JawaPos.com - Tim penyelam belum bisa tersenyum meski telah menemukan korban di dalam bangkai KM Virgo Transport 8.
Pekerjaan ekstraberat justru langsung menanti di depan mata. Yakni mengeluarkan korban dari ruangan gelap kapal yang telah tenggelam dan membawanya ke permukaan.
Inilah dua pekerjaan utama sekaligus paling rumit dari upaya evakuasi jenazah korban tenggelamnya KM Virgo Transport 8.
Di kedalaman laut, penyelam harus bekerja dalam ruang dengan akses terbatas, air yang keruh, serta arus bawah laut yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi semakin kuat.
Baca Juga: 54 Penyelam Lawan Arus Bawah Laut, Cari Korban di Badan KM Virgo Transport 8
Dalam kondisi itu, sejumlah korban ditemukan masih berada di kamar-kamar penumpang.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin, I Putu Sudayana, mengatakan, tim penyelam memang mendapati banyak penumpang yang masih terjebak di dalam kamar kapal.
"Memang sudah banyak terlihat penumpang-penumpang yang terjebak di dalam kamar kapal. Tadi beberapa korban sudah dicoba ditarik pakai tali tapi enggak bisa," Selasa (22/9).
Putu mengatakan kondisi tersebut diduga karena ada korban yang terjepit di dalam kapal.
"Sepertinya ada korban kejepit di dalam kapal atau apa yang menyebabkan seperti itu," tambahnya.
Baca Juga: 5 Korban Meninggal KM Virgo Transport 8 Terdampar Ratusan Km dari Titik Karam
Salah satu langkah yang dilakukan tim adalah membuka paksa akses melalui kaca jendela kamar.
Tim penyelam gabungan yang terdiri atas Basarnas Special Group, Kopaska, Pangkoarmada II TNI AL, PT Jasalindo, serta unsur lainnya memecahkan kaca di sejumlah bagian kapal untuk menjangkau lokasi korban.
Tantangan Memecahkan Kaca di Bawah Laut
Namun, memecahkan kaca di daratan tidak sama dengan melakukannya puluhan meter di bawah permukaan laut.
Kasubdit RDPO Laka Transport Basarnas, Jumaril, menjelaskan, tekanan air membuat kaca jauh lebih sulit ditembus.
"Kaca yang di daratan sangat mudah dipecahkan, menjadi sangat sulit saat kapal sudah terisi penuh dengan air akibat tekanan," katanya.
Baca Juga: Tragedi KM Virgo Transport 8: Publik Cari Nakhoda, Tuntut Tanggung Jawab
Karena itu, penyelam menggunakan peralatan seperti palu dan alat pahat untuk membuka akses.
"Butuh perjuangan luar biasa bagi penyelam untuk menembus lokasi yang diduga ada jenazah," tambahnya.
Setelah akses terbuka, penyelam masih menghadapi persoalan lain. Mereka tidak serta-merta masuk jauh ke dalam badan kapal.
Menurut Jumaril, kondisi bangkai kapal yang terus bergerak membuat penyelam tidak direkomendasikan menembus terlalu jauh ke dalam lambung.
Sebagai gantinya, korban ditarik dari luar menggunakan alat bantu berupa pengait panjang.
Baca Juga: Penyelaman Kapal Virgo Transport 8 Berlanjut, 2 Jenazah Ditemukan di Kapal
"Mereka tarik perlahan dari dalam. Penyelam mengupayakan sedemikian rupa menggunakan hook untuk menggaet jenazah agar keluar dari kapal, baru kemudian diangkat ke permukaan," jelasnya.
Dengan cara itu, proses evakuasi berlangsung dari satu korban ke korban berikutnya.
Kesulitan tidak berhenti setelah penyelam berhasil menemukan korban di kegelapan badan kapal.
Pada sejumlah penyelaman, kondisi air menjadi keruh dan arus semakin kencang. Situasi tersebut membuat korban yang sudah terlihat belum tentu dapat langsung dievakuasi.
"Beberapa korban sudah terlihat penyelam namun belum dapat dievakuasi lantaran kondisi air mulai keruh dan arus laut yang semakin kencang,” lanjut Putu.
Baca Juga: Daftar Lengkap 9 Jenazah Korban Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Diidentifikasi
Artinya, penyelam harus menghitung kembali kondisi di lapangan dengan cermat agar tidak ada kesalahan.
Di bawah air, jarak pandang yang berkurang dapat menyulitkan proses menarik korban melalui celah atau akses yang sempit.
Pada saat yang sama, arus membuat posisi penyelam dan korban lebih sulit dikendalikan.
Tiga Tahap Penyelaman, 14 Jenazah Dievakuasi
Pada Kamis (24/9), penyelam TNI AL bersama Basarnas dan Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) kembali menyisir bagian buritan lambung kanan KM Virgo Transport 8.
