← Beranda
Dampak Karhutla bagi Satwa: Kehilangan Habitat, Sumber Pakan, dan Sulit Bertahan Hidup
Nanda Prayoga• Sabtu, 17 Oktober 2026 | 16.14 WIB
Petugas Kemenhut memeriksa kondisi orang utan sebelum dievakuasi di Ketapang, Kalbar. (Dok. Kemenhut)

JawaPos.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya merusak vegetasi, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup satwa liar.

Hilangnya habitat dan sumber pakan membuat satwa kesulitan bertahan hidup. Sementara, pemulihan hutan belum tentu mengembalikan kondisi lingkungan seperti sebelum kebakaran.

Guru Besar Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus pemerhati satwa liar, Raden Wisnu Nurcahyo, menjelaskan bahwa kebakaran dapat menghilangkan tempat berlindung dan sumber makanan bagi berbagai jenis satwa. 

Kerusakan vegetasi juga berdampak pada ketersediaan tumbuhan yang dibutuhkan satwa untuk menunjang kehidupannya, termasuk perilaku pengobatan mandiri atau self-medicated animal behavior.

Baca Juga: Jadwal Waktu Shalat Hari Ini Sabtu, 17 Oktober 2026 Untuk Wilayah Bandung dan Sekitarnya

“Masalah yang utama itu kehilangan sumber pakan karena kebakaran hutan,” ungkap Wisnu seperti dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu (17/10).

Selain kehilangan makanan, satwa liar juga berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap. Satwa dapat terluka ketika melewati permukaan tanah yang masih menyimpan bara api. Bahkan, sebagian satwa bisa mati tanpa diketahui karena berada di bagian dalam hutan yang sulit dijangkau petugas.

Kerusakan habitat juga dapat mendorong satwa liar keluar dari kawasan hutan menuju wilayah yang dihuni manusia. Ketika kesulitan memperoleh makanan di habitatnya, satwa berpotensi memasuki lahan pertanian atau permukiman untuk mencari sumber makanan. Situasi tersebut dapat meningkatkan risiko konflik antara satwa liar dan masyarakat.

Menurut Wisnu, pemulihan kawasan hutan setelah kebakaran tidak serta-merta menjamin kebutuhan satwa kembali terpenuhi. Vegetasi yang tumbuh kembali belum tentu menyediakan jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan satwa tertentu. Karena itu, pemulihan lingkungan perlu mempertimbangkan karakteristik ekosistem dan kebutuhan setiap satwa yang hidup di dalamnya.

Baca Juga: Tak Sembarang Diterapkan, BGN Ingin Ada Pelatihan untuk MBG Prasmanan

Upaya restorasi hutan, dengan demikian, tidak cukup hanya berfokus pada tumbuhnya kembali vegetasi. Kondisi habitat dan ketersediaan sumber pakan juga perlu diperhatikan agar satwa dapat kembali menjalankan kehidupannya di lingkungan tersebut.

Wisnu menekankan bahwa pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan masyarakat di sekitar kawasan hutan serta pelaku usaha yang memanfaatkan lahan. Edukasi dan pengawasan terhadap kegiatan pembukaan lahan, pertambangan, dan perkebunan diperlukan untuk mengurangi risiko kebakaran sekaligus menjaga keanekaragaman hayati.

“Upaya pencegahan karhutla perlu melibatkan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan serta pelaku usaha yang memanfaatkan lahan. Edukasi dan pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan, pertambangan, dan perkebunan menjadi bagian penting untuk menekan risiko kebakaran sekaligus melindungi keanekaragaman hayati,” tuturnya.

Dampak karhutla terhadap satwa menunjukkan bahwa penanganan kebakaran tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Perlindungan habitat dan pemulihan ekosistem sesuai kebutuhan satwa juga menjadi bagian penting untuk menjaga keberlangsungan keanekaragaman hayati Indonesia.

EDITOR: Bintang Pradewo