JawaPos.com - Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak 4 September 2026 menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak. Sebaran abu vulkanik telah mencapai sejumlah wilayah di Jabodetabek, Banten, Lampung, hingga sebagian Jawa Barat.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih tinggi. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap kemungkinan dampak abu vulkanik terhadap kesehatan saluran pernapasan.
Abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dengan debu biasa. Material tersebut terdiri atas pecahan batuan, mineral, serta kaca vulkanik berukuran sangat kecil. Partikel yang bersifat tajam dan abrasif tersebut dapat mengiritasi saluran pernapasan ketika terhirup.
Baca Juga: Tips Jaga Kesehatan Dengan Kebiasaan Sederhana, Luangkan Waktu 5 Menit untuk Lakukan ini
Selain partikel padat, abu vulkanik juga dapat disertai gas iritan, antara lain sulfur dioksida (SO₂) dan karbon monoksida (CO). Paparan material dan gas tersebut berpotensi menimbulkan iritasi serta peradangan pada saluran pernapasan.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K), meminta perlindungan terhadap anak menjadi perhatian utama dalam kondisi darurat akibat erupsi.
"Tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa dan masa depan anak-anak kita. Ditengah ancaman abu vulkanik yang nyata, kita wajib mengutamakan perlindungan mereka dengan tindakan preventif yang tegas dan cepat. Jangan menunggu sampai gejala muncul, karena setiap tarikan napas anak kita saat ini adalah investasi untuk kesehatannya di masa depan," kata dr. Piprim dalam keterangannya, Senin (6/9).
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), menjelaskan bahwa anak dapat mengalami sejumlah gangguan pernapasan setelah terpapar abu vulkanik.
"Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya," jelas dr. Wahyuni.
Menurut dia, perhatian lebih harus diberikan kepada anak-anak yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Kelompok tersebut antara lain bayi dengan riwayat displasia bronkopulmonal serta anak yang mengalami penyakit jantung bawaan.
"Kami mengingatkan orang tua untuk tidak menganggap remeh gejala yang muncul. Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94%, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat," ucap Dr Wahyuni.
Untuk mengurangi risiko paparan, UKK Respirologi IDAI menyarankan agar anak diungsikan dari wilayah yang terdampak erupsi jika kondisi memungkinkan. Langkah tersebut dinilai sebagai pilihan paling ideal untuk menjauhkan anak dari sumber paparan abu vulkanik.
Namun, apabila evakuasi tidak memungkinkan dan kualitas udara di sekitar rumah memburuk, anak sebaiknya tetap berada di dalam ruangan. Rumah perlu ditutup rapat agar abu dari luar tidak mudah masuk.
Orang tua juga perlu memperhatikan sistem sirkulasi udara. Peralatan yang memasukkan udara dari luar ke dalam rumah, termasuk pendingin ruangan, sebaiknya dimatikan atau diatur menggunakan mode sirkulasi ulang (recirculation) maupun closed vent.
Penggunaan kipas angin juga perlu dihindari ketika terdapat endapan abu di dalam rumah. Tiupan kipas dapat membuat partikel yang sebelumnya mengendap di lantai maupun permukaan furnitur kembali beterbangan dan berpotensi terhirup anak.
Proses membersihkan rumah pun harus dilakukan secara hati-hati. Anak sebaiknya tidak berada di area ketika pembersihan berlangsung. Orang tua dianjurkan menggunakan kain atau lap basah, atau membasahi terlebih dahulu permukaan yang hendak dibersihkan sehingga abu tidak mudah beterbangan.
Ia menekankan, jika anak harus meninggalkan rumah, orang tua dianjurkan menggunakan masker khusus anak bagi mereka yang berusia lebih dari 2 tahun. Masker harus terpasang dengan benar dan anak perlu diajarkan cara menggunakannya.
Perlindungan juga diperlukan terhadap mata dan kulit. Anak dapat menggunakan kacamata sebagai pelindung mata serta pakaian tertutup untuk mengurangi kontak langsung antara abu vulkanik dengan kulit.
Bagi anak yang memiliki asma atau alergi pada saluran pernapasan, obat-obatan rutin perlu dipersiapkan. Orang tua juga diminta menghindarkan anak dari sumber polusi lain di dalam rumah, seperti asap rokok dan asap dapur, karena dapat memperburuk iritasi saluran pernapasan.
Asupan cairan juga tidak boleh diabaikan. Anak perlu mendapatkan cukup air minum untuk mencegah dehidrasi. Pemenuhan makanan bergizi seimbang juga penting untuk membantu menjaga kondisi tubuh anak selama menghadapi paparan polusi udara.
Berikut 13 rekomendasi UKK Respirologi IDAI untuk melindungi anak dari paparan abu vulkanik:
1. Mengungsikan anak menjauhi lokasi yang terkena dampak letusan sebagai pilihan paling ideal.
2. Tetap berada di dalam rumah dengan kondisi tertutup rapat ketika kualitas udara buruk, yaitu lebih dari 100 pada ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara), yang dapat dipantau melalui situs pemantau kualitas udara.
3. Menjauhkan anak dari area ketika proses pembersihan abu berlangsung.
4. Saat membersihkan rumah, gunakan lap atau kain basah. Lantai atau objek yang hendak dibersihkan juga dapat dibasahi terlebih dahulu agar debu tidak beterbangan.
5. Mematikan peralatan yang menghisap udara dari luar ke dalam rumah, seperti AC, kemudian menggunakan mode air recirculation atau closed vent.
6. Tidak menyalakan kipas angin karena dapat membuat partikel abu yang mengendap di lantai atau furnitur kembali beterbangan dan terhirup.
7. Menggunakan masker khusus anak untuk anak berusia lebih dari 2 tahun serta memastikan masker terpasang dengan baik.
8. Memberikan perlindungan mata, misalnya menggunakan kacamata anak.
9. Memakaikan pakaian tertutup untuk mengurangi kontak langsung abu dengan kulit anak.
10. Menyiapkan obat-obatan rutin bagi anak yang memiliki riwayat asma atau alergi saluran napas.
11. Menjauhkan anak dari sumber polusi tambahan di dalam rumah, termasuk asap rokok dan asap dapur.
12. Memastikan anak mendapatkan cukup asupan cairan untuk mencegah dehidrasi.
13. Segera membawa anak ke rumah sakit apabila mengalami tanda gangguan pernapasan, seperti laju napas meningkat, adanya tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen berdasarkan pengukuran dengan oksimeter jari.