← Beranda
Waspada Asap Karhutla Memburuk, 64 Armada Udara Dikirim di Kalteng dan Sumsel
Ryandi Zahdomo• Senin, 21 September 2026 | 16.58 WIB
Seskab Teddy Indra Wijaya. (Instagram: @sekretariat.kabinet)

 

 

JawaPos.com - Pemerintah mengerahkan 64 armada udara dan 54.394 personel gabungan untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin meluas di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan hingga Minggu (20/9).

Langkah ini diambil setelah data SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat kenaikan signifikan jumlah hotspot nasional menjadi 1.532 titik, yang memicu kabut asap pekat hingga melumpuhkan aktivitas penerbangan di Palangka Raya.

Angka ini meningkat dari 1.323 titik pada hari sebelumnya. Kalimantan Tengah masih mendominasi jumlah hotspot high confidence terbanyak dengan 968 titik, meski mencatatkan penurunan dari 1.035 titik.

Sementara itu, lonjakan signifikan terjadi di Sumatera Selatan, di mana titik panas melesat dari 112 menjadi 285 titik. Di wilayah lain, Kalimantan Barat mencatat 98 titik, Kalimantan Selatan 39 titik, Jambi 26 titik, dan Riau terdeteksi satu titik.

Kementerian Kehutanan mengklarifikasi bahwa keberadaan hotspot merupakan penanda anomali suhu permukaan bumi dan tidak bisa serta-merta diartikan sebagai luas area yang terbakar. Satu cakupan kebakaran kerap terdeteksi menjadi beberapa hotspot, sehingga verifikasi langsung (groundcheck) di lapangan tetap mutlak dilakukan.

 

Skala Operasi Udara dan Darat Ditingkatkan

Untuk meredam laju sebaran api, penanganan terpadu digencarkan melalui jalur udara dan darat. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengonfirmasi pengerahan armada dalam skala besar untuk menembus area rawan.

"Sejak Agustus pemerintah telah mengerahkan 64 pesawat dan helicopter serta 54.394 personel gabungan untuk menangani karhutla di berbagai wilayah terdampak," ujar Teddy, Senin (21/9). Armada udara yang dikerahkan meliputi helikopter water bombing, helikopter patroli, hingga pesawat penyemai awan untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Pelaksanaan operasi udara ini disesuaikan dengan tutupan awan, jarak pandang, dan faktor keselamatan penerbangan. Di darat, tim Manggala Agni Kementerian Kehutanan bahu-membahu bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, relawan, dan dunia usaha untuk melakukan pemadaman langsung, pembuatan sekat bakar, hingga pembasahan lahan gambut.

 

Kabut Asap Ganggu Penerbangan dan Ancaman Kekeringan Ekstrem

Dampak karhutla mulai mengganggu fasilitas publik dan mobilitas warga. Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut sempat menyusut hingga 600 meter pada Minggu (20/9).

Akibatnya, 14 jadwal penerbangan, terdiri dari tujuh kedatangan dan tujuh keberangkatan, mengalami gangguan logistik dan keterlambatan. Di sisi lain, BMKG memperingatkan potensi risiko tinggi di Sumatera Selatan akibat ancaman curah hujan rendah pada dasarian III September.

Beberapa wilayah bahkan telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori ekstrem lebih dari 60 hari, yang membuat vegetasi lahan gambut kian mudah terbakar. Sebagai antisipasi, teknisi di lapangan menggencarkan pengairan dan injeksi air guna mempertahankan kelembapan gambut.

Kualitas udara (PM2,5) di sejumlah titik Kalimantan dan Sumatera tercatat masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya. Kementerian Kehutanan mengimbau warga terdampak untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, memakai masker, dan meningkatkan kewaspadaan saat berkendara di tengah kabut asap.

Masyarakat dan instansi swasta dilarang keras membuka lahan dengan cara membakar. Bagi warga yang menemukan titik api, kepulan asap, atau aktivitas pembakaran liar, laporan dapat segera disampaikan melalui saluran resmi:

- Posko Karhutla Kemenhut: 021-5704618

- WhatsApp: +62 8131-00-35000

- Email: posko.karhutla@kehutanan.go.id. (*)

 

EDITOR: Dinarsa Kurniawan