← Beranda
Pencuri Gondol 8 Baterai Stasiun Pemantau Anak Krakatau, Terobos Area Kawah
Ryandi Zahdomo• Rabu, 30 September 2026 | 03.55 WIB
Tangkapan layar kondisi Gunung Anak Krakatau dalam pantauan CCTV Lava93 milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, KESDM. (Dok PVMBG)

JawaPos.com - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi mengonfirmasi pencurian delapan unit baterai akumulator (aki) di Stasiun Pemantau LV93 Gunung Anak Krakatau.

Aksi pencurian ini diperkirakan terjadi pascaerupsi pada pertengahan September 2026 lalu.

Kepala PVMBG Rita Susilawati menjelaskan, gangguan transmisi data dari stasiun pemantau mulanya terdeteksi pada 16 September 2026 pukul 19.36 WIB, usai diterjang lontaran material vulkanik dan abu erupsi.

Namun, saat tim teknis menerobos area kawah untuk melakukan perbaikan lapangan pada 27 September 2026, didapati seluruh aki penyuplai daya di boks penyimpanan telah hilang digondol pencuri.

Baca Juga: Viral Video Drone Diduga Kapal Jurnalis di Krakatau, Basarnas: Tidak Ditemukan

Insiden tersebut diperkirakan terjadi dalam rentang waktu 16 hingga 27 September 2026.

"Pada 27 September 2026 diketahui bahwa 8 Accu di stasiun LV93 telah hilang. Tim telah melakukan penggantian Aki dan menghidupkan kembali Seismometer dan CCTV di stasiun LV93 yang terdampak erupsi sehingga saat ini sudah beroperasi normal," ujar Rita, dikutip dari Antara, Selasa (29/9).

Sistem Pemantauan Dipastikan Tetap Aman

Rita menegaskan aksi vandalisme tersebut tidak sampai mengancam keselamatan masyarakat luas.

Pasalnya, PVMBG mengoperasikan sistem pemantauan berlapis (backup station) untuk menjaga kesinambungan data pengamatan.

Salah satunya adalah Stasiun Tanjung yang berlokasi di dalam Pulau Gunung Anak Krakatau.

Baca Juga: Jurnalis Surabaya Doakan 5 Wartawan dan 3 Kru yang Hilang di Gunung Anak Krakatau

Stasiun cadangan ini dipastikan tetap beroperasi secara konsisten dalam merekam aktivitas seismik di kawasan Selat Sunda.

Tantangan Pengamanan di Area Korosif Tinggi

Khusus di area Gunung Anak Krakatau, PVMBG tidak mengandalkan pagar kawat duri untuk memagari stasiun pemantau. 

Pasalnya, kadar korosi gas sulfur di lokasi tersebut sangat tinggi dan sanggup menghancurkan material besi dalam waktu singkat.

Sebagai langkah perlindungan, pengamanan fasilitas selama ini mengandalkan boks penyimpanan tertutup khusus anti-korosi, kamera CCTV pengawas internal, serta pemasangan papan peringatan mengenai sanksi pidana bagi perusak maupun pencuri fasilitas negara.

Maraknya Pencurian Alat Mitigasi Bencana

Kasus hilangnya komponen peringatan dini di Gunung Anak Krakatau ini memperpanjang deretan aksi pencurian sarana kebencanaan di Indonesia sepanjang periode 2025–2026.

Baca Juga: Kronologi 5 Jurnalis Hilang Saat Liputan di Gunung Anak Krakatau

Sebelumnya, kasus serupa tercatat membobol stasiun pemantau di Gunung Semeru pada April 2026, Gunung Gamalama pada Maret 2026, Gunung Kelud pada September 2025, serta Gunung Papandayan pada Juni 2025.

Guna memastikan keandalan sistem secara menyeluruh, PVMBG dijadwalkan bakal bertolak kembali ke Selat Sunda pada Oktober 2026 mendatang.

Mereka akan melakukan optimalisasi serta pemeliharaan menyeluruh terhadap seluruh jaringan peralatan di lapangan.

Rita menambahkan, pencurian ini perlu menjadi perhatian bersama, dan masyarakat dapat berkontribusi dalam menjaga keberlangsungan peralatan pemantauan dengan tidak merusak atau mencurinya.

"Karena pada dasarnya peralatan pemantauan ini adalah sistem pertahanan utama dalam mengupayakan keselamatan masyarakat luas akibat erupsi gunungapi," tutur Rita.

Baca Juga: BMKG Pastikan Air Laut Surut di Dekat Gunung Anak Krakatau Tidak Terkait Erupsi

EDITOR: Bayu Putra