INDONESIA setenang desa kala pagi, mustahil. Tenang tanpa kata-kata kotor, tanpa menghina sesama, tanpa melecehkan presiden, bisa. Tenang bekerja, tapi menterinya jangan di bawah rata-rata air, bisa. Semua itu mesti tanpa Jakarta.
Tapi, mustahil pula Indonesia tanpa Jakarta. Di kota inilah kita bisa melihat pelanggar lalu lintas melawan arus bagai semut beriring. Di kota ini pula kata-kata kasar bermula, lalu meluncur di medsos. Anjing, anjay, "lo nggak punya otak", dan semacamnya. Di sini pula kita bisa melihat perempuan setengah telanjang dan pria bercelana ketat sampai benjolan kelaminnya menonjol.
Kepala orang Jakarta sangat gelisah. Sepertinya mau merangkul semua masalah dan menyelesaikannya sendirian. Nyatanya tak bisa. Yang ada, masalah nambah.
Tiap hari kata kasar di medsos, kritik tanpa dasar, video pidato orang dipotong-potong lalu dipakai untuk menghina. Sesuatu ada batasnya. Jika tiap hari kata kotor diproduksi, satu bangsa jadi virus perusak bagi dirinya sendiri.
Ambil satu contoh saja. Kamis 3 September 2026, di Forum Ekonomi Timur ke-11 di Vladivostok, Rusia, Presiden Putin berpidato. Di kursinya Menteri Luar Negeri Sugiono menunduk, tangannya bergerak, ada pena dan buku catatan. Orang itu sedang mencatat pidato tuan rumah. Rekaman utuh memperlihatkan beberapa saat kemudian dia duduk tegak lagi, menyimak.
Yang sampai ke Indonesia bukan itu. Yang sampai cuma satu tangkapan layar, kepala menunduk, diberi tulisan "tidur". Beredar ke mana-mana, serentak, seperti diatur. Orang yang paling sedang bekerja di ruangan itu dicap pemalas. Tak ada yang mencari rekaman tiga menitnya, cukup tiga detik.
Baca Juga: Foto Tua, Kisah Teraju Sejarah Perhutani di Madiun
Di forum yang sama, Presiden Prabowo berpidato di hadapan Putin. Salah satu kalimatnya, kelaparan, pengangguran, ketidakadilan dan penghinaan itu benih-benih konflik. Di hari presiden bicara begitu di Vladivostok, Jakarta sibuk memproduksi penghinaan dari tiga detik video.
Yang rusak bukan hanya nama Menlu. Yang rusak, kebiasaan bangsa ini melihat sesuatu sampai selesai. Sekali orang percaya potongan tiga detik, dia tak akan menonton yang tiga menit.
Bukan karena orang tak didengar. Bukan karena saluran tersumbat. Ini karena orang tidak mengerti masalah, lalu diberi corong. Dulu orang yang tak paham diam di lapau, ditertawakan kawan, selesai. Kini dia punya akun, punya pengikut dan punya jempol. Yang tak mengerti bicara paling keras, karena tak ada yang menahannya.
Medsos datang seperti tsunami. Tak memilih siapa yang dihantam, tak menunggu siapa yang siap. Sekolah belum sempat mengajarkan cara membaca sampai habis, orang sudah diberi cara menulis ke seluruh dunia. Jakarta hanya tempat ombaknya paling tinggi, karena di sanalah semua corong berkumpul.
Tsunami itu punya mesin. Namanya platformization. Platform digital mengatur ke mana perhatian orang diarahkan, lewat algoritma, data dan aturan siapa yang ditampilkan (Poell, Nieborg dan van Dijck, 2019; Nieborg, Poell, Caplan dan van Dijck, 2024).
