang memengaruhi. Yang paling penting adalah cara melintas yang aman, jangan menerobos palang pintu jika ingin selamat,” lanjut Sonny.
Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan masih dalam proses investigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT.
Hasil penyelidikan diharapkan dapat memberikan kejelasan sekaligus rekomendasi untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Peristiwa ini juga kembali menjadi pengingat pentingnya disiplin berlalu lintas di perlintasan kereta api, serta perlunya peningkatan sistem keselamatan untuk melindungi pengguna jalan dan penumpang kereta.