← Beranda
KM Virgo Transport 8 Tenggelam, Pensiunan TNI AL Sebut Bukan Sekadar Faktor Cuaca Ekstrem
Latu Ratri MubyarsahRabu, 23 September 2026 | 02.08 WIB
KM Virgo Transport 8. (Dok maritimhub.kemenhub.go.id)

 

JawaPos.com - Kecelakaan KMP Virgo Transport 8 tidak semestinya langsung dikaitkan dengan usia kapal. Semua pihak diminta menunggu hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sebelum menyimpulkan penyebab kecelakaan.

Pemeriksaan menyeluruh diperlukan untuk mengetahui faktor yang benar-benar berkontribusi terhadap kecelakaan.

Usia kapal memang penting sebagai informasi, tetapi tidak dapat dijadikan jawaban tunggal sebelum kondisi teknis dan rangkaian kejadian diperiksa.

Baca Juga: Akibat Karhutla, Udara di Kalimantan dan Sumsel Dikategorikan Tidak Sehat dan Berbahaya

Evaluasi keselamatan dilakukan secara objektif agar menghasilkan perbaikan yang tepat.

Pensiunan TNI AL Joko Indro Wahyono menganalisis dengan menggunakan data dan fakta melalui pendekatan OSINT dengan menguji kredibilitas sumber serta isi informasi.

”Saya menanggapinya lebih berfokus pada aspek teknis yabg menyebabkan terjadinya kecelakaan, dengan mengintegrasikan teori stabilitas kapal dan pengalaman praktis 11 tahun berlayar di kapal/KRI,” papar Joko Indro Wahyono.

Baca Juga: 8 Satwa Liar Ditemukan Mati Akibat Karhutla, Sebagian Besar di Kalbar

Menurut dia, isu tindakan nakhoda turun duluan sebelum penumpang turun semua bisa benar bisa tidak. Hal ini menunggu pengusutan.

”Seandainya benar, sudah selayaknya nakhoda dihukum seberat-beratnya,” ujar Joko Indro Wahyono. 

Namun fakta di lapangan lanjut dia, menunjukkan proses kapal hilang stabilitas berlangsung sangat cepat.

Pada pukul 24.00 WIB kapal dilaporkan miring ke kiri awal 2 derajat. Pukul 01.15–01.30 WIB miring ke kiri memburuk cepat hingga 30 derajat.

”Ini sudah melewati batas kritis stabilitas kapal,” terang Joko Indro Wahyono.

”Selanjutnya pada pukul 01.30–02.00 WIB, kapal miring ekstrem ke kiri hingga 80 derajat (downflooding masif), hingga akhirnya terbalik pukul 14.00 WIB,” lanjut dia.

Baca Juga: BNPB Tetapkan Status Tanggap Darurat di Solok, Galodo Bikin Kantor Bupati Alami Kerusakan

Transisi miring dari 2 ke 80 derajat hingga terbalik hanya butuh waktu 2 jam. Pada kemiringan 30–80 derajat, ditambah hantaman ombak 2–3 meter dan larut malam, lantai anjungan serta lorong kapal miring curam secara ekstrem.

”Hal ini secara fisik membuat Kapten/kru hampir mustahil mengendalikan kapal, sekaligus mengunci penumpang di geladak bawah karena waktu tanggap evakuasi habis terpotong,” ungkap Joko Indro Wahyono.

Modifikasi Konstruksi & Perubahan Arsitektur Kapal

Dia menjelaskan, penambahan rampa internal dan dek buatan (mezzanine deck) mengubah konstruksi dasar KM Virgo Transport 8 secara signifikan.

Baca Juga: Tak Bisa Instan, Melihat Dampak MBG terhadap Stunting Butuh Bertahun-tahun

Geladak yang semula dirancang untuk akomodasi penumpang (beban hidup ringan) dialihfungsikan menjadi car deck. Modifikasi ini secara mendasar merusak kalkulasi awal stabilitas kapal.

Geladak Atas (Mezzanine Deck) yang semula didesain untuk orang diganti atau diisi 18 unit mobil pribadi (estimasi total bobot 27–36 ton) yang diakses melalui rampa internal modifikasi.

”Pengalihan fungsi geladak atas dari fasilitas penumpang menjadi dek kendaraan (car deck) menimbulkan lonjakan beban fisik signifikan pada posisi teratas kapal,” papar Joko Indro Wahyono.