Apa yang muncul berulang-ulang memperoleh perhatian. Apa yang memperoleh perhatian mudah dianggap penting. Tiga detik video pun bisa berlari lebih cepat daripada tiga menit penjelasan. Persoalannya, algoritma mengatur lalu lintas perhatian, sementara manusia sering menyerahkan penilaiannya kepada apa yang lewat di layar. Maka, seperti ditulis Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, "Kebohongan telah menyebar ke seluruh dunia, sedangkan kebenaran baru bersiap-siap pakai celana" (Blur, hal. 208).
Baca Juga: Rantai Dipotong Prabowo, Pupuk Indonesia Langsung Bekerja Maksimal
Segitiga
Al-Qur'an, surah Al-Baqarah ayat 27, menyebut tiga ciri orang fasik. Melanggar perjanjian dengan Allah, memutus apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan dan berbuat kerusakan di bumi. Para ahli menyebutnya segitiga keberuntungan, Tuhan, sesama dan alam.
Umpatan karena sebab apa pun, caci maki, hujatan dan penghinaan oleh jutaan orang jelas merobohkan satu kaki segitiga keberuntungan, merusak hubungan dengan sesama manusia. Sekaligus melecehkan amanat dari Allah.
Apalagi jika tak peduli panduan agama, sopan santun, hormat pada sesama dan kerja yang benar untuk rakyat, maka puncak segitiga juga ambruk. Apalagi dilengkapi dengan merusak alam. Membakar hutan, menebang kayu untuk memperkaya diri. Maka segitiga keberuntungan yang diamanatkan Al-Qur'an sudah hancur. Selesai hidupmu.
Kebangsaan
Itu dari sisi paling halus, agama. Sisi lain, kebangsaan dan nasionalisme. Mari bersama, dari atas ke bawah, saling menaruh hormat. Kerja pemerintah diperbaiki, jangan membebani presiden terlalu berat. Menteri, gubernur dan bupati menurut saya belum bekerja habis-habisan.
Rakyat juga slow-slow kelihatannya, tapi terperangkap dalam pikirannya sendiri. Seperti labirin, setidaknya seolah masuk gang buntu. Tidak ada urusan domestik sebenarnya yang harus diurus negara. Hari ini negara melakukannya untuk beberapa hal. Yang masih bisa, mesti membongkar pikirannya, lalu berusaha untuk tegaknya rumah tangga.
Omong kosong bangsa lain akan peduli pada kita. Omong kosong urusan keluarga kita diambil alih keluarga lain. Contoh paling keras, jika Anda sakit, dilarikan ke rumah sakit, kawan-kawan paling-paling patungan sekali. Setelah itu Anda urus diri sendiri, keluarga sendiri. Jika terjerat hukum, hari-hari pertama seolah Anda akan diurus selamanya, setelah itu konco-konco menjauh. Anda yang urus diri sendiri. Apalagi kalau masuk penjara.
Umpatan dan hujatan seolah serempak. Kolektif kolegial, bersama-sama, itu hanya serpihan dan letupan emosi. Setelah itu Anda kembali ke rumah masing-masing, tidur di kasur. Kasur tipis atau tebal, sesuai isi dompet masing-masing.
Baca Juga: Ember Tiris Uang Negara Sudah Diingatkan Soemitro Sejak 1989 dari Bukittinggi
Bersama-sama menjalankan negara tapi telat. Bersama-sama jadi rakyat tapi isi perut muak-muak saja, bukan nasib, bukan pilihan, tapi kebodohan.
Tapi, Jakarta itu cermin Indonesia. Muak-muak saja pada kota ini, bisa gila kita dibuatnya. Namun, apa hendak dikata, fondasi adab bangsa ini belum kokoh.
Selama kincir angin toko roti Holland Bakery masih berputar, Indonesia baik-baik saja. Asal rumah makan padang tidak tutup saat jam makan siang, amanlah itu.
---
*) Khairul Jasmi merupakan penulis novel dan buku sejarah. Buku yang cukup terkenal baru-baru ini, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi: Guru Para Ulama Indonesia; dan Rahmah El Yunusiyyah: Perempuan yang Mendahului Zaman