JawaPos.com - TNI AL bersiap menyambut kedatangan kapal induk pertama Indonesia. Kehadiran kapal induk yang bakal diberi nama Gadjah Mada itu menjadi kebanggaan bagi matra laut itu harus disertai dengan biaya operasional serta perawatan yang disebut-sebut bisa mencapai ratusan miliar per tahun.
Anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin menyoroti rencana Indonesia menerima hibah kapal induk dari Italia yang sebelumnya bernama ITS Giuseppe Garibaldi (C551).
Menurut dia, hibah yang diterima Indonesia justru berpotensi berbiaya besar. Salah satu persoalan utama hibah kapal induk yang sudah berusia 40 tahun itu adalah tingginya biaya pemeliharaan dan operasional.
Berdasar laporan analisis pertahanan internasional The National Interest dikutip TB Hasanuddin, Angkatan Laut Italia menghabiskan sekitar 5 juta euro atau sekitar Rp 101 Miliar per tahun untuk merawat kapal tersebut.
”Angka ini tentu akan menjadi beban baru bagi anggaran pertahanan Indonesia, di luar kebutuhan biaya operasional lainnya,” terang dia.
Baca Juga: Presiden Prabowo Putuskan Kapal Induk Jadi Pangkalan Helikopter Bencana
Berdasar hitung-hitungan, setidaknya dibutuhkan biaya 19 juta euro atau sekitar Rp 387 Miliar untuk membongkar kapal induk itu. Belum lagi kebutuhan untuk menjalani refurbishment atau retrofit agar kapal itu sesuai dengan kebutuhan operasional TNI AL. Angkanya mencapai Rp 7–Rp 16 triliun.
Sementara itu, Kepala Biro Informasi Pertahanan (Infohan) Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan bahwa angka-angka tersebut tidak terkonfirmasi. Apalagi terkait dengan biaya retrofit atau refurbishment yang mencapai triliunan rupiah.
”Perlu kami jelaskan bahwa ex-ITS Giuseppe Garibaldi nantinya akan menjalani refurbishment yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional TNI AL. Sehingga angka Rp 7 – Rp16 triliun sebagai biaya refurbishment atau retrofit yang akan dikeluarkan Kemhan tidak terkonfirmasi,” bebernya pada Selasa (8/9).
Menurut Rico, beban operasional kapal induk yang rencananya diberi nama KRI Gadjah Mada itu juga tidak seperti yang beredar luas.
Rico menyebut besaran biaya operasional akan sangat bergantung pada pola operasi, intensitas penggunaan, kebutuhan pemeliharaan, serta konfigurasi kapal setelah refurbishment.
Baca Juga: Kapal Induk Amerika Serikat Abraham Lincoln Berlabuh di Thailand Usai 286 Hari Berlayar
”Karena kebutuhan dan pola operasinya tidak serta-merta sama dengan ketika kapal dioperasikan Angkatan Laut Italia, maka angka biaya operasional AL Italia tidak bisa langsung dijadikan patokan untuk pengoperasian oleh TNI AL,” imbuhnya.
Terkait dengan efektivitas penggunaan kapal induk tersebut, Rico mengungkapkan bahwa nantinya kapal itu direncanakan lebih banyak beroperasi untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP) seperti penanggulangan bencana, dukungan pelayanan kesehatan, bantuan kemanusiaan, dan kebutuhan operasi lainnya sesuai tugas TNI AL.
”Dengan kapasitas angkut dan fasilitas yang dimiliki, kehadiran kapal ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan TNI AL tidak hanya dalam aspek pertahanan, tetapi juga dalam merespons kebutuhan kemanusiaan dan kondisi kedaruratan di wilayah kepulauan Indonesia,” pungkasnya.