Baca Juga: Punya Nilai Lebih, Menko PM Muhaimin Percaya Santri Bisa Bawa Kemajuan dan Kemakmuran Bangsa 

Desain awal dek, lanjut dia, dirancang untuk menampung 200–300 penumpang dengan estimasi bobot 13–19,5 ton (asumsi standar 65 kg/orang).

”Namun, setelah dimodifikasi dan diisi 18 unit mobil pribadi, bobotnya melonjak menjadi 27–36 ton (asumsi 1,5–2 ton/mobil). Artinya, terjadi lonjakan beban sebesar 85 hingga lebih dari 100 persen di posisi dek tertinggi,” tandas Joko Indro Wahyono.

Menurut dia, beban penumpang bersifat dinamis, terbagi merata, dan dapat bergerak mandiri saat evakuasi.

Sebaliknya, menurut dia, 18 mobil pribadi merupakan massa padat terpusat (rigid concentrated mass) yang terkonsentrasi di titik tinggi, sehingga potensi menciptakan gaya guling (transverse moment) jauh lebih besar.

Baca Juga: Mas Bechi Bebas Bersyarat, Ditjenpas Tegaskan Tak Ada Perlakuan Khusus

”Beban penumpang tidak memiliki risiko lepasnya sistem ikat. Sementara itu, 18 mobil pribadi bergantung penuh pada keandalan sistem pengikat (lashing),” tutur Joko Indro Wahyono.

”Ketika lashing gagal akibat guncangan gelombang, pergeseran massa mobil secara mendadak langsung menghancurkan stabilitas kapal,” imbuh dia.

Analisis Stabilitas Kapal & Kenaikan Titik G (Gravity)

Menempatkan 18 unit mobil (36 ton) di geladak tambahan yang ditinggikan, menurut Joko Indro Wahyono, secara otomatis menaikkan posisi Center of Gravity (Titik G) kapal relatif terhadap lunas (Keel).

Baca Juga: Update: 3 Korban KM Virgo 8 Kembali Ditemukan Tim Penyelam, 117 Orang masih Dicari

Kenaikan Titik G memperkecil jarak GM (Metacentric Height), sehingga menggerus sisa gaya penegak (Righting Moment/GZ) kapal yang berfungsi menegakan kapal saat miring terkena gaya dari luar misal gelombang laut.

”Walaupun bobot 36 ton terhitung kecil dibanding DWT kapal (2.612 ton), elevasi muatan yang tinggi (KG tinggi) menghasilkan momen guling berlipat ganda saat dihantam gelombang setinggi 2–3 meter di Perairan Masalembo,” ungkap Joko Indro Wahyono.

Dinamika Kegagalan Sistemik & Pergeseran Massa (Cargo Shift)

Saat kapal mengalami rolling ekstrem akibat gelombang, lanjut Joko Indro Wahyono, sistem pengikat (lashing) pada mobil-mobil di dek atas lepas (lashing collapse).

Baca Juga: LPS Tingkatkan Literasi Keuangan Bagi Gen-Z Lewat Kuliah Perdana Malang Mbois

Pergeseran massa ke satu sisi menciptakan momen kemiringan permanen (list moment) yang mematahkan seluruh sisa lengan penegak (Righting Arm/GZ) hingga kapal kehilangan stabilitas positif.

Menurut Joko Indro Wahyono, tragedi KM Virgo Transport 8 bukan sekadar faktor cuaca ekstrem, melainkan akibat kegagalan stabilitas akibat modifikasi konstruksi.

Penambahan dek buatan dan pengalihan fungsi dek penumpang menjadi dek kendaraan menaikkan posisi Titik Berat (KG), yang secara mendasar menggerus margin stabilitas positif kapal.

Kombinasi lonjakan bobot ±36 ton di dek atas, kegagalan lashing, dan gelombang 2–3 meter memicu pergeseran massa cepat (rapid cargo shift).

Baca Juga: Mentan Amran Beri Beasiswa untuk Anak Korban Penembakan di Papua

”Momen guling tak terbalikkan ini membuat kapal miring ekstrem dalam 2 jam, sehingga secara fisik Kapten/kru hampir mustahil mengendalikan kapal dari anjungan serta mengunci akses evakuasi penumpang di geladak bawah,” tandas Joko Indro Wahyono.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah