JawaPos.com - Sebanyak enam gunung api di Indonesia tercatat mengalami erupsi dalam waktu yang berdekatan.
Fenomena tersebut terjadi di sejumlah wilayah, mulai dari Sumatera, Jawa, Maluku dan Nusa Tenggara.
Enam gunung api yang mengalami erupsi tersebut yakni Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ile Lewotolok di Nusa Tenggara Timur (NTT), Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM menjelaskan, erupsi secara bersamaan tidak menunjukkan adanya sistem geologi yang menghubungkan keenam gunung tersebut.
Baca Juga: 301 Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Terdampak Erupsi Gunung Anak Krakatau
Aktivitas masing-masing gunung berlangsung berdasarkan dinamika vulkaniknya sendiri.
Kepala PVMBG Rita Susilawati mengatakan, Indonesia memang memiliki kondisi geologi yang memungkinkan aktivitas vulkanik terjadi secara bersamaan.
Sebab, Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire dan memiliki 127 gunung api aktif.
"Kalau bahasa sederhananya dapurnya itu masing-masing, dapurnya itu sendiri-sendiri, begitu ya, dan proses menuju erupsi antara satu gunung dengan gunung yang lainnya itu juga berbeda-beda. Kami tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu seluruh erupsi tersebut secara bersamaan," kata Rita dalam keterangannya, Minggu (6/9).
Rita juga mengungkapkan, aktivitas vulkanik pada satu gunung tidak secara otomatis berkaitan dengan letusan yang terjadi di gunung api lainnya.
Baca Juga: Abu Anak Krakatau Hujani Jakarta, Pramono Anung Minta Warga Lakukan 5M
Setiap gunung memiliki karakteristik, sistem magma, serta proses peningkatan aktivitas yang berbeda.
Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menyimpulkan bahwa gempa tektonik menjadi penyebab terjadinya erupsi.
Menurutnya, keterkaitan antara gempa dan peningkatan aktivitas gunung api harus dibuktikan melalui data pemantauan vulkanik.
Indikator tersebut antara lain berupa peningkatan kegempaan dalam, perubahan atau deformasi tubuh gunung, serta perubahan suhu dan pelepasan gas vulkanik.
Data-data itu menjadi dasar bagi PVMBG dalam menilai perkembangan aktivitas gunung api.
Baca Juga: LRT Beroperasi Normal Meski Abu Vulkanik Anak Krakatau Guyur Jabodetabek
Di tengah rangkaian erupsi tersebut, status Gunung Sinabung di Sumatera Utara mengalami peningkatan.
PVMBG menaikkan status gunung tersebut dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sejak 31 Agustus 2026 pukul 12.00 WIB.
Kenaikan status tersebut dilakukan setelah Gunung Sinabung mengalami erupsi dengan kolom abu mencapai sekitar 3.500 meter di atas puncak.
Masyarakat diminta mengikuti rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan untuk menghindari kawasan rawan bencana.
Sementara itu, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda hingga kini masih berstatus Level III (Siaga). Status tersebut telah diberlakukan sejak 2 Juli 2026.
Baca Juga: Daftar 4 Bandara yang Ditutup Sementara Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau
Pada 31 Agustus 2026, gunung tersebut kembali mengalami erupsi dengan kolom abu mencapai sekitar 200 meter di atas puncak.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau turut memunculkan kekhawatiran masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung, terutama terkait kemungkinan terjadinya tsunami.
Menanggapi hal itu, PVMBG meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi.
Erupsi dengan skala kecil di Gunung Anak Krakatau tidak serta-merta menyebabkan tsunami.
Potensi tsunami sangat bergantung pada kondisi dan mekanisme aktivitas gunung, sehingga pemantauan terus dilakukan oleh lembaga terkait.
Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi, Pengamat: Masyarakat Harus Bersyukur Bandara Ditutup
Meski demikian, masyarakat tetap diminta mematuhi seluruh rekomendasi PVMBG dan menjauhi kawasan yang dinyatakan berbahaya.
Untuk Gunung Sinabung, warga dilarang memasuki radius tiga kilometer dari puncak serta radius enam kilometer pada sektor selatan-tenggara.
Selain ancaman erupsi dan guguran material vulkanik, masyarakat di sekitar Gunung Sinabung juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar hujan, terutama di sepanjang aliran sungai yang berhulu di kawasan gunung tersebut.