JawaPos.com - Bukan lagi rahasia bahwa Tesla terus menuai kontroversi terkait penamaan teknologi berkendara otonomnya seperti Autopilot dan Full Self-Driving (Supervised). Istilah tersebut kerap menuai kritik karena dianggap berpotensi menyesatkan persepsi publik tentang kemampuan sistem yang belum sepenuhnya otonom.
Menariknya, situasi ini seolah dimanfaatkan oleh BYD untuk mencuri perhatian. Pabrikan asal Tiongkok itu justru memilih nama yang jauh lebih berani untuk teknologinya, yakni “God’s Eye”. Melansir laman Carcoorps, (28/3) langkah ini bisa diartikan sebagai strategi branding yang agresif—seakan mengatakan bahwa mereka siap tampil lebih mencolok di tengah sorotan industri kendaraan listrik global.
Nama “God’s Eye” memang terdengar seperti elemen fiksi ala film Fast & Furious. Namun bagi BYD, teknologi ini difokuskan pada peningkatan keselamatan berkendara di jalan raya.
Sayangnya, muncul satu masalah besar: sejumlah pengemudi melaporkan isu keselamatan serius—bahkan pada level yang belum pernah banyak terjadi pada sistem milik Tesla.
Menurut laporan terbaru, masalah ini menunjukkan risiko ketika sistem bantuan pengemudi canggih (ADAS) diluncurkan secara luas sebelum perangkat lunaknya benar-benar matang.
Berbeda dengan paket Full Self-Driving milik Tesla yang bersifat opsional, BYD justru menjadikan sistem ini sebagai fitur standar di jutaan kendaraan. Akibatnya, setiap celah atau bug langsung terasa dalam skala besar.
Seorang pemilik di Tiongkok mengungkapkan kepada Bloomberg bahwa ia mengeluarkan sekitar Rp2,5 miliar untuk membeli SUV mewah Yangwang U8 dengan harapan mendapatkan teknologi mutakhir. Namun, ia justru mengalami berbagai gangguan.
YangWang U8 sempat dipamerkan pihak BYD di salah satu pameran otomotif terbasr di Inonesia yaitu GIIAS di tahun 2024 lalu.
Dalam satu kejadian, mobil disebut tiba-tiba berakselerasi sendiri hingga kecepatan tinggi dan mengarah ke pembatas jalan. Di kesempatan lain, sistem kemudi dilaporkan bergerak mendadak hingga hampir membawa kendaraan ke jalur berlawanan.
Keluhan Meluas di Media Sosial
Keluhan terkait sistem ini juga ramai bermunculan di media sosial Tiongkok. Pengguna melaporkan berbagai masalah seperti kesalahan navigasi, keluar jalur yang terlewat, hingga perilaku setir yang tidak konsisten.
Para analis menilai, salah satu penyebabnya adalah keputusan BYD untuk menyematkan teknologi ini hampir di seluruh lini produknya—mulai dari hatchback terjangkau hingga SUV mewah bernilai miliaran rupiah.
Langkah ini terbilang berbeda dibanding pabrikan Barat seperti Ford Motor Company dan General Motors. Umumnya, fitur bantuan berkendara canggih masih bersifat opsional dan hanya tersedia pada model tertentu. Bahkan, beberapa model premium pun kerap menunda implementasi teknologi tersebut hingga benar-benar siap.
Sebaliknya, BYD sudah menanamkan sistem ini di lebih dari 2,5 juta kendaraan hanya di pasar China, menjadikannya salah satu adopsi teknologi ADAS paling masif saat ini.
Tantangan Kompleks dalam Sistem Otonom
Kondisi semakin rumit karena pendekatan teknis yang digunakan BYD tidak seragam. Sebagian model dilengkapi sensor lidar, sementara yang lain hanya mengandalkan kamera.
Berbeda dengan pendekatan pabrikan Barat yang cenderung menggunakan paket perangkat keras dan perangkat lunak yang lebih konsisten, variasi ini membuat proses pelacakan dan perbaikan masalah menjadi lebih sulit.
Meski demikian, BYD bukan satu-satunya yang menghadapi tantangan ini. Sistem seperti Full Self-Driving milik Tesla, BlueCruise dari Ford, serta Super Cruise dari General Motors juga pernah menjadi sorotan dan investigasi setelah insiden kecelakaan.
Namun, laporan Bloomberg menyoroti bahwa langkah agresif BYD dalam menjadikan teknologi canggih sebagai standar di berbagai segmen kendaraan justru mempercepat munculnya “masa adaptasi” teknologi tersebut. Meski begitu, persaingan dalam pengembangan kendaraan otonom dipastikan tidak akan melambat dalam waktu dekat.