CUACA ekstrem masih melanda Indonesia. Di tengah cuaca panas terik begitu panjang, bisa saja tiba-tiba hujan deras melanda. Lebatnya hujan kadang tidak dikira-kira. El nino tidak dapat dihindarkan. Itu adalah fenomena alam.
Saat ini masyarakat perlu berjaga-jaga. Ketika musim kemarau panjang, permukaan tanah jadi kering kerontang. Sumber air semakin sulit. Masyarakat yang mengandalkan sumber air, apakah itu air tanah atau air sungai bisa kelimpungan.
Di sisi lain, hujan lebat nan ekstrem tidak bisa dibiarkan. Masyarakat perlu waspada ancaman hujan deras. Apalagi di Pulau Jawa. Ketika hujan deras tiba, jangan sampai rahmat Tuhan itu menjadi petaka. Saat ini hutan di Pulau Jawa semakin kecil karena tidak dikelola dengan baik.
Contohnya di Perum Perhutani. Selama ini mengelola 2,4 juta hektare hutan, kini hanya 1,3 juta hektare. Sisanya 1,1 juta hektare diambil pemerintah untuk rakyat.
Baca Juga: Gunung Wilis Kembali Terbakar, Hanguskan 50 Hektare Hutan
Kini hutan yang diambil pemerintah untuk dikelola rakyat itu kondisinya tidak dapat diketahui dengan jelas. Meskipun digunakan, disinyalir bukan semata untuk perhutanan lain. Sementara hutan merupakan ruang terbuka hijau (RTH) untuk menyerap air ketika hujan melanda. Semakin kecilnya hutan semakin sempitnya ruang resapan air. Permukaan jadi jenuh. Hal itu berpotensi air purmukaan dari hujan tidak terserap ke tanah dan malah menjadi banjir.
Lebih miris lagi di Jawa Barat. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup (LH) sebanyak 1,6 juta hektare area hutan, di antaranya sudah hilang hingga 1,4 juta hektare. Padahal hutan itu menjadi pelindung daerah hilir dari risiko bencana hidrometeorologi.
Hilangnya 1,4 juta hektare area hutan itu karena berubah fungsi menjadi area pertambangan, hunian, wisata, dan tempat komersial lainnya.
Sementara di Jawa Timur (Jatim) dan Jawa Tengah (Jateng) kondisi tidak kalah parah terancam menggalami bencana banjir bandang. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa Jawa Timur (Jatim) dan Jawa Tengah (Jateng) mengalami pengurangan tutupan hutan yang signifikan. Penyusutan lahan hutan itu memebihi luas Singapura yang hanya sekitar 73 ribu hektare.
Di Jatim, tutupan hutan pada 2014 tercatat 1,367 juta hektare. Hingga akhir 2023, terjadi penurunan hingga 123 ribu hektare sehingga totalnya menjadi 1,244 juta hektare.
Baca Juga: Kebakaran Hutan Meru Betiri Jember Hanguskan Kawasan Seluas 72 Hektare
Di Jateng, pada 2014 tutupan hutannya mencapai sekitar 776 ribu hektare. Pada 2023, luas tersebut berkurang menjadi sekitar 656 ribu hektare—susut lebih dari 120 ribu hektare.
Di Jawa, hutan banyak berubah fungsi menjadi areal pertambangan, permukiman, dan komersial lainnya. Ke depan, izin-izin untuk pembukaan lahan itu harus dimoratorium. Pemerintah daerah dan pemerintah pusat perlu mengelola hutan-hutan yang masih ada agar tidak berubah fungsi.
Lalu hutan-hutan yang diserahkan ke rakyat yang semula diharapkan dapat menggairahkan perekonomian rakyat perlu ditinjau ulang. Apakah benar lahan itu dikelola dengan baik tanpa mengurangi fungsinya sebagai daerah resapan air.
Bila lahan itu hanya tidur setelah dibabat habis, ada baiknya untuk ditanam ulang agar bisa menahan arus air ketika terjadinya hujan deras demi mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.
Berkaca dari bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera pada akhir November 2025. Ada tiga provinsi terkena dampak bencana hidrometeorologi yang disebut dengan banjir bandang. Yakni, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ketika banjir melanda di tiga provinsi tersebut, banjir membawa hanyut sejumlah potongan kayu, tanah, dan lumpur ke arah muara atau hilir. Kita harus berkaca dari bencana itu. Jangan sampai terjadi di Pulau Jawa.
Baca Juga: Kejagung Pamerkan Uang Rp 1 Triliun Lebih Hasil Sitaan Dugaan Korupsi Pemanfaatan Kawasan Hutan
Bencana hidrometeorologi tidak dapat diperkirakan terjadi kapan. Bencana hidrometeorologi dipicu kondisi cuaca ekstrem, iklim, atau siklus hidrologi seperti curah hujan ekstrem, suhu, kelembapan, dan angin. Bencana itu bisa diantisipasi dengan menjaga alam. Dengan menjaga alam, maka alam menjaga manusianya. (*)