Penyelaman dilakukan dalam tiga tahap. Pada tahap pertama, tujuh jenazah berhasil ditemukan dan dievakuasi. Pencarian kemudian dilanjutkan.
Baca Juga: GAPASDAP Desak Spesifikasi Kapal Virgo Transport 8 Dibuka dan Diperiksa
Ketika akses menuju bagian lain ruangan terhalang material, penyelam memecahkan kaca bagian buritan lambung kanan untuk membuka jalan.
Dari akses tersebut, satu jenazah kembali berhasil dievakuasi.
Penyelaman kemudian dilanjutkan untuk tahap ketiga. Enam jenazah lainnya ditemukan dan dibawa ke permukaan. Total 14 jenazah berhasil dievakuasi dari bagian tersebut.
Proses tiga tahap itu memperlihatkan bahwa evakuasi korban dilakukan secara bertahap, menyesuaikan akses dan kondisi bangkai kapal.
Dari dalam Laut ke Ruang Identifikasi
Begitu korban berhasil dibawa ke permukaan, tugas berikutnya beralih kepada tim di atas kapal.
Baca Juga: Titik Terang Pencarian KM Virgo Transport 8: Korban Ditemukan di Dalam Kapal
Jenazah kemudian dibawa melalui rangkaian evakuasi menuju daratan dan selanjutnya ditangani oleh tim Disaster Victim Identification (DVI).
Polda Kalimantan Selatan menyiapkan kontainer pendingin untuk menjaga kondisi jenazah setelah berada cukup lama di laut.
Kabid Humas Polda Kalsel Kombes Pol Nur Khamid mengatakan, fasilitas tersebut dibutuhkan untuk penyimpanan jenazah dalam jumlah besar.
"Kontainer pendingin untuk jenazah ini sangat diperlukan untuk menyimpan jenazah dalam jumlah banyak secara aman," katanya.
Suhu dingin digunakan untuk memperlambat proses pembusukan sehingga kondisi jenazah dapat lebih terjaga selama proses identifikasi.
Baca Juga: Kecelakaan KM Virgo Transport 8, Pakar ITS Soroti Desain hingga Operasional Kapal
Tantangan identifikasi juga tidak ringan. Kabiddokkes Polda Kalsel Kombespol Much Sofwan mengatakan, jenazah yang diterima tim DVI telah berada cukup lama di laut.
"Karena ini yang kami terima ini sudah di atas hari ke-10, tentunya ada beberapa kesulitan yang kami terima. Namun kami sudah memasuki proses (identifikasi)," katanya.
Jenazah yang tiba kemudian menjalani proses identifikasi oleh tim DVI melibatkan data ante mortem dan post mortem.
Perjuangan yang Dimulai dari Bawah Laut
Di permukaan, proses evakuasi mungkin terlihat sederhana: korban ditemukan, diangkat, lalu dibawa ke kapal.
Namun di balik satu jenazah yang berhasil mencapai permukaan, ada rangkaian pekerjaan yang jauh lebih rumit.
Baca Juga: 126 Orang Belum Ditemukan, Basarnas Perpanjang Operasi SAR KM Virgo Transport 8 hingga 7 Hari
Penyelam harus menemukan posisi korban di tengah bangkai kapal, menentukan akses yang memungkinkan.
Lalu memecahkan kaca bila diperlukan, menghadapi tekanan air, air yang keruh dan arus yang berubah, kemudian menarik korban secara perlahan menggunakan alat bantu.
Dan ketika korban akhirnya berhasil dikeluarkan dari kapal, proses evakuasi belum berakhir.
Jenazah masih harus dibawa ke permukaan dengan amat hati-hati agar tidak semakin rusak.
Begitu sampai di permukaan, jenazah dinaikkan ke kapal, diteruskan ke daratan, ditempatkan dalam fasilitas penyimpanan yang sesuai, lalu menjalani proses identifikasi.
Baca Juga: Kemenhub Kerahkan 3 Kapal Negara Cari Korban Kecelakaan KMP Virgo Transport 8
Di situlah sisi lain operasi pencarian KM Virgo Transport 8 terlihat: perjuangan bukan hanya menemukan mereka yang hilang, tetapi juga membawa setiap korban keluar dari bangkai kapal dengan menjaga kondisi jenazah hingga identitasnya dapat dipastikan.
Hingga, hari ke-13 pencarian, Jumat (25/9) tim SAR gabungan kembali berhasil mengevakuasi sepuluh jenazah sekitar pukul 12.00 WITA.
Dengan demikian, dari total 243 orang berdasarkan manifes penumpang, sebanyak 160 orang telah ditemukan.
Rinciannya, 108 orang selamat dan 52 orang meninggal dunia. Sementara itu, 83 orang lainnya masih dalam pencarian.
Baca Juga: Publik Diminta Tak Gegabah Simpulkan Penyebab Kecelakaan KM Virgo Transport 8