JawaPos.com - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat di wilayah terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah sementara waktu.
Imbauan ini disampaikan sebagai langkah pencegahan berbagai gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik, terutama pada saluran pernapasan, mata, dan kulit.
Budi meminta masyarakat tidak panik menghadapi kondisi tersebut. Namun, ia mengingatkan masyarakat tetap waspada dan menjaga kesehatan dengan membatasi paparan langsung abu vulkanik.
"Pencegahannya bagaimana? Kalau tidak ada kegiatan yang mengharuskan untuk keluar, usahakan itu tetap di dalam rumah," kata Budi dalam konferensi pers, Minggu (6/9).
Menurut Budi, abu vulkanik yang terhirup dapat mengganggu sistem pernapasan. Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak dianjurkan tetap berada di dalam rumah selama tidak ada keperluan mendesak.
Bagi warga yang harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker adalah salah satu langkah perlindungan untuk mengurangi risiko partikel abu masuk ke saluran pernapasan.
Jika mulai mengalami keluhan pada pernapasan, masyarakat diminta segera mendapatkan penanganan medis.
"Kalau sudah merasa tidak enak pernapasannya, segera ke puskesmas terdekat. Kita sudah men-deploy alat-alat nebulizer dan juga oksigen konsentrator," ujarnya.
Selain saluran pernapasan, paparan abu vulkanik juga berpotensi menyebabkan gangguan pada mata. Budi menyebut mata dapat mengalami rasa gatal hingga iritasi ketika terkena partikel abu.
Karena itu, warga yang terpaksa keluar rumah disarankan menggunakan kacamata sebagai pelindung.
Apabila abu masuk ke mata dan menimbulkan gangguan, masyarakat diminta tidak menguceknya, melainkan segera membersihkan mata menggunakan air.
"Jadi kalau sudah kena (abu), treatment-nya seperti apa? Jangan dikucek-kucek, bersihkan pakai air, dan kalau perlu, pakai obat tetes mata. Bisa segera ke Puskesmas, karena semua Puskesmas sudah kita sediakan obat tetes mata," tutur dia.
Paparan abu vulkanik juga dapat berdampak pada kulit. Kontak langsung dengan partikel abu berpotensi menimbulkan rasa gatal maupun iritasi.
Masyarakat yang mengalami keluhan pada kulit dianjurkan segera membersihkannya dengan air secara hati-hati.
Budi juga meminta warga mendatangi fasilitas kesehatan apabila gangguan pada kulit semakin parah. Pemerintah telah menyiapkan obat untuk membantu menangani keluhan tersebut di puskesmas.
"Kalau nanti ternyata sudah ada dampaknya, seperti gatal-gatal, kalau kulitnya merasa tidak enak, itu bisa ke Puskesmas. Kita akan deploy salep kulit ke Puskesmas," jelas dia.
Di sisi lain, Kementerian Kesehatan telah mengaktifkan Health Emergency Operating Center di sejumlah wilayah terdampak.
Langkah tersebut memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan layanan kesehatan menghadapi dampak abu vulkanik.
Kementerian Kesehatan juga akan menerbitkan surat edaran yang memuat panduan penanganan kesehatan bagi tenaga medis di kabupaten dan kota terdampak.
Panduan tersebut diharapkan menjadi acuan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
"Sekali lagi, jangan panik, tetap di rumah dan tetap sehat," pungkasnya.