← Beranda
Catatan: Penyiar Manusia vs Penyiar AI
Dini Nastiti WardaniSabtu, 12 September 2026 | 20.44 WIB
Dini Nastiti Wardani. (Dok. Pribadi)

 

Oleh Dini Nastiti Wardani

MEMPERINGATI Hari Radio 11 September, tahun ini ada satu pertanyaan yang semakin relevan bagi industri penyiaran. Suara AI sudah semakin mirip suara manusia, apa yang masih membedakan seorang penyiar manusia dari penyiar berbasis AI?

Perkembangan kecerdasan buatan telah membuat suara sintetis semakin natural. Artikulasi, intonasi, tempo, hingga ekspresi emosional bisa dihasilkan sedemikian rupa, sehingga pendengar sulit membedakannya dari suara manusia. 

Persoalan AI di radio kini bukan lagi semata-mata apakah suara AI terdengar seperti suara manusia Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah pendengar percaya kepada suara yang mereka dengar?

Sejumlah riset menunjukkan bahwa persepsi terhadap suara AI berkaitan erat dengan kepercayaan. Dalam sebuah studi terhadap pendengar radio, suara AI dan suara manusia dalam uji dengar buta bahkan memperoleh penilaian yang relatif berdekatan dalam aspek profesionalisme, kredibilitas, autentisitas, energi, dan daya tarik.

Sebagian pendengar juga mengira suara AI adalah suara manusia. Namun, ketika identitas suara tersebut diungkap sebagai AI, maka persepsi sebagian pendengar berubah.

Baca Juga: Masih Dipakai di Era AI? Teknologi Radio Komunikasi Ini Justru Makin Diburu Industri

Temuan ini menunjukkan satu hal penting, kepercayaan tidak hanya dibangun oleh kualitas suara. Pendengar juga mempertimbangkan siapa yang berada di balik suara tersebut, konteks, serta hubungan yang telah dibangun dengan media dan penyiar.

Di sinilah posisi penyiar manusia perlu didefinisikan kembali. Jika AI sudah mampu menghasilkan suara yang sangat natural, maka nilai pembeda seorang penyiar tidak lagi terletak pada kualitas vokalnya. Suara yang bagus tetap penting, tetapi suara bukan lagi satu-satunya keunggulan.

Pembeda sejati seorang penyiar ada pada apa yang berada di balik suara. Apakah itu pikiran, wawasan, kepekaan, dan kredibilitas.

Seorang penyiar manusia dapat memahami sebuah isu yang sedang hangat saat ini, berpikir kritis, menggali informasi, serta memilih siapa narasumber yang tepat dan menentukan pertanyaan yang tepat kepada narasumber. Penyiar dapat merespons situasi secara spontan, membaca suasana percakapan, mengubah arah pembicaraan ketika menemukan informasi baru, serta menunjukkan empati kepada orang yang sedang berbicara, seperti berita duka, bencana hingga berita yang menguras emosi lainnya.

Baca Juga: Wali Kota Surabaya Bersama Istri Jadi Presenter Berita di Hari Radio

Kemampuan-kemampuan tersebut membuat penyiar bukan sekadar pembaca naskah, melainkan manusia yang membantu pendengar memahami apa yang sedang terjadi. Penyiar radio harus bisa menyajikan situasi terkini dan mampu merespon dengan tepat. 

Sebab, radio pada dasarnya bukan hanya medium suara. Radio adalah medium hubungan. Pendengar membangun kedekatan dengan penyiar melalui kebiasaan, percakapan, humor, perspektif, bahkan cara penyiar merespons sebuah peristiwa. Dari proses panjang itu maka lahirlah kepercayaan. Kepercayaan yang dibangun antara penyiar dan radio itu, juga akan memengaruhi kredibilitas radio tersebut di mata publik.

Oleh karena itu, ketika AI semakin mampu meniru suara manusia, penyiar justru harus semakin serius mengembangkan kompetensi yang tidak berhenti pada vokal. Penyiar perlu memperluas wawasan. Banyak membaca, memahami berbagai isu, dan memelihara curiosity atau rasa ingin tahu. 

