JawaPos.com - Presiden Prabowo Subianto menyelesaikan kunjungan ke Rusia dan tiba di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (5/9) dini hari.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, dan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menyambut kedatangan Presiden di bawah tangga pesawat.
Prabowo memenuhi undangan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin untuk menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, sebagai tamu kehormatan utama.
Baca Juga: Buku Berjudul Islam ala Prabowo Resmi Diluncurkan Ketua Umum MUI dan Ketua Baznas
Selama berada di Vladivostok, Presiden Prabowo melakukan sejumlah agenda, termasuk pertemuan bilateral dengan Presiden Vladimir Putin.
Dalam pertemuan tersebut, Putin menyebut Indonesia sebagai salah satu mitra utama Rusia di kawasan Asia-Pasifik.
Presiden Prabowo juga menyampaikan pidato pada EEF ke-11 sebagai tamu kehormatan utama. Forum tersebut mempertemukan pejabat pemerintah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan ekonomi dari Rusia serta berbagai negara.
Baca Juga: Terbitkan Inpres 11 Tahun 2026, Presiden Prabowo Gandeng Masyarakat Adat Mitigasi Karhutla
Prabowo menyampaikan pandangan Indonesia mengenai peluang kerja sama dengan Rusia dan kawasan Eurasia, termasuk pentingnya memperkuat konektivitas melalui kawasan Pasifik.
”Samudra Pasifik tidak memisahkan kita. Samudra Pasifik menghubungkan kita. Bukan tembok di antara kita. Samudra Pasifik harus menjadi jalan raya antara dua perekonomian kita,” ujar Presiden Prabowo dilansir dari Antara.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan Indonesia dan Rusia, terutama dalam bidang ekonomi, perdagangan, investasi, dan konektivitas.
Semantara itu, Deputy IV Badan Komunikasi (Bakom) RI Ulta Levenia mengingatkan publik agar tidak mudah mempercayai narasi yang menyebut Presiden Prabowo Subianto kabur ke Rusia saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Menurut dia, penilaian terhadap kebijakan Presiden harus didasarkan pada fakta dan kronologi yang utuh, bukan potongan informasi yang dapat membentuk persepsi menyesatkan.
”Jangan mudah percaya framing sepotong. Cek dulu kronologinya. Kritik terhadap pemerintah tentu sah, tetapi kritik harus dibangun di atas data dan fakta yang lengkap,” kata Ulta Levenia di Jakarta, Minggu (6/9).
Baca Juga: Prabowo Tegaskan Rusia Mitra Penting Indonesia, Dorong Penguatan Kerja Sama Strategis
Ulta menjelaskan, saat situasi karhutla memanas, Presiden justru turun langsung ke lapangan.
Pada 22 Agustus 2026, Presiden mengunjungi Kubu Raya, Kalimantan Barat, untuk melihat langsung wilayah terdampak kebakaran.
Setelah itu, Presiden memimpin rapat penanganan karhutla di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Baca Juga: Eks Gubernur Sultra Nur Alam Minta Prabowo Pisahkan Politik dan Bisnis SDA
Dalam rapat tersebut, kata Ulta, Presiden memperjelas pembagian komando penanganan karhutla dengan melibatkan TNI dan Polri berdasar wilayah.
Panglima TNI dan Kapolri menangani Kalimantan Barat, KSAD bertanggung jawab di Kalimantan Tengah, sedangkan KSAL memimpin penanganan di Kalimantan Selatan.
Ribuan personel, pesawat, helikopter, kendaraan pemadam kebakaran, serta alat berat dikerahkan untuk mempercepat pengendalian api.
Baca Juga: Kunjungan ke Rusia, Prabowo Bahas Kerja Sama Pupuk hingga Perkapalan dengan Vladimir Putin
”Presiden tidak datang sekadar untuk melihat kondisi di lapangan, tetapi memastikan mesin penanganan berjalan, rantai komando terbentuk, dan seluruh sumber daya negara bergerak,” ujar Ulta Levenia.
Ulta menambahkan, berdasar data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi), titik panas mencapai puncaknya pada 29 Agustus 2026. Setelah itu, tren hotspot menunjukkan penurunan.
Pada 1 September pagi, Presiden masih menerima laporan penanganan karhutla dari Panglima TNI dan Kapolri.
Pemerintah juga mengirim tambahan 100 unit mobil pemadam kebakaran dan 15 ekskavator ke wilayah terdampak.
Baca Juga: Loyalis Usulkan Sandiaga Uno Masuk Kabinet Prabowo, Dinilai Bisa Dongkrak Ekonomi
Presiden baru bertolak ke Rusia pada malam hari untuk menghadiri forum ekonomi internasional di Vladivostok.
”Presiden berangkat setelah sistem penanganan berjalan dan komando di lapangan sudah terbentuk. Beliau tidak meninggalkan penanganan karhutla, tetapi menjalankan tugas negara yang juga penting bagi kepentingan nasional,” tandas Ulta.
Menurut Ulta, kunjungan Presiden ke Vladivostok bukan sekadar agenda diplomatik biasa.
Baca Juga: Prabowo ke Rusia, Jadi Tamu Kehormatan Utama Eastern Economic Forum
Presiden membawa sejumlah kepentingan strategis Indonesia, mulai dari penguatan perdagangan bilateral, percepatan perjanjian dagang dengan Eurasian Economic Union (EAEU), kerja sama pupuk, benih unggul, energi, hingga pembukaan akses pasar baru bagi produk Indonesia.
Dia menegaskan penderitaan masyarakat akibat karhutla tidak seharusnya dijadikan bahan untuk memperbesar polarisasi politik atau membangun persepsi negatif yang tidak ditopang oleh data.
”Koreksilah pemerintah dengan fakta, kritiklah Presiden dengan data. Negara ini terlalu besar untuk dipertaruhkan demi kepentingan sesaat atau sekadar mengejar perhatian publik,” ucap Ulta.
Baca Juga: Korupsi Masalah Utama Bangsa, Prabowo Diminta Segera Tuntaskan