← Beranda
Istana Ungkap Misi Prabowo ke Rusia: Buka Peluang Ekonomi untuk Indonesia
Muhammad RidwanSelasa, 8 September 2026 | 02.03 WIB
Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin dalam acara Jamuan Santap Siang di Vladivostok, Kamis (3/9). (Istimewa)

JawaPos.com - Istana Kepresidenan mengungkapkan alasan kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia, pada Rabu (2/9). Kunjungan kenegaraam itu dinilai sebagai bagian dari politik luar negeri Indonesia dalam menghadapi perubahan konstelasi global.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari mengatakan, arah tersebut sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang menjadi dasar Indonesia dalam menjalin hubungan dengan negara lain.

“Berdasarkan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri, dalam menjalankan politik luar negeri, Indonesia menganut prinsip bebas aktif yang diabdikan untuk kepentingan nasional,” kata Qodari dalam keterangannya, Senin (7/9).

Baca Juga: Dampak Erupsi Anak Krakatau, 4 Bandara Ditutup Hingga 23.59 WIB

Menurut Qodari, prinsip bebas aktif menuntut Indonesia untuk tidak sekadar menyaksikan perkembangan geopolitik dunia. Indonesia perlu mengambil sikap dan berperan ketika situasi global berkaitan dengan kepentingan nasional.

Kerja sama dengan berbagai negara pun, lanjut dia, diarahkan pada hubungan yang saling menguntungkan. Diplomasi tidak hanya membangun kepercayaan antarnegara, tetapi juga harus mampu memberikan perlindungan terhadap kepentingan Indonesia.

“Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. Indonesia harus hadir, berbicara, dan memperjuangkan kepentingan nasional secara aktif,” ujarnya.

Implementasi pendekatan tersebut terlihat dalam kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Vladivostok, Rusia. Dalam lawatan tersebut, Prabowo hadir sebagai tamu kehormatan sekaligus menyampaikan pidato pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 yang turut dihadiri Presiden Rusia Vladimir Putin.

Qodari menilai, Rusia memiliki posisi penting dalam peta geopolitik global, sekaligus mempunyai potensi besar dari sisi sumber daya alam. Kondisi itu menjadikan hubungan Indonesia-Rusia memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh.

Baca Juga: Ketika Produk Tas dan Jaket Kulit Garut Menjangkau Pasar Internasional

Menurutnya, perjalanan Presiden ke luar negeri tidak semata-mata ditujukan untuk menjalankan agenda protokoler atau diplomasi politik. Setiap pertemuan dan forum internasional diharapkan dapat membuka ruang kerja sama yang berdampak terhadap perekonomian nasional.

“Bagi Presiden Prabowo, setiap agenda kunjungan luar negeri selalu diarahkan sebagai bagian dari upaya mencari solusi, membuka peluang ekonomi, dan membawa manfaat nyata kembali ke Indonesia,” tutur Qodari.

Diplomasi ekonomi menjadi salah satu fokus dalam pendekatan tersebut. Pemerintah berharap terbukanya berbagai peluang kerja sama dapat mendorong masuknya investasi, menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri nasional, serta meningkatkan daya tahan perekonomian Indonesia.

“Semakin besar peluang ekonomi yang dibuka melalui diplomasi, semakin besar pula potensi terciptanya investasi, lapangan kerja, penguatan industri nasional, serta ketahanan ekonomi Indonesia,” ucapnya.

Dalam agenda EEF di Rusia, Prabowo turut mengajak para pelaku usaha internasional melihat peluang investasi di Indonesia. Pemerintah mendorong masuknya modal sekaligus penciptaan nilai tambah di dalam negeri.

Baca Juga: PT Timah Kerahkan 15 Fire Fighter Tangani Karhutla di Kalimantan Barat

Forum ekonomi internasional tersebut dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi Indonesia kepada investor global. Dengan demikian, diplomasi di tingkat internasional diharapkan dapat berlanjut menjadi kerja sama ekonomi yang memberikan dampak langsung bagi perekonomian nasional.

Selain investasi, Prabowo juga mendorong peningkatan hubungan perdagangan antara Indonesia dan Rusia. Salah satu peluang yang disoroti adalah peningkatan nilai perdagangan bilateral apabila kerja sama perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia nantinya resmi diberlakukan.

Kerja sama tersebut dipandang dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi di dalam negeri.

“Langkah tersebut merupakan bagian dari diplomasi Indonesia untuk membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mendorong pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di dalam negeri,” ujar Qodari.

Baca Juga: Terapi Cahaya menjadi Tren Peremajaan Kulit Baru yang ‘Membidik’ Glowing dari Tingkat Sel

Agenda kerja sama Indonesia dan Rusia juga mencakup sektor pangan dan energi. Prabowo mengajak Rusia memperkuat kolaborasi di kedua bidang yang dinilai memiliki kaitan erat dengan ketahanan nasional.

Penguatan kerja sama pangan dan energi menjadi penting di tengah ketidakpastian kondisi global. Kemampuan menjaga ketersediaan pangan dan energi dinilai turut menentukan stabilitas ekonomi serta kemandirian Indonesia.

Qodari menekankan, diplomasi luar negeri tidak dapat dipisahkan dari upaya pemerintah menyelesaikan berbagai persoalan di dalam negeri. Kebijakan luar negeri justru dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat kepentingan nasional.

“Oleh karena itu, bagi Indonesia, mengatasi tantangan di dalam negeri dan memperjuangkan kepentingan nasional melalui diplomasi bukanlah dua hal yang bertentangan,” bebernya.

Dengan perspektif tersebut, prinsip bebas aktif tidak hanya menempatkan Indonesia sebagai negara yang aktif dalam percaturan internasional. Diplomasi juga diarahkan untuk membuka pasar baru, menarik investasi, memperkuat industri nasional, menciptakan lapangan kerja, serta menjaga ketahanan pangan dan energi.

Baca Juga: Analisis: Manchester United Harus Belajar Matikan Harapan Lawan

Ia menekankan, pemerintah menempatkan kepentingan masyarakat sebagai tolok ukur dari setiap langkah diplomasi yang dijalankan Indonesia di tingkat global.

“Bagi pemerintah, masyarakat Indonesia harus menjadi penerima manfaat utama dari setiap upaya diplomasi,” pungkasnya.

EDITOR: Bintang Pradewo