Penyiar harus mampu beradaptasi dengan teknologi, termasuk memanfaatkan AI sebagai alat bantu untuk riset, produksi, dan pengembangan konten.

Pada saat yang sama, penyiar masa depan perlu menguasai keterampilan multiplatform. Suara yang hadir di radio dapat diteruskan menjadi podcast, video, siaran langsung, maupun konten media sosial. Kemampuan berkomunikasi tidak lagi hanya berbicara dengan baik melalui mikrofon, tetapi juga membangun hubungan dengan audiens melalui berbagai kanal.

Yang tidak kalah penting adalah membangun kredibilitas. Di tengah teknologi yang mampu menghasilkan dan bahkan meniru suara seseorang, identitas suara saja semakin tidak cukup untuk membuktikan keaslian. Kepercayaan harus dibangun melalui konsistensi, akurasi, integritas, empati, dan kedekatan yang nyata dengan pendengar maupun narasumber.

AI akan terus berkembang. Suaranya akan semakin natural dan semakin sulit dibedakan dari manusia. Oleh karena itu, penyiar tidak perlu berlomba menjadi semakin mirip dengan AI.

Sebaliknya, penyiar perlu menjadi semakin manusiawi. Sebab, nilai seorang penyiar bukan hanya terletak pada suara yang keluar dari mikrofon, tetapi pada pikiran di balik suara, kepekaan di balik kata-kata, pengalaman di balik percakapan, serta kepercayaan yang dibangun bersama pendengar.

Ketika suara AI semakin mirip penyiar, justru saat itulah penyiar perlu mengingat kembali. Yang membuat penyiar bernilai bukan hanya bagaimana dia terdengar, tetapi bagaimana berpikir, merasakan, memahami, dan dipercaya.

Penyiar Bukan Robot Pembaca Berita

Pekerjaan penyiar memang berbicara melalui mikrofon. Namun, menjadi penyiar bukan sekadar membunyikan kata-kata yang sudah tersedia dalam naskah. Jika tugasnya hanya membaca dan menyampaikan informasi, teknologi hari ini bahkan sudah mampu melakukannya dengan cepat. 

Lalu, apa yang membedakan seorang penyiar dari mesin pembaca? Jawabannya, kemampuan memahami informasi sebelum menyampaikannya. Dalam praktiknya, penyiar berhadapan dengan berbagai jenis naskah dan materi. Mulai dari naskah berita, naskah adlip atau promosi, materi dari website maupun hasil bantuan AI, serta informasi yang ditemukan melalui media sosial. Setiap materi membutuhkan cara memahami dan memperlakukannya secara berbeda.

Naskah berita misalnya, bukan sekadar teks yang tinggal dibaca. Penyiar perlu memahami siapa yang diberitakan, apa peristiwanya, kapan terjadi, di mana lokasinya, serta apa konteksnya. Ia perlu mengetahui bagian mana yang merupakan fakta, mana pernyataan narasumber, dan mana informasi yang masih membutuhkan konfirmasi.

Begitu pula dengan naskah adlip atau promosi. Penyiar tidak cukup hanya mengucapkan kalimat sesuai teks. Ia perlu memahami tujuan pesan, karakter pendengar, dan cara menyampaikannya agar terdengar natural.

Tantangan semakin besar ketika materi berasal dari website atau AI. Kemudahan memperoleh informasi bukan berarti semua informasi siap disiarkan. AI dapat membantu mencari, merangkum, dan mengolah materi, tetapi hasilnya tetap perlu diperiksa. Penyiar tidak boleh menyerahkan tanggung jawab editorial kepada mesin.

Hal yang sama berlaku terhadap media sosial. Hari ini, sebuah informasi dapat viral dalam hitungan menit. Namun viral tidak sama dengan benar. Banyaknya orang yang membagikan sebuah informasi bukan bukti kebenaran. Jumlah komentar bukan konfirmasi. Bahkan video yang terlihat meyakinkan belum tentu menunjukkan keseluruhan konteks sebuah peristiwa.

Baca Juga: Gabung dengan Vindes, Iqbaal Ramadhan jadi Penyiar Radio yang Berada di Ambang Kebangkrutan

Penyiar perlu memiliki kebiasaan sederhana sebelum menyampaikan informasi. Perlu berhenti sejenak dan bertanya, yakni siapa sumbernya? Dari mana informasi itu berasal? Kapan peristiwa tersebut terjadi? Apa konteksnya? Apakah sumbernya dapat dipercaya? Apakah sudah ada konfirmasi dari pihak terkait?

Semua pertanyaan itu merupakan bagian dari kompetensi penyiar. Terlebih ketika informasi belum terverifikasi, datanya belum lengkap, situasi masih berkembang, atau belum ada kepastian. Dalam kondisi seperti itu, penyiar harus tahu kapan informasi belum cukup layak untuk disampaikan.
Tidak ada yang salah dengan mengatakan, “Kami belum mengetahui informasi tersebut secara pasti.” Justru kalimat itu dapat menunjukkan integritas.

Dalam penyiaran, mengakui bahwa informasi belum diketahui lebih baik daripada menyampaikan informasi yang belum pasti sebagai fakta. Kecepatan memang penting bagi radio, tetapi kecepatan tidak boleh mengalahkan akurasi.

Sebab ketika informasi keliru disampaikan, dampaknya dapat meluas. Pendengar bisa mempercayainya, membagikannya, dan menjadikannya dasar untuk mengambil kesimpulan. Risiko ini semakin besar ketika informasi berkaitan dengan reputasi seseorang, keamanan publik, bencana, atau situasi yang sedang berkembang.

Oleh karena itu, penyiar perlu mampu membedakan fakta, opini, dan klaim. Fakta membutuhkan dasar yang dapat diperiksa. Opini merupakan pandangan. Sementara klaim adalah sesuatu yang dinyatakan tetapi belum tentu terbukti benar.

Ketiganya dapat muncul dalam satu materi yang sama. Tugas penyiar bukan mencampurkannya, apalagi menyampaikan klaim sebagai fakta hanya karena sedang viral.

Inilah yang membedakan penyiar dari robot pembaca.

  • Robot dapat membaca teks. Penyiar harus memahami teks.
  • Robot dapat menyampaikan informasi. Penyiar harus menilai informasi.
  • Robot dapat menghasilkan kalimat yang meyakinkan. Penyiar harus menentukan apakah informasi tersebut layak dipercaya dan layak disampaikan.

Di tengah perkembangan AI, kemampuan tersebut justru semakin penting. Teknologi mungkin akan semakin pintar menghasilkan suara, menulis naskah, merangkum artikel, dan membuat materi siaran. Namun tanggung jawab untuk menentukan apa yang pantas disampaikan kepada publik tetap membutuhkan pertimbangan manusia.

Dalam refleksi Hari Radio, kompetensi penyiar tidak boleh berhenti pada kemampuan vokal. Penyiar perlu memperluas wawasan, memelihara rasa ingin tahu, meningkatkan kemampuan verifikasi, memahami konteks, berpikir kritis, dan berani mengatakan “belum tahu” ketika memang belum tahu. Itulah yang akan membedakan penyiar dari sekadar mesin pembaca.

Sebab menjadi penyiar bukan perlombaan untuk menjadi orang pertama yang menyampaikan informasi. Menjadi penyiar adalah tentang menjadi orang yang dapat dipercaya ketika menyampaikan informasi. Karena itu, penyiar bukan robot pembaca. Penyiar adalah manusia yang bertanggung jawab atas suara yang keluar dari mikrofonnya.

---

*) Dini Nastiti Wardani, merupakan mahasiswa S-3 Teknologi Pendidikan UNESA; penyiar Pro 1 RRI Surabaya

 

EDITOR: Ilham Safutra