← Beranda
Tren Aktivitas Gunung Anak Krakatau Menurun, Pakar Universitas Pertamina Ingatkan Erupsi Susulan
Syahrul YunizarSelasa, 8 September 2026 | 02.12 WIB
Tangkapan layar kondisi Gunung Anak Krakatau dalam pantauan CCTV Lava93 milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, KESDM. (Dok PVMBG)

 

 

JawaPos.com - Meski tren aktivitas Gunung Anak Krakatau mulai menurun, masyarakat harus tetap waspada. Potensi erupsi susulan masih ada setelah gunung api di Perairan Selat Sunda itu erupsi selama 25 jam sejak Jumat tengah malam (4/9).

Menurut pakar kebumian dari Universitas Pertamina, Iktri Madrinovella, data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada Minggu (6/9) menunjukkan tren menurunnya aktivitas Gunung Anak Krakatau. Dia menyebut data itu sekaligus menegaskan episode erupsi selama 25 jam telah berakhir.

"Namun status siaga masih tetap diberlakukan hingga beberapa hari ke depan. Masih ada potensi bahaya seperti letusan susulan, hujan abu vulkanik, aliran lava, dan lainnya. Sehingga masyarakat diminta agar tidak beraktivitas pada radius 3 kilometer di sekitar pusat aktivitas gunung," terang dia pada Senin (7/9).

Pakar sekaligus dosen Teknik Geofisika Universitas Pertamina itu menjelaskan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau masuk kategori strombolian. Erupsi ini berupa ledakan relatif ringan dengan ciri khas letusan kecil-kecil, magma encer, dan pelepasan gas secara episodik.

"Hal itu ditandai dengan beberapa kali letusan di Gunung Anak Krakatau sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga Minggu, 6 September 2026 pukul 00.40 WIB," jelasnya.

Dari sudut pandang kebumian, PVMBG memiliki parameter ilmiah untuk memantau gunung api. Iktri menyebut ada 4 tingkatan aktivitas gunung api di Indonesia: Level I (Normal), Level II (Waspada), Level III (Siaga), dan Level IV (Awas).

Selain letusan susulan, yang perlu diperhatikan saat ini adalah abu vulkanik. Iktri menjelaskan abu vulkanik adalah material halus yang terbentuk saat gunung api meletus. Abu ini berisi pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat kecil.

Karena ukurannya sangat kecil dan halus, abu vulkanik bisa terbawa angin hingga ratusan kilometer dari lokasi erupsi. Berdasarkan data, hingga 6 September 2026, abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau menyebar ke arah timur laut-selatan dan berdampak di DKI Jakarta dan Jawa Barat (Jabar).

"Jika terjadi hujan, air hujan dapat mempercepat turunnya abu ke permukaan tanah. Pada kondisi kering, abu akan bertahan lama di atmosfer dan berpotensi terbawa angin lebih jauh," bebernya.

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau juga dapat menyebabkan iritasi dan gangguan pernapasan jika masuk ke saluran pernapasan. Selain itu, abu dapat menimbulkan efek pada tumbuhan dan sumber air, sehingga lingkungan tercemar.

"Abu vulkanik juga dapat mengurangi jarak pandang, mengganggu transportasi dan penerbangan, serta mengotori fasilitas dan peralatan," katanya.

Baca Juga: Bandara Husein Sastranegara Catat 1.365 Penumpang Terdampak Erupsi Gunung Anak Krakatau

Semua itu harus diwaspadai dengan terus mengikuti informasi dari instansi pemerintah seperti PVMBG, BMKG, BNPB, dan BPD. Dia juga menyarankan masyarakat menghindari aktivitas luar ruangan jika terpapar abu pekat, jarak pandang menurun, atau mengalami iritasi mata dan gangguan pernapasan